Captain America ala Gue


Suara adzan subuh tidak terdengar. Saya yang terlalu pulas tidur atau hujan yang cukup deras disertai angin yang menutup pendengaran saya. Saya tidak tahu. Tapi dua hal yang saya tahu yang membuat saya melompat dari kasur lalu terjaga. 

Hal pertama, angin kencang yang berteman hujan itu dikhawatirkan menggeserkan genting-genting di atap rumah. Sudah dua kali kejadian, ruang kesayangan saya, tempat saya membaca, merajut, dan menulis disiram air bocoran genting. Tidak perlu ada yang ketiga. Tapi kalau pun ada, tak kan ada baju yang akan disetrika yang harus basah. Semua baju hasil cucian saya seminggu ini, sudah dikemas dalam keresek. 

Saya pun memeriksa lantai dengan kaki. Mata dan telinga saya dipertajam untuk mencari titik-titik kebocoran. Dua tangan saya memegang dua baskom layaknya Captain America dengan perisainya. Aha! Saya mendengar dua tetesan berjatuhan dengan tempo yang berbeda. Terdeteksi sudah ada dua titik kebocoran. Pikiran saya kemudian mulai bergerilya, mencari cara agar tidak perlu lagi ada kebocoran. Solusinya: panggil tukang. Urusan yang ini, nanti saja. 

Hal kedua yang membangunkan saya adalah mimpi yang menakutkan. Saya tidak tahu sedang liputan di mana. Tapi dengan jelas saya ingat, saya langsung menyambar kamera. Ah, apesnya, kamera itu lepas dari tangan saya. Brug! Kamera itu jatuh. Saya segera menghambur mengambil kamera lalu mengecek body kamera. Aman, tak ada lecet sedikit pun. Namun saat akan mengecek fungsi memotretnya, tidak jadi karena keburu bangun. 

Saya bisa ingat bagaimana saya depresi ketika menyadari kamera itu jatuh. Itu bukan kamera saya. Itu pinjaman dari suami saya. Kamera yang rela jarang ia pegang agar saya leluasa menggunakannya. Lalu, bukannya menjaga amanat itu, saya malah lalai membiarkannya terjatuh. 

Kamera itu juga senjata bagi saya dan jurnalis lainnya. Kami yang walaupun hanya menulis tetap dituntut mampu memotret. Ketika orang lain memanfaatkan kamera ponsel untuk swafoto, kami harus menggunakannya untuk memotret peristiwa yang dijadikan ilustrasi tulisan kami. 

Tapi saya jarang memanfaatkan kamera ponsel untuk memotret peliputan. Rasanya kurang afdol. Apalagi kalau mesti berjejer dengan para fotografer. Lucunya ketika kamera mereka yang besar dengan moncong yang panjang bersaing dengan kamera ponsel saya yang segede Unyil. Kamera “betulan” lebih mengena digunakan untuk bekerja. 

Berbicara tentang kamera, saya terbilang tidak boros untuk pemakaian kamera DSLR. Baru sekali saya membelinya yaitu Nikon D40. Kamera DSLR saya berikutnya, ya, punya suami ini yang Nikon D90. 

Tapi kalau soal kamera saku, sudah banyak bangkainya. Sejak awal bekerja, saya pernah mencoba dari mulai merek Canon, Kodak, Nikon, sampai Lumix. Karena kemungilannya itu saya simpan di saku, sesuai namanya. Tapi saya sering lupa membiarkan di saku ketika saya melemparkan jaket sepulang kerja. Faktor lain yang menyebabkan kamera saya tewas antara jatuh atau terbanting. 

Lupa bawa kamera, sering membuat saya mati kutu. Atau yang mengesalkan, kamera bawa, tapi baterainya habis. Lupa dicharge. Atau, kamera bawa, tapi memory card tertinggal di card reader yang menempel di komputer. Kelalaian saya yang lain. 

Nah, di era yang serba digital ini, saya berterima kasih pada berbagai kemudahan. Saya mulai ogah membawa laptop karena akan memberatkan beban saya saat bekerja. Kamera berpadu laptop di ransel itu, bikin urat leher kejepit, saudara-saudara. Ada kamera mirrorless yang perawakannya mungil dengan fungsi kamera DSLR, tidak bikin saya tertarik membeli. Mahal! 

Beruntung ada memory card dengan wi-fi yang membuat saya tak perlu bawa laptop, atau ganti kamera. Dia bisa langsung terhubung dengan ponsel. Nyalakan kamera, klik aplikasinya, tring, gambar di kamera muncul di layar ponsel. Tinggal pilih mau simpan yang mana. 

Jadi ketika kemudahan itu sudah begitu banyak, tak perlu lagi memelihara segudang kemalasan. Ha..ha…

Captain America punya perisai sebagai senjata. Kami, para jurnalis punya kamera. Tak ada kamera, mana ada foto Captain America. 

Selamat Hari Pers 2017. 

Tetap Jaya di lapangan. Merdeka!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s