Jika Mati Lebih Dulu

Kalau aku mati duluan, kamu kesepian? Lalu, kalau kamu mati lebih dulu, akankah aku bertahan?

Kalimat itu tetiba terlintas saat saya mencabuti uban massal di kepala saya. Ya, uban pertanda saya semakin menua. Semakin dekat dengan ajal. 

Dekat dengan ajal, pasti urusan akhirat jadi perhatian. Tapi, urusan dunia pun tak kalah berebutan jadi pikiran. 

Buat seorang istri atau suami, kehilangan pasangan ditinggal mati, pasti bagai potong rancatan. Hidup tak lagi seimbang. Tak ada teman sejiwa berbagi perih dan bahagia. 

Bagi istri, saat berpikir kalau ia akan meninggal lebih dulu, yang terpikir, bagaimana nasib suami dan anak-anak? Akankah suami mampu menggantikan pekerjaan domestik yang biasanya dikerjakan istri? Mampukah suami mencuci, menyetrika, memasak, tidak hanya untuk dirinya tapi juga anak-anak? Lalu, sanggupkah suami bertahan tanpa mencari pengganti dirinya?

Demikian juga suami, ketika membayangkan ia akan dipanggil Tuhan lebih dulu, mampukah istri memenuhi kebutuhan finansial keluarga yang dulu adalah tugas suami? Mampukah istri menjadi kepala keluarga menjaga anak-anak? Sampai kapan istri tidak menyerah?

Jangan tanya kenapa saya berpikir demikian. Kematian akan datang kapan saja. Tanpa informasi dan dispensasi. 

Terkadang saya membuat daftar apa yang mesti saya lakukan sebelum mati. Yang dilakukan untuk memberikan manfaat pada orang lain. Sehingga saya tak perlu terlalu banyak menyesal saat mati. 

Saya mungkin lebay. Memang! Karena saya sadar tidak selamanya saya mendampingi orang-orang yang saya sayangi. Dan saya belum banyak berbuat untuk mereka. Saya terlalu apa adanya. Padahal saya bisa berbuat lebih dari “apa adanya”. 

Saya harus berhenti bersikap membantu hanya ketika orang meminta bantuan. Saya harus lebih pandai meraba hati orang. Sehingga tidak perlu mereka berteriak untuk memberi bantuan. 

Hidup memang harus perih. Hidup harus memberi manfaat. Sehingga, ketika kita mati, tidak ada kisah lain yang terucap selain betapa bermanfaat kita saat hidup. (*)

Advertisements

Ruangan Kami Pindah Lagi

Akibat kebakaran kantor kami di Jalan Soekarno Hatta tiga tahun lalu, kami ‘urbanisasi’ ke kantor pusat. Ya, urbanisasi, karena kantor yang awalnya berada di pinggiran itu mengungsi ke tengah perkotaan. 

Tidak usah membayangkan ruangan di kantor kami yang ublag-ablag. Kami harus rela berbagi komputer seperti di Warung internet (warnet). Memang berasa di warnet karena komputer yang digunakan pun tertulis: rental. Tapi, kan, sekarang semua musim rental. Mobil, rumah, apartemen, dsb. Tidak perlu memikirkan perawatan. Rusak, tinggal minta tukar. 

Beruntung tertolong teknologi, sehingga dengan gawai kami bisa mengetik dan mengirim pekerjaan dengan selamat sentosa sampai ke kantor. Meskipun demikian, kami tetap mengantor. Menyetor telapak tangan ke mesin absen. Kalau tidak, bisa absen juga uang makan dan transportasi. Dan jerih payah kita, yang tetap kerja itu dibayar dengan pahala. He…he…!

Setelah hampir tiga tahun, menempati ruangan di kantor pusat, datang kabar, kami harus pindah ke ruangan lain. Waktu dan lokasi belum ditentukan. Tapi tidak lama dari kabar itu, barang-barang di ruangan kami sudah diangkut ke ruangan baru. 

Ini dia ruangan baru kami yang terletak di lantai dua gedung lama. Tangga gedung dengan tingkat kemiringan dahsyat yang mungkin hampir 45 derajat harus kami panjat setiap harinya. 


