Pendidikan Seks bagi Anak Kecil

*tulisan ini saya salinkan dari Kompas cetak edisi Sabtu, 8 April 2017 pada rubrik Psikologi, asuhan Agustine Dwiputri

Sebagai orang tua yang tinggal di Indonesia, berbicara tentang seks dengan anak merupakan salah satu hal yang benar-benar membuat Anda merasa tidak nyaman. Bagaimana melakukannya agar tidak salah tingkah?

Rasanya beberapa petunjuk yang diberikan Jane C Sacknowitz & Ron Kerner (1998) dalam tulisannya mengenai How to Talk to Children about Sex dapat kita panuti, tentunya tetap disesuaikan dengan kondisi setiap keluarga dengan kekhasannya masing-masing. 

Seks sering menjadi topik yang tidak dibicarakan dengan terbuka, dianggap tabu. Bahkan, antar pasangan yang sudah menikah pun, keterbukaan mereka tentang hal-hal seksual sangatlah beragam. Pertanyaan saya adalah dari mana anak-anak kita mendapatkan pengetahuan yang paling benar dan aman, dalam arti tidak menyesatkan, mengenai suatu subjek atau topik kehidupan yang penting ini, jika bukan dari orang tuanya sendiri? Mungkin orang tua dapat membelikan buku-buku yang membahas subyek ini jika merasa tidak sanggup menyampaikannya sendiri. Namun, rasanya tetap perlu jika kemudian mendiskusikannya bersama.

Menurut Sacknowitz & Kerner, seksualitas merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang manusia dan seharusnya menjadi bagian alami dari proses pengasuhan seperti halnya kita berkembang bersama dengan anak-anak kita. 

Kesehatan reproduksi

Di Indonesia, pakar di bidang Keluarga Berencana menggunakan istilah yang dipandang lebih dapat diterima dalam lingkungan budaya kita, yaitu pendidikan kesehatan reproduksi. Sebagai pendidik kesehatan reproduksi, orang tua diajak untuk menentukan hal-hal yang merupakan fakta dan mana yang fiksi, kita juga harus menentukan sikap dan nilai-nilai kita sendiri tentang seks. Pemahaman sejak dini mengenai hal ini diharapkan juga membantu anak berkembang menjadi pribadi dewasa yang menghargai tubuh, seksualitas, dan dirinya sendiri. 

Bagaimana kita memberi tahu anak-anak kita tentang kesehatan reproduksi, apa yang kita katakan kepada mereka dan kapan kita memberi tahu mereka, bergantung pada perasaan dan sikap kita yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kepribadian kita serta reaksi timbal balik dengan anak sendiri.

Kapan dimulai?

Sacknowitz & Kerner mengatakan bahwa saat bayi memasuki dunia ini, mereka adalah makhluk seksual. Hal pertama yang orang tua ingin tahu adalah apakah bayinya perempuan atau laki-laki. Kemudian, pikirkan berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk memegang, memeluk, menyentuh, memberi makan, memandikan dan membersihkan sang bayi, yang akan membentuk tugas-tugas perawatan dasar selama Berhari-hari dan bulan pertama kehidupannya. Semua tugas ini memberi anak Anda suatu perasaan awal tentang keselamatan, keamanan, dan rasa cinta. Anak belajar untuk memenuhi kebutuhan tersebut, paling awal dengan menangis ketika merasa lapar, basah, atau sakit. Mereka belajar cara mendapatkan kepuasan dan kegembiraan. Mereka belajar apa yang menyenangkan dan apa yang tidak. 

Anak belajar

Anak-anak sejak awal kehidupan telah belajar dengan apa yang mereka lihat dan rasakan di rumah mereka. Ketika ibu atau ayah saling memberikan pelukan, atau ketika anak-anak berpelukan di pangkuan orang tua, mereka belajar tentang kehangatan, keamanan, dan kenyamanan akan kasih sayang secara fisik.

