Ruangan Kami Pindah Lagi

Akibat kebakaran kantor kami di Jalan Soekarno Hatta tiga tahun lalu, kami ‘urbanisasi’ ke kantor pusat. Ya, urbanisasi, karena kantor yang awalnya berada di pinggiran itu mengungsi ke tengah perkotaan. 

Tidak usah membayangkan ruangan di kantor kami yang ublag-ablag. Kami harus rela berbagi komputer seperti di Warung internet (warnet). Memang berasa di warnet karena komputer yang digunakan pun tertulis: rental. Tapi, kan, sekarang semua musim rental. Mobil, rumah, apartemen, dsb. Tidak perlu memikirkan perawatan. Rusak, tinggal minta tukar. 

Beruntung tertolong teknologi, sehingga dengan gawai kami bisa mengetik dan mengirim pekerjaan dengan selamat sentosa sampai ke kantor. Meskipun demikian, kami tetap mengantor. Menyetor telapak tangan ke mesin absen. Kalau tidak, bisa absen juga uang makan dan transportasi. Dan jerih payah kita, yang tetap kerja itu dibayar dengan pahala. He…he…!

Setelah hampir tiga tahun, menempati ruangan di kantor pusat, datang kabar, kami harus pindah ke ruangan lain. Waktu dan lokasi belum ditentukan. Tapi tidak lama dari kabar itu, barang-barang di ruangan kami sudah diangkut ke ruangan baru. 

Ini dia ruangan baru kami yang terletak di lantai dua gedung lama. Tangga gedung dengan tingkat kemiringan dahsyat yang mungkin hampir 45 derajat harus kami panjat setiap harinya. 


Saya sempat berasumsi kepindahan ke ruangan baru itu, di lantai dua itu, karena berat badan kami. Iya, berat badan saya yang harus ramping. Jadi daripada memaksa olah raga yang kemudian ditolak dengan alasan sibuk dan banyak liputan, dicarikan solusi yang tidak bisa dibantah: naik turun tangga. 

Keberatan badan saya untuk naik tangga sehingga sedikit malas memanjat itu ditambah dengan gosip horor di ruangan itu. Ada yang bilang kursi berputar sendiri atau ada suara ketikannya tapi tak ada orang. Paling horor katanya lama mandi yang di pojok itu. Tapi tadi saya ke kamar mandi aman-aman saja. Ah, gosip yang belum terbukti. 

Yang mungkin agak mengerikan adalah tangga itu dimana membuat anak bungsu saya sakit. Soal ini, di tulisan lain saya ceritakan. 

Tapi, ruangan ini jauh lebih luas. Meskipun kita seruangan dengan atasan yang enggak wajar bila bergosip dengan suara kencang, tapi setidaknya memiliki keleluasaan menggunakan komputer. Setiap desk, duduk berdekatan. Tapi saya belum ketemu dimana meja saya. Jadi saya memakai komputer rekan lain yang kebetulan belum datang ke kantor. 


Pindahan kantor saya terbilang mendingan. Tiga tahun, baru pindah. 

Coba lihat Apotek Kimia Farma yang kebetulan bertetangga dengan kantor saya itu. Sekarang sudah pindah lagi ke bagian yang paling pojok dekat Hotel Ibis. Sebelumnya sempat pindah ke pojok yang dekat ke Jalan Asia Afrika. 

Sebenarnya pojok itu yang pertama saya lihat sejak pindah kantor. Karena ada acara Konferensi Asia Afrika, pojok itu dipakai media Center. Apotek pasrah pindah ke bagian tengah. Cukup lama di situ, kembali pindah ke pojok awal. Eh, entah kenapa pindah lagi jadi di pojok yang sekarang. 

Saya membayangkan repotnya pindahan. Memindahkan furnitur masih mending. Gimana kalau mesti membuat furnitur baru sesuai dengan luas ruangan. Belum lagi menyetel ulang praktik dokter. Lalu membayar tukang untuk mengangkut barang, memasang furnitur, instalasi listrik, dan merapikan etalase. Tentunya, sehari saja, apotek harus tutup untuk kegiatan itu. Kalau pun tetap buka, pasti ada jam lembur dan konsumen sedikit terganggu. 

Tapi, tak apalah, buku saja mengenal revisi. Ruangan juga mengenal renovasi. 

Advertisements