Aku Ingin Putih

“Ambu, Abah, aku ingin jadi putih!” 

Permintaan mahiwal anak saya itu disampaikan di awal pekan ini. Permintaan ini bukan karena ia sering nonton iklan pemutih kulit. Kalau gara-gara iklan, mungkin dia akan minta juga rambutnya diwarnai, seperti Safeeya, anaknya Ahmad Dhani. Kebayang kalau dia tiba-tiba minta rambutnya diwarnai seperti Inul Daratista atau Titi DJ sebagai bagian efek nonton Golden Memories. 

Permintaan anak saya ini ternyata bukti kegalauan dia atas pergaulannya selama ini. Siapa bilang dunia perbulian itu ada ketika anak mulai bersekolah. Umur 4 tahun juga sudah ada ternyata. 

Begini cerita anak saya. Setiap hari ia bermain dengan beberapa anak tetangga. Satu hari ada sebuah perbincangan menarik yang kemudian sanggup membuat anak saya galau melow. 

“Kinan, kok, kulit kamu mah item sih?” kata anak yang satu. 

“Iya, aku sama Rehan putih. Kok, Kinan item?” pertanyaan kedua diajukan temannya yang satu lagi. 

Pertanyaan yang sama diajukan dua kali pasti bikin anak saya kepikiran. Dia pun mulai ajukan banyak pertanyaan ihwal warna kulitnya. Saya pun memilah kata yang sederhana agar dia paham. 

Namun ternyata itu tidak cukup. Ia menilai jika ingin bermain dengan teman-temannya yang berkulit putih, ya, harus punya kulit putih juga. 

Rajukannya baru mereda ketika dikatakan kulit hitam manisnya itu tidak mengurangi kecantikannya. Ditambah lagi yang penting dia sehat. 

Memang tidak mudah menjauhkan anak dari perasaan dirisak. Dan teman-temannya tidak bermaksud menyakiti anak saya dengan pertanyaannya itu. Namanya juga anak-anak, besar rasa ingin tahunya. 

Tapi sebagai orang tua, kita tidak boleh ikut patah semangat apalagi marah besar ketika anak merasa seperti itu. Kita yang harus membesarkan hati anak dan memberinya pemahaman tentang perbedaan. Karena seumur hidup dia akan melihat banyak perbedaan. (*)

Hari Pertama Sekolah

Awal masuk sekolah sekarang, sampai-sampai ada instruksi agar orang tua mengantar anaknya ke sekolah. Sebetulnya, kalau orang tua paham tugasnya, tidak perlu, tuh, ada instruksi-instruksi segala. 

Nenek saya saja, waktu saya masuk SD paham soal itu. Dia antar saya ke sekolah. Menunggui saya selama belajar. Terkadang wajahnya nongol di jendela kelas. Saya saja yang mungkin kurang bersyukur. Diantar nenek ke sekolah, malah saya yang iri lihat teman sekelas yang diantar dan ditunggui ayah dan ibunya. 

Proses antar hari pertama oleh orang tua yang sebenarnya, tidak benar-benar saya rasakan waktu SMP dan SMA. Bapak mengantar saya mengenal sekolah hanya pada saat daftar ulang. SMP yang saya pilih cukup jauh dari rumah. Waktu SD saya cukup jalan kaki. Atau udunan naik becak. Itu kalau ada sisa uang jajan minggu lalu. 

Masuk SMP, saya memadukan model perjalanan jalan kaki dan ngangkot. 15 menit saya jalan kaki dari rumah ke jalan besar. Dan 30-45 menit naik angkot. 

Saat daftar ulang di SMP, saya sangat senang diantar Bapak. Dia menunjukkan angkot yang harus saya naiki untuk berangkat ke sekolah. Proses daftar ulang cukup lama, dan Bapak mulai bosan. Dia pamit pulang duluan. Sementara saya nyangkut di sekolah. 

Saat pulang, saya yang kebingungan harus pakai angkot apa. Karena angkot saat berangkat tidak lewat di depan sekolah ke arah sebaliknya. Bapak yang jadi panduan saya sudah tidak ada. Artinya saya harus mencari informasi lain. 

Kejadian serupa berulang di SMA dan kuliah. Bapak hanya mengantar. Tidak menunggui. Dia menunjukkan jalan pergi. Tapi tak meninggalkan arah pulang. 

