Sampai Maut Memisahkan…


 

IMG_7792Sebulan lalu.
Sepasang suami istri duduk bersama sambil menerawang masa depan mereka. Di rumah kontrakan mereka, yang sempit itu, mereka hidup bersama dua anak perempuannya. Belum 10 tahun perkawinan yang diarungi tapi evaluasi untuk perbaikan hubungan perkawinan telah jadi bahasan keduanya.
Tiba-tiba sang suami berkata bahwa ia telah memutuskan berhenti berjualan. Ya, selama ini pasangan ini menafkahi keluarganya bahu-membahu. Sang suami menjadi tukang pijat panggilan dan pekerjaan apa pun yang dibutuhkan orang sepanjang itu halal. Istrinya di rumah membantu si suami dengan membuka kedai bakso. Sebagai tambahan untuk menopang keuangan keluarga, si istri berjualan pakaian secara online.
Menjadi tukang pijat panggilan, tentunya, dengan penghasilan yang tidak tentu. Ketika tidak ada panggilan, si suami bekerja sama dengan istrinya melayani pelanggan bakso. Tapi di tengah pembeli yang kian ramai, si suami memutuskan untuk menutup kedainya.
Segala keperluan berjualan bakso sudah dikemasi. Keputusannya bulat. “Tidak lagi berjualan,” ucapnya tegas.
Sang istri heran tidak terkira. Kalau tidak berjualan, akan bekerja apa untuk menghidupi keluarga, pikirnya. Tapi, segala macam cara tidak akan mampu menghentikan keputusan suaminya untuk “menggantungkan buleng bakso”.

Dua minggu kemudian.
Kembali sepasang suami istri itu duduk bersama dengan pembicaraan yang jauh lebih serius.
“Mah, Bapa minta maaf ya.”
“Kenapa atuh, Pa?”
“Bapa belum sanggup membahagiakan Mamah. Belum sanggup membelikan rumah untuk Mamah dan anak-anak. Belum bisa membelikan harta benda seperti suami-suami lain.”
Si istri tersenyum, tanda ia tidak mempermasalahkan apa yang dibicarakan suaminya. Sang suami melanjutkan perkataannya.
“Mamah, di antara kita, siapa yang meninggal duluan ya? Mamah atau Bapa?”
Ah, Bapa ngomongnya kemana aja!”
“Mending Bapa aja yang meninggal duluan. Kalau Mamah yang duluan, Bapa gak bisa urus anak-anak. Ya Mah, Bapa aja yang duluan!”
“Apa sih? Suka ngaco omongannya.”
“Kalau Bapa meninggal duluan, Bapa pengen dimandiin sama Mamah. Janji ya.”

Malam Idul Adha.
Pasangan suami istri itu hendak mudik ke rumah orang tua si istri. Seperti biasanya, suami pamit pada ibu yang biasa ia panggil Eyang. Dalam pelukan Eyang, si suami berbisik memohon maaf. Pelukannya kian erat. Pelukan yang dinilai si Eyang berlebihan.
Setelah Isya, berangkatlah keluarga kecil itu menggunakan elf ke Majalengka. Sepuluh menit menjelang mereka tiba di titik terakhir, si istri menghubungi keluarganya bahwa ia dan keluarganya akan segera tiba.
Namun, itu jadi sepuluh menit terpanjang. Elf yang mereka tumpangi mendadak oleng. Tubuh kendaraan melayang, menerobos batas jalan hingga terjun ke lereng terjal. Penumpang terlempar ke luar kendaraan. Hanya si istri dan sopir yang tersisa di kendaraan yang tersangkut di pohon cengkeh. Suami dan dua anaknya entah dimana.
Tangannya terjepit kursi kendaraan. Mungkin ada patah tulang. Si istri berteriak minta tolong. Rupanya, di bawah lereng itu, ada pemukiman warga. Semua korban dibawa ke RSUD Majalengka.
Di antara mereka, hanya si anak bungsu yang mengalami luka paling ringan. Si suami, koma dan tidak tertolong. Si anak cikal juga koma. Saat elf terbang dan melemparkan penumpang-penumpangnya, si cikal dalam pelukan si Bapa. Sang istri baru tahu suaminya meninggal ketika akan dikuburkan di kampung halaman suami. Tangis tak tertahan. Di antara tangisannya itu, ia meneriakkan penyesalannya. Ia merasa tidak mampu menepati janjinya: memandikan sang suami.
Di pemakaman, ratusan orang datang. Ratusan orang yang memiliki kenangan dengan almarhum. Sahabat-sahabat tak kuasa menahan tangis. Beberapa sahabat, lelaki dan perempuan, satu per satu berjatuhan setelah melihat wajah sang sahabat terakhir kalinya. Wajah yang penuh luka.
Di antara kawan dan keluarga yang pingsan, si istri tetap tegar dan terus memanggil almarhum suaminya. Ia berharap semua itu hanya mimpi. Mimpi yang tak perlu jadi kenyataan.
Sehari setelah Idul Adha, ia kehilangan suaminya. Suami yang usianya 34 tahun. Tapi ia tidak akan hancur. Ia akan bangkit untuk dirinya, anak-anaknya, dan kenangan bersama suaminya.
Untuk sang suami, Yana, selamat jalan..
Untuk si istri, Irma, yang sabar. Kamu bisa melaluinya.
Al-Fatihah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s