Saya sempat berasumsi kepindahan ke ruangan baru itu, di lantai dua itu, karena berat badan kami. Iya, berat badan saya yang harus ramping. Jadi daripada memaksa olah raga yang kemudian ditolak dengan alasan sibuk dan banyak liputan, dicarikan solusi yang tidak bisa dibantah: naik turun tangga. 

Keberatan badan saya untuk naik tangga sehingga sedikit malas memanjat itu ditambah dengan gosip horor di ruangan itu. Ada yang bilang kursi berputar sendiri atau ada suara ketikannya tapi tak ada orang. Paling horor katanya lama mandi yang di pojok itu. Tapi tadi saya ke kamar mandi aman-aman saja. Ah, gosip yang belum terbukti. 

Yang mungkin agak mengerikan adalah tangga itu dimana membuat anak bungsu saya sakit. Soal ini, di tulisan lain saya ceritakan. 

Tapi, ruangan ini jauh lebih luas. Meskipun kita seruangan dengan atasan yang enggak wajar bila bergosip dengan suara kencang, tapi setidaknya memiliki keleluasaan menggunakan komputer. Setiap desk, duduk berdekatan. Tapi saya belum ketemu dimana meja saya. Jadi saya memakai komputer rekan lain yang kebetulan belum datang ke kantor. 


Pindahan kantor saya terbilang mendingan. Tiga tahun, baru pindah. 

Coba lihat Apotek Kimia Farma yang kebetulan bertetangga dengan kantor saya itu. Sekarang sudah pindah lagi ke bagian yang paling pojok dekat Hotel Ibis. Sebelumnya sempat pindah ke pojok yang dekat ke Jalan Asia Afrika. 

Sebenarnya pojok itu yang pertama saya lihat sejak pindah kantor. Karena ada acara Konferensi Asia Afrika, pojok itu dipakai media Center. Apotek pasrah pindah ke bagian tengah. Cukup lama di situ, kembali pindah ke pojok awal. Eh, entah kenapa pindah lagi jadi di pojok yang sekarang. 

Saya membayangkan repotnya pindahan. Memindahkan furnitur masih mending. Gimana kalau mesti membuat furnitur baru sesuai dengan luas ruangan. Belum lagi menyetel ulang praktik dokter. Lalu membayar tukang untuk mengangkut barang, memasang furnitur, instalasi listrik, dan merapikan etalase. Tentunya, sehari saja, apotek harus tutup untuk kegiatan itu. Kalau pun tetap buka, pasti ada jam lembur dan konsumen sedikit terganggu. 

Tapi, tak apalah, buku saja mengenal revisi. Ruangan juga mengenal renovasi. 

Hobi Jadi Bisnis? Enggak Gampang!

“Ih, dompet bikinannya bagus. Berapaan?”

“Mau dong tasnya. Ada model yang kayak gimana aja?”

Pertanyaan seperti itu sering banget saya terima ketika orang lain melihat hasil rajutan iseng saya. Bangga? Pasti dong! Karya kita diakui oleh orang lain. 

Tapi ketika ditanya berapa nilai karya kita, jujur, saya bingung. Kerajinan yang saya buat itu sebenarnya bagian dari relaksasi dan mengisi waktu luang. Bagian dari implementasi pelajaran kerajinan yang saya pelajari saat sekolah dasar. Jadi, ketika ditanya berapa harga atas dompet atau tas rajut yang saya buat, saya tidak bisa menentukan saat itu juga. 

Perhitungan itu sungguh berat. Tidak hanya didasarkan pada harga material yang digunakan, atau waktu pengerjaan. Tapi di dalam rajutan yang saya buat itu, ada jiwa saya. Karena saya, selama ini membuatnya bukan karena tujuan ekonomis. Karena saya suka. Jiwa saya itu yang sulit dikonversikan harganya he…he…!

Bila ada orang yang bertanya berapa banyak rajutan saya yang terjual, jawaban saya jauh lebih kecil. Rajutan yang saya buat itu tergantung mood. Bisa saja niatnya bikin tas, jadinya Pouch. Jadi terkadang saya minta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan. Ada loh, yang sudah dua tahun permintaannya dibiarkan. Ya, karena memang belum selesai. 

