Hobi Jadi Bisnis? Enggak Gampang!


“Ih, dompet bikinannya bagus. Berapaan?”

“Mau dong tasnya. Ada model yang kayak gimana aja?”

Pertanyaan seperti itu sering banget saya terima ketika orang lain melihat hasil rajutan iseng saya. Bangga? Pasti dong! Karya kita diakui oleh orang lain. 

Tapi ketika ditanya berapa nilai karya kita, jujur, saya bingung. Kerajinan yang saya buat itu sebenarnya bagian dari relaksasi dan mengisi waktu luang. Bagian dari implementasi pelajaran kerajinan yang saya pelajari saat sekolah dasar. Jadi, ketika ditanya berapa harga atas dompet atau tas rajut yang saya buat, saya tidak bisa menentukan saat itu juga. 

Perhitungan itu sungguh berat. Tidak hanya didasarkan pada harga material yang digunakan, atau waktu pengerjaan. Tapi di dalam rajutan yang saya buat itu, ada jiwa saya. Karena saya, selama ini membuatnya bukan karena tujuan ekonomis. Karena saya suka. Jiwa saya itu yang sulit dikonversikan harganya he…he…!

Bila ada orang yang bertanya berapa banyak rajutan saya yang terjual, jawaban saya jauh lebih kecil. Rajutan yang saya buat itu tergantung mood. Bisa saja niatnya bikin tas, jadinya Pouch. Jadi terkadang saya minta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan. Ada loh, yang sudah dua tahun permintaannya dibiarkan. Ya, karena memang belum selesai. 

Diakui, tidak mudah mengubah hobi menjadi bisnis. Menawarkan barang yang kita buat saja sulit. Karena masih ada pikiran, layak enggak sih dijual? Atau harganya kemahalan enggak ya?

Ketika memutuskan hobi menjadi bisnis, kita harus siap dengan tuntutan kontinyuitas. Ada juga tuntutan memenuhi kepuasan pelanggan. Belum lagi kalau pesanannya jumlahnya banyak, sementara pengerjaan dilakukan sendiri. 

Jadi selama ini kebanyakan karya saya, ya, dipakai sendiri. Ada juga sih, yang dipakai teman karena saya sengaja menghadiahkan. Tapi karena hadiah itu, ada juga yang sudah berkali-kali pesan. Senang rasanya! Sekali lagi, bukan karena nilai uangnya. Ditambah lagi, bahwa barang yang mereka pakai itu limited edition. Alias dibuat satu-satunya ketika saya rajin. 

Berbagi ilmu

Hal yang paling menyenangkan lainnya dari merajut adalah ketika bertemu sesama perajut yang sudah sepuh di toko benang. Setiap belanja, saya pasti disapa oleh mereka karena jarang ada yang seumuran saya bergentayangan di toko benang rajut. 

Pertemuan itu meski tidak berlanjut tapi menyisakan bekas. Kami, para penyuka rajut selalu berbagi ilmu merajut. Kebanyakan belajar dari buku rajut. Kalau saya, enggak pintar-pintar belajar dari buku. Tapi kalau dari YouTube, lebih cepat bisa. 

Selain berbagi ilmu, kami juga berbagi lokasi perburuan aksesorisnya rajut. Atau berbagi informasi trik merajut. Saya yang senang merajut Pouch dengan memakai behel terbilang jarang loh! Seringnya berbagi ilmu sama si Cici pemilik toko Benang Aneka di Jalan ABC. 

Sekali lagi, merajut itu memberikan ketenangan batin. Jadi kalau di tas saya tidak ada benang dan hakpen rasanya ada yang hilang. Hoeks! Alay!***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s