Perempuan Hamil dan Grab

Ini bukan kisah saya. Ini kisah teman saya. Pengalaman dia menjadi penumpang mobil berbasiskan aplikasi.

Teman saya ini, kebetulan tengah hamil. Bulan ini menginjak ke sembilan. Kalau kata orang tua, ‘bulan alaeun’. Sejak usia kandungan menginjak tujuh bulan, teman saya sudah menghindari berkendara dengan sepeda motor. Berbahaya, kata bidannya.

Ia pun semakin akrab dengan mobil berbasiskan aplikasi. Ia berlangganan Grab. Alasannya, selain murah, banyak promonya. Ya iya, potongan harganya bisa sampai Rp 10.000. Ditambah lagi, nyaman. Gak perlu takut kepanasan dan kebasahan air hujan.

Satu hari, ketika ia berkendara dengan Grab, sopirnya seorang mahasiswa. Teman saya agak kaget karena si sopir yang kaget melihat perut teman saya itu. Rupanya ia baru saja mendapatkan pengalaman yang tidak akan mungkin dilupakan. Pengalaman yang membuat ia sedikit paranoid bertemu dengan perempuan yang hamil tua.

“Tadi saya mengantar ibu hamil juga. Dan hampir melahirkan di mobil,” si sopir Grab mengawali kisahnya.

Meski sudah ada taksiran lahiran oleh dokter, tapi lahiran bisa kapan saja, di mana saja. Seperti perempuan tadi, yang merasa air ketubannya pecah sehingga ia harus segera diantarkan ke rumah sakit.

Bagi si sopir yang masih mahasiswa dan belum pernah berhadapan dengan perempuan yang akan melahirkan, ini menjadi hal yang berat. Ia ikut panik. Padahal pikirannya harus jernih dan mengingat di mana rumah sakit terdekat.

Beruntung posisi terakhir kendaraan ada di Jalan Braga pendek sehingga penumpang tidak perlu lama berada dalam kendaraan. Setelah penumpang diantarkan ke Rumah Sakit Bungsu, panik si sopir tak juga hilang. Malahan kekhawatiran yang sama muncul ketika teman saya yang juga hamil tua menjadi penumpangnya. Keberuntungan yang beruntun.

Cuti melahirkan

Perempuan hamil bekerja, bukanlah pemandangan asing sekarang. Setiap perusahaan memang memberikan hak cuti hamil atau tepatnya melahirkan selama tiga bulan. Tapi jarang ada perempuan hamil yang mengambil cuti di usia kandungan kurang dari tujuh bulan. Kalau pun ada, disebabkan kondisi tertentu.

Sebagian besar perempuan akan mengambil cuti menjelang kelahiran. Alasannya, mereka ingin lebih lama bersama bayi yang baru dilahirkan. Cutinya saja tiga bulan. Jauh dari usaha memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan. Tidak heran bila setelah bekerja, ibu menyusui akan diburu waktu menyiapkan persediaan ASI bagi bayinya selama ditinggali kerja.

“Bekerja pun tidak hanya membawa satu tas karena ada tas lain berisikan pompa ASI dan botolnya,” seperti yang saya jalani bersama dua anak saya.

Perempuan pekerja saat ini memang tidak bisa banyak berharap pada peraturan dan perusahaan. Mereka terpaksa berupaya menyiapkan yang terbaik bagi anak-anak dan keluarga.

Persiapan

Perempuan hamil tua yang bersikeras tetap bekerja memang harus lebih ekstra menjaga dirinya. Apalagi saat kemana-mana sendirian. Banyak hal yang disiapkan berkaitan persalinan karena tidak tahu kapan bayi akan keluar.

1. Selalu membawa catatan kehamilan dari dokter.

2. Di panggilan cepat, nomor utama adalah keluarga terdekat. Agar ketika terjadi hal mendadak, orang yang menolong dapat segera menghubungi keluarga.