Diakui, tidak mudah mengubah hobi menjadi bisnis. Menawarkan barang yang kita buat saja sulit. Karena masih ada pikiran, layak enggak sih dijual? Atau harganya kemahalan enggak ya?

Ketika memutuskan hobi menjadi bisnis, kita harus siap dengan tuntutan kontinyuitas. Ada juga tuntutan memenuhi kepuasan pelanggan. Belum lagi kalau pesanannya jumlahnya banyak, sementara pengerjaan dilakukan sendiri. 

Jadi selama ini kebanyakan karya saya, ya, dipakai sendiri. Ada juga sih, yang dipakai teman karena saya sengaja menghadiahkan. Tapi karena hadiah itu, ada juga yang sudah berkali-kali pesan. Senang rasanya! Sekali lagi, bukan karena nilai uangnya. Ditambah lagi, bahwa barang yang mereka pakai itu limited edition. Alias dibuat satu-satunya ketika saya rajin. 

Berbagi ilmu

Hal yang paling menyenangkan lainnya dari merajut adalah ketika bertemu sesama perajut yang sudah sepuh di toko benang. Setiap belanja, saya pasti disapa oleh mereka karena jarang ada yang seumuran saya bergentayangan di toko benang rajut. 

Pertemuan itu meski tidak berlanjut tapi menyisakan bekas. Kami, para penyuka rajut selalu berbagi ilmu merajut. Kebanyakan belajar dari buku rajut. Kalau saya, enggak pintar-pintar belajar dari buku. Tapi kalau dari YouTube, lebih cepat bisa. 

Selain berbagi ilmu, kami juga berbagi lokasi perburuan aksesorisnya rajut. Atau berbagi informasi trik merajut. Saya yang senang merajut Pouch dengan memakai behel terbilang jarang loh! Seringnya berbagi ilmu sama si Cici pemilik toko Benang Aneka di Jalan ABC. 

Sekali lagi, merajut itu memberikan ketenangan batin. Jadi kalau di tas saya tidak ada benang dan hakpen rasanya ada yang hilang. Hoeks! Alay!***

Menua Sederhana

“Ingin menjadi seperti apa saat kita menua?”

Itu tema yang saya susun di #tantanganmenulis #julingeblog tanggal 12. Demi menjawab pertanyaan itu, saya harus berpikir jauh ke depan. Berpikir melampaui langkah-langkah 32 bidak di papan catur. Berpikir untuk puluhan tahun mendatang di mana Tuhan bermurah hati memberikan umur panjang. 

Sederhana sebenarnya jawaban pertanyaan itu. Saya harus lebih bermakna seiring pertambahan usia. Bermakna bagi diri saya sendiri utamanya. 

Di usia tua saya, ingin melihat anak-anak mampu mencapai keinginannya. Memiliki kehidupan yang ‘layak’ lahir dan batin. 

Saya ingin menua bersama suami saya. Berjalan pagi bersama sambil bergenggaman taman. Merawat kebun kecil di depan rumah. Memasak makanan yang menyenangkan perut. Sesekali pergi menonton ke bioskop. 

Di akhir pekan, ada anak-anak dan keturunannya yang menjenguk kami. Merencanakan liburan bersama. Atau sekadar membakar singkong di halaman rumah. Mungkin berkemah bersama. 

Tidak ada yang lebih menyenangkan dari bersama dengan keluarga. Jika berkaitan dengan keluarga, tidak heran kalau saya akan sangat egois. ***

Lalu, Bingung!

Tema #tantanganmenulis #julingeblog hari ini sangat berat. Saya belum bisa memilih lima tempat yang ingin saya kunjungi. 

Kenapa? 

Karena bukan tempat yang jadi persoalan. Saya ingin mengunjunginya bersama suami dan anak-anak saya. Saya ingin bersama mereka ketika menikmati tempat-tempat tersebut. Karena dimana pun saya berada, tempat terindah adalah bersama keluarga tercintah!

Jadi di skip dulu cerita ini, ya! 