Saya akhirnya terbiasa dengan kebiasaan Bapak. Saya tahu, Bapak percaya saya bisa menemukan jalan pulang meski tidak bersama dirinya. Malahan selanjutnya saya yang keasyikan mencari banyak rute jalan pulang. 

Kebiasaan mencari rute pulang yang berbeda dengan pergi sudah saya lakukan sejak SD. Alasannya, sih, menghindari si Hunter, anjing komplek Saibi. Saya hampir dikejar oleh Hunter waktu pergi sekolah. Akhirnya, saya berburu rute pulang yang berbeda yang malah lebih jauh dari biasanya. Yang penting terhindar dari gigitan Hunter. 

Kalau SMP agak sulit mencari rute berbeda. Karena sekolah saya SMPN 25 yang dulu masih di Jalan Kelenteng, rutenya, ya, segitu-gitu saja. Agak nyeleneh, saya bisa masuk-keluar gang demi mencoba rute baru. Eh, pernah sekali jalan kali, sih, dari sekolah. Bukan karena kepengen, tapi harus! Ada pesawat jatuh di Jamika sehingga tidak ada angkutan umum. 

Kalau SMA dan kuliah pencarian rute pulang baru itu lebih mahir. Saya coba semua angkot yang berdekatan trayeknya dengan sekolah. Di SMA juga saya pernah pulang jalan kaki karena angkot menghilang akibat tiga partai kampanye bersamaan di hari terakhir. 

Kebiasaan mencari rute baru itu yang mungkin membuat saya hapal jalan dan rute angkot. Tapi yang mengherankan, keterampilan saya itu, kan, tidak terlihat kasat mata di penampilan saya. Tapi, tapi, kenapa saya sangat sering ditanya orang peta di Bandung? Ini masih jadi pertanyaan besar. 

Kembali ke persoalan masuk sekolah, ada alasan tiap orang tua mengantar atau tidak anaknya di hari pertama sekolah. Yang terpenting dari semua itu, kemampuan orang tua untuk membuat anaknya terbuka dan kepekaan orang tua terhadap persoalan anaknya. Saya yakin tidak ada, kok, orang tua yang abai di hari pertama sekolah.***

My Stupid Boss (part 1)

Sebenarnya judul post di atas tidak menggambarkan isi tulisan kali ini. Itu hanya judul film yang kami tonton hari ini. Yes, kami tonton bertiga, tanpa si Galing. Kebayang repotnya kalau bawa si Galing ke bioskop. Rempong mania!

Tadinya saya akan nonton My Stupid Boss sama si Abah saja. Tapi karena kerja hari ini ngegembol si Ceuceu, jadilah nobar.

Jadi rasanya enggak penting bikin review filmnya. Yang nonton ada sudah hampir dua juta orang. Seandainya satu persennya saja bikin review berarti ada 20.000 tulisan. 

Yang penting jadi bahasan adalah teman nonton. Kita mulai dari si Abah yang enggak masalah kita kebagian duduk di kursi baris kedua depan. Jarak antara kursi ke layar masih relevan lagi. Kita enggak perlu tanggah!

Selama menonton, Abah banyak ketawa. Ini artinya filmnya memang benar-benar lucu. Hanya sekali Abah ke toilet. Sisanya dia tampak enjoy meski memangku dua tas.

Nah, yang agak heboh itu penonton kedua. Dari awal masuk tadinya saya akan mark down umur Ceuceu. Tapi mana percaya Mba kasir ngeliat anak dua tahun tapi cerewetnya minta ampun. Ya sudah lah dinikmati saja. Dan, bayar Rp 30 ribu. 

Ceuceu hanya bisa santai ala di pantai 15 menit awal film. Sisanya, ngintipin penonton di belakang. Berkali-kali duduk di bawah. Enggak jarang bikin Abah senewen. Jurus ‘pengen jajan’ dia keluarkan. Terakhir, ajak ke toilet. 

Jangankan menonton film komedi, film anak saja, dia hanya kuat menonton 30 menit. Selain menggoda saya, dia terlelap tidur. 

Memang terkadang saya anggap saya yang egois. Karena memaksa anak menonton di bioskop. Film yang ditonton pun pilihan saya. Tapi saya ambil sisi positifnya. 

Bagi saya, di bioskop anak belajar banyak hal. Baik untuk dirinya sendiri maupun penonton lainnya di studio. Ceuceu jadi mengenal ruang gelap dan dingin itu. Terpenting dia mampu mengekspresikan apa yang di lihat dan alami selama di bioskop. (*)