Kesehatan reproduksi adalah bagian alami dari pengalaman awal anak balita. Mandi, latihan buang air kecil dan besar (toilet training), serta kebersihan pribadi merupakan bagian terpadu dari pengalaman awal anak di rumah. Bagaimana kebiasaan dan tugas sehari-hari ditangani akan memberikan kesan abadi kepada anak-anak dan perasaan mereka tentang diri sendiri ataupun tubuh mereka. 

Anak laki-laki dan perempuan buang air kecil dalam posisi yang berbeda dan ini diajarkan selama masa anak balita. Membujuk, mendukung, dan membimbing anak dalam masa belajar ini akan memastikan berkembangnya rasa percaya diri dan kompetensi pada anak. Masa ini adalah waktu yang tepat bagi anak-anak untuk mulai berkreatifitas dengan orang tua sesama jender/jenis kelamin dan memahami suatu hari, dia akan tumbuh menjadi seorang pria atau wanita dewasa.

Keingintahuan

Anak-anak memiliki segudang pertanyaan begitu mereka menjadi ingin tahu tentang kesehatan reproduksi. Acap kali, orangtua dikejutkan oleh pertanyaan tentang bagaimana awal kehidupan seseorang atau bagaimana bayi lahir. Dalam menanggapinya, penting untuk diingat bahwa penjelasan yang sederhana tetapi jujur adalah yang terbaik. Anak Anda menginginkan jawaban segera, bukan kuliah panjang lebar. Rentang perhatian anak kecil masih pendek dan biasanya puas dengan komentar singkat. Misalnya, anak usia 3 tahun mungkin telah puas dengan penjelasan bahwa bayi tumbuh di perut ibu dan keluar melalui jalan khusus ketika bayi sudah siap lahir.

Jadi, menjawab lah secara langsung dan terus terang, sesuaikan respons Anda dengan usia dan tingkat pemahaman anak.

Sikap Anda terhadap pertanyaan anak tentang kesehatan reproduksi sama pentingnya dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Jika Anda menghindari pertanyaan, berpura-pura tidak mendengarnya atau menegur anak karena bertanya, Anda menciptakan situasi anak belajar untuk tidak bertanya. Pesan Anda adalah bahwa ada sesuatu yang saya dengan bertanya hal-hal semacam itu; mereka bisa menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan mereka atau tubuh mereka. Sambutlah pertanyaan tersebut sebagai bagian alami dari kehausan anak akan pengetahuan.

Beberapa petunjuk 

Berikut saya ambilkan beberapa hal yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi pertanyaan anak balita kita seputar kesehatan reproduksi. 

– Jujur, menjawab apa yang Anda bisa, sederhana dan dengan santai tetapi serius.

– Jangan takut mengatakan, “Saya tidak tahu”. Anda selalu dapat memberi tahu anak bahwa Anda akan membicarakan masalah itu nanti dan ada waktu untuk memikirkan bagaimana Anda ingin menjawab.

– Gunakan bahasa yang benar, bukan dengan istilah/kiasan yang sering digunakan masyarakat awam, seperti “burung” untuk penis. Jangan takut menggunakan bahasa yang tepat secara anatomis untuk menggambarkan bagian tubuh dan fungsi seksual. 

– Yakinkan dan dorong rasa ingin tahu anak. Belajar tentang tubuh kita dan diri kita sendiri merupakan bagian terpadu dari pengembangan harga diri yang positif.

– Tampilkan sikap positif. Perasaan Anda tentang seks akan tersampaikan kepada anak dan akan mempengaruhi sikap bahwa ia sedang berkembang. 

– Bina keterbukaan komunikasi. Setiap saat, anak-anak perlu tahu bahwa mereka dapat bertanya, berdiskusi, dan berbagi dengan orang tua tentang sejumlah isu dan perasaan yang penting.

– Perasaan, sikap dan nilai-nilai tentang seksualitas sering disampaikan secara nonverbal. Waspadai apa yang Anda lakukan serta apa yang Anda katakan karena anak akan menangkapnya. (*)