Catatan Tahunan PPDB


Jumpa Pers tentang Pengumuman Hasil Jalur Akademik di Pendopo Walikota Bandung, 4 Juli 2016

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2016 Kota Bandung, katanya sudah usai. Katanya, loh! Karena besok sudah mulai daftar ulang bagi siswa yang diterima di jalur akademik. Jalur non-akademik, mah, malah sudah duluan. Duluan menyisakan masalah juga. Katanya.

Tapi, saya malah baru menulis OPINI saya, sekarang ini. Ya, sekarang ini. Karena memang sempatnya sekarang, sih! Seperti orang kebanyakan, saya ini juga perlu mudik, refreshing, dan menyimpan pekerjaan di laci dulu, lah!

Selain karena baru sempat, saya pikir tulisan saya memang diprioritaskan untuk konsumsi saya. Catatan tahunan saya, mungkin. Karena PPDB ini tiap tahun. Dan, dua tahun ini, saya terlibat di dalamnya.

Tahun lalu, kebanyakan jadi peliput. Dan keterlibatan saya baru sebatas, memindahkan kisah orang ke tulisan. Tapi tahun ini, saya sempat jadi ‘pelaku’. Saya, sekali saja, mewakili kakak sepupu saya mendaftarkan anaknya di jalur non-akademik. Kebetulan, kakak saya yang guru itu, menjadi panitia PPDB juga di sekolahnya. Sehingga, sulit membelah diri guna mengantarkan anaknya mendaftar. Karena sekolah yang dipilih cukup jauh dari rumah, keponakan saya gagal di SMAN 3 Bandung. Tapi saat bertarung di jalur akademik, ia lolos menjadi siswa di SMAN 4 Bandung. Masuknya itu asli karena nilai si anak, loh!

Nah, nilai yang enggak asli itu yang gimana?

Kalau di jalur akademik, yang enggak asli itu kalau si anak Nilai Ujian Nasional (NUN) tidak memenuhi passing grade. Tapi kok, dia diterima? Walahualam!

Begini, ya, konon, tiap penerimaan siswa baru selalu ada kisah siswa siluman. Eh, kalau menyebut siswa siluman, nanti ada yang tersinggung. Tapi, bener, kok, namanya tidak ada dalam penerimaan. Tapi, tapi, tapi, dia bisa daftar ulang. Kalau ngomong ulang, berarti sebelumnya dia pernah daftar. Tapi, daftar kemana?

Konon juga, si siswa siluman ini masuk tanpa menambah kuota sekolah loh! Jadi anak mana yang digantikan? Itu juga saya tidak tahu.

Konon, yang begini ini bisa bikin panas para aktivis pendidikan dan orang tua yang bersusah payah menempuh jalur legal. Katanya, di media, yang juga saya tulis, tidak akan ada titip-titipan. Semua dilakukan oleh sistem, oleh mesin, dan sulit tidak diintervensi. Apalagi sistem ini secara daring, sehingga bisa dipantau semua orang secara transparan.

Tapi kenapa pernyataan siswa diterima harus diberikan dalam bentuk kertas? Bukankah pendaftaran dilakukan secara daring, pengumuman juga, maka pernyataan diterima pun baiknya dikirim via surat elektronik saja. Paperless!

Diberikan dalam bentuk kertas, berarti dibuat oleh manusia bukan mesin. Berarti ini diintervensi oleh manusia. Masak pendaftaran dan pengumuman online tapi pernyataan diterima offline. Terus, kalau memang hanya daftar ulang kenapa tidak sekalian online? Jadi tidak perlu ada kontak fisik yang nantinya bisa berujung kontak uang.

Kemudian berbicara tentang siswa titipan itu, ya sudah dilegalkan. Sekalian jadikan lahan pendapatan asli daerah. Toh, sudah banyak yang beranggapan bahwa pendidikan kualitas yang tinggi itu yang mahal. Jadi bila ada yang beranggapan bisa masuk sekolah favorit dengan uang, maka realisasikan.

Bukankah setiap tahun, selalu ada kisah kursi yang tersisa. Entah ditinggal siswa yang diterima atau memang kurang siswa dari jalur lain. Lelang saja kursi-kursi itu.

Saya masih ingat, dulu ada cerita di tingkat Diploma 3, bahwa mahasiswa yang akan diterima itu yang paling besar sumbangan dana pembangunannya. Nah, diterapkan saja itu. Lebih transparan dan jelas uangnya masuk kemana. Misalnya, ada 100 kursi yang dilelang dengan harga minimal Rp 10 juta. Bila semua terjual, akan ada Rp 1 miliar uang untuk pembangunan. Pakai deh buat bangun sekolah baru. Lebih maslahat kan?

Daripada kayak sekarang, yang isunya sembunyi-sembunyi terima siswa titipan yang entah anak siapa. Entah ada duitnya, entah masuk kantong siapa. Akibatnya malah jadi “ongkoh dipoyok tapi dilebok”. Lebih berbahaya yang kayak begini. Manusia tidak beradab.

Terus yang nitip itu, dipikir tidak sih dampaknya untuk siswa yang dititipkan?

Ketika ada yang nanya atau ketahuan NUN tidak sesuai dengan passing grade, itu anak, saya yakin akan tersiksa batinnya. Ia merasa bersalah. Lalu, ia akan melampiaskannya pada hal negatif. Orang tua akan menyalahkan siapa? Pergaulan?

Ingat, orang tua yang memaksa mencari jalan pintas untuk anak. Jalan pintas yang mungkin tidak membuat anak sampai ke ujung jalan. Jalan pintas yang malah membuatnya tersesat dan terjerumus ke jurang. Semoga Tuhan memberikan pencerahan bagi para penitip itu, ya, kalau itu isunya benar. Maklum selama ini kan, baru gogon (gosip underground), he..he…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s