Mungkin nanti, besok atau lusa, saya bisa menyebutkan kemana saya ingin bermain bersama keluarga saya. 

Hari ini, mari menyibukkan diri dengan mampir ke kantor, memasak, dan menerima tamu calon besan! Yippi, hajat maning!***

Cicak di Tanjakan Curam

#ngeblog di Minggu pagi itu asyik juga. Diselingi naheur cai, ninyuh kopi, dan ngombehin anak. Tapi pas lihat tema #tanggal9, ha…ha…ngeper juga. Bahasannya soal ketakutan. 

Bicara ketakutan, kalau dengan binatang saya takut sama cicak. Tepatnya geuleuh. Lagi tiduran, di langit-langit ada cicak bergerak lincah, saya pasti keringat dingin. Terbayang kalau itu cicak kehilangan lem di tangan dan kakinya, lalu tergelincir, tidak bisa muntang. Dan saat dia jatuh, naplok ke muka saya. Bisa-bisa saya mendadak koma. 

Awal saya bermusuhan dengan cicak itu sederhana tapi tidak menyenangkan. Waktu saya mengambil kangkung di kamar mandi tiba-tiba di betis saya ada sesuatu yang menempel. Sesuatu itu dingin dan licin. Geunyal! Itu cicak!

Tapi kalau ketakutan lain yang bikin saya lemas lutut, ya, yang berkaitan dengan ketinggian. Tak perlu ajak saya ke tempat dengan ketinggian puluhan meter. Naik jembatan penyeberangan saja, saya sudah gemetaran. 

sumber: Pinterest

Makanya, kalau ke Jakarta, mau naik busway atau pindah ke ruas jalan di seberang, malas sekali rasanya. Harus melintasi jembatan penyeberangan yang panjang sekali. Rasanya, tidak sampai-sampai ke tujuan. 

Terakhir berurusan ketinggian itu, ketika bertemu sahabat yang memiliki acara akbar di Karawang. Sebagai tamu khusus, saya dan keluarga diminta berada di sebuah panggung kecil di seberang panggung besar. Tingginya bisa 4 meter. 

Waktu naik, tangganya sedikit bergoyang. Tiba di atas, getaran goyangannya bertambah. Sudah gitu, tidak ada pagar pengaman. Bikin saya membayangkan yang tidak-tidak. Dengan alasan, anak yang lincah dan berbahaya, saya mohon izin turun dari panggung. 

Ternyata ketakutan saya dengan ketinggian terus bertambah seiring penambahan berat badan. Ketika berempat berboncengan naik sepeda motor, lalu harus ke Lembang via Punclut atau ke Bandung lewat terminal Dago, saya mulai was-was.

Di Punclut, sudah berapa kali saya terpaksa turun dan nikreuh di tanjakan. Selain bawa badan sendiri, di depan saya memangku anak dan di belakang saya menggendong ransel. Untung tidak ada jinjingan di kedua tangan saya. Titik tanjakan tercuram itu ada di tanjakan yang ada patung naganya. Sudah lelah dan berkeringat, sampai di atas, Kinanti berkomentar, “Ambu, kok jalan? Naik motor aja!”

Kalau di Dago, baru semalam kejadian saya nikreuh di tanjakan karena tiba-tiba si X-ride pundung enggak mau naik di ujung perjalanan ke Dago. Itu kejadian pertama kalinya. Saya pun turun dan Kinanti panik. Dia menyangka Ambunya tidak akan ikut dengan dia. Saya, sambil menggendong Kiandra, ngos-ngosan mendaki. Mengingat sedang pake selop, tiap 10 langkah, saya berhenti menarik nafas panjang. 

Begitu sampai di atas, saya batuk-batuk sekuat tenaga. Cara yang enggak asyik berolahraga di malam hari. 

Kalau ibu-ibu lain, takut juga dengan tanjakan enggak, sih? ***

Efek Mariyuana

sumber foto: prweb.com


Tuh kan, enggak gampang menjawab tantangan yang dibikin sendiri pun. Dengan berbagai pembenaran, saya belum posting satu tulisan sejak tantangan itu dibuat. Mari kita bayar sekarang, ha…ha...! Ini dia #tantanganjulingeblog #tantangantanggal8. 

Tema tanggal 8 itu berkaitan dengan bahasan obat-obatan dan alkohol. Kalau obat-obatan untuk penyakit fisik, memang rada anti. Lagipula penyakit saya yang paling sering itu diare dan batuk pilek. Nah, kalau diare, jarang diobatin. Anggap aja diet. Lumayan kan banyak lemak yang dibuang. 

Batuk baru saya obatin. Itu pun obat batuk anak. Entah kenapa, tidak pernah mempan dengan obat batuk dewasa. Yah, terima saja nasib badan dewasa tapi penyakit bocah. 

Kalau soal alkohol, belum pernah nyicipin baik disengaja atau tidak disengaja. Nyoba minuman kaleng saja, beraninya yang 0 persen alkohol. 

Tapi kalau tentang sesuatu yang memabukkan, perlu diakui, saya pernah rasakan. Itu pun pasif. 

Begini ceritanya, kenakalan orang dewasa mungkin ada yang tak bisa jauh dari mariyuana atau ganja. Biasanya dibakar jadi rokok. Gara-gara tak sengaja menghirup asapnya, saya jadi tahu efeknya pada badan saya seperti apa. 

Sepertinya efek yang diterima itu berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang kuat makan, kuat kerja, dan kuat melek. Efek ke badan saya malah kuat tidur. 

Efek itu terasa banget waktu ganja bubuk dicampur makanan. Waktu itu, Bang Cok, tetangga kosan di Bekasi, tumben banget kirim makanan. Dia kirim mie rebus sama ayam betutu dari Bali. Senang tiada terkira. Rasanya maknyooss!

“Enak, ya, mie buatan saya?”

Saya jawab, “enak.” Apalagi itu gratis dan sudah dibuatin

“Beda, kan, sama mie biasanya?”

Saya rasa-rasa lagi. Betul memang beda. Bumbunya terasa lebih kental. Tapi, mungkin itu karena dikasih topping ayam betutu. Begitu pikir saya. 

“Saya campur ganja bubuk, loh! Sesendok saja,” kata Bang Cok. 

Sontak saya berasa disambar petir. Ha..ha.. Drama banget. Enggak ding! Saya cuma mikir, seenak ini toh ganja. Tapi kalau dicampur makanan jadi begini enak, ngapain sih dibakar. Ah, tapi itu urusan mereka. 

Sambil ngobrol setelah beres makan, kepala saya agak pening. Dan saya banyak menguap. Efek ganja mulai merasuk. Cepat saya usir Bang Cok ke kamarnya. Lalu saya mengunci kamar. 

Saya tidak tahu jam berapa saya tertidur. Saya bangun seperti biasa. Setelah mandi, kepala saya kembali pening. Lalu, pandangan saya mulai gelap. 

Saya membuka mata di jam yang sama. Keesokan harinya. Ternyata saya kembali tertidur. Hanya dibalut handuk. Beruntung hari pertama saya tertidur itu Sabtu. Saya tidak kerja setiap hari itu. Akibat ganja, saya tidur lelap selama dua hari. 

Kalau Anda, bagaimana? Pernah jadi peganja pasif juga?***

Juli Ngeblog, yuk!


Scrolling, scrolling, ternyata banyak yang pada asyik dengan #julingeblog. Memang bener, sih, menjaga konsistensi menulis itu susah. Karena menulis tak lagi sekadar asal nulis. Tidak nulis sekenanya.
Menulis itu merangkai kata, menguntai cerita, dan memaknai peristiwa. Terkadang, saat mau mulai menulis itu, bingung. Kata pembukanya seperti apa, alinea berikutnya seperti apa, lalu bagaimana mengakhirinya. 

Nah, ngeblog dengan targetan tema tiap harinya, sebenarnya agak membantu. Setidaknya kita tidak bingung harus menulis apa. Tema itu akan menggiring kita pada tulisan yang akan dibuat. Tidak jarang tema itu akan membangkitkan memori yang tersimpan di alam bawah sadar. Karena saking banyaknya kenangan yang disimpan dan memanggilnya tidak semudah mengetik “search” di komputer. 

Iseng-iseng saya coba membuat rentetan tema harian yang bisa dijadikan target blog bulan Juli. Gampang? Susah banget! Apalagi kalau ngomong Juli, sekarang sudah tanggal 7. Berarti kalau tantangan ini dimulai dari tanggal 1, saya sudah ketinggalan seminggu. Tapi, biarlah terlambat daripada tidak sama sekali. 

Hmm…tadinya saya akan memulai dari tanggal 14, tanggal kelahiran saya. Tapi, saya bikin target mah dari tanggal 1 saja. Jujur, buat skema tema hingga sebulan itu sulit. Karena nyontek dari web-web yang sudah ada, ah, rasanya tema-temanya tidak cocok untuk saya yang sudah ibu-ibu ini. Apalagi yang negaranya ada empat musim, temanya berkaitan dengan winter, summer, snowy, bikin pusing pokoknya. 

Meskipun susah, saya tetap coba. Ini percobaan saya buat tema untuk sebulan blogging di bulan Juli. 

1. Apa yang biasanya kamu lihat setiap pagi saat membuka mata?

2. Apa yang pertama dilihat ketika bertemu orang lain?

3. Apa yang menarik untuk diikuti dalam sebuah media sosial? 

4. Sudut kota yang paling disuka

5. Orang yang ditemui hari ini

6. Tempat belanja hari ini 

7. Ingin menjadi seperti apa 10 tahun mendatang

8. Pandangan kita tentang obat-obatan dan alkohol

9. Pengalaman bermain lotre

10. Hal yang paling ditakuti

11. Lima tempat yang sangat ingin dikunjungi

12. Ingin menjadi seperti apa saat menua

13. Kisah tentang tanda tangan

14. Bagaimana menjadi kreatif

15. Surat untuk seseorang

16. Langkah kecil mencapai mimpi

17. Apa yang bisa ditawarkan untuk dunia

18. Buku yang baru saja dibaca

19. Apa yang harus dirayakan

20. 500 kata yang dapat ditulis

21. Pasar lokal yang dikunjungi

22. Apa yang diingat tentang kembali ke sekolah sebagai anak-anak? Kenangan apa yang ingin diingat anak Anda ketika sekolah?

23. Sudut terasik di toko buku 

24. Hobi baru yang sedang dicoba baru-baru ini

25. Ceritakan tentang ibu

26. Kenangan terindah bersama Ayah

27. Yang dilakukan ketika marah

28. Kesalahan yang diperbuat baru-baru ini dan bagaimana memperbaikinya

29. Ceritakan tentang saudaramu

30. Kisah sebuah tato

31. Jatuh cinta pertama dengan selebritis. 

Tulisan-tulisan ini akan saya kasih tagar #bloggingonjuly dan #writingchallenge. Semoga tantangan menulis dengan tema-tema yang dibuat susah payah ini gak bikin saya susah nulis. Dan semoga tulisan yang tertinggal tujuh hari pun bisa terbayar. Semoga! ***

My Stupid Boss (part 2) yang ala-ala gitu!

Buat yang pernah nonton, My Stupid Boss pasti ingat kata-kata dia yang jadi ciri khasnya, “tempe bener, sih, kamu!” Atau dengan perilakunya yang amnesia dini akut syekali di mana ia selalu lupa hal yang baru saja dia bicarakan. Mungkin, sifat si Bossman yang takut sama istri dan milih memanfaatkan karyawannya agar menghindar dari paksaan mencicip masakan istri. 

Kalau ingat si Bossman, saya berasa mirip si PPDB alias Penerimaan Peserta Didik Baru. Sudah dua tahun saya ikut riweuh. Padahal anak-anak saya belum ikutan PPDB. Masuk PA’UD (itu cara pengucapan pengasuh saya, loh! Seperti pakai ain dalam bacaan Quran) juga belum. Tahun ini ada sedikit partisipasi, sih, karena ada keponakan yang masuk SMA. Setidaknya itu agak bikin saya baper memantau PPDB. 
Tahun ini juga, aturan PPDB dibilangnya, lebih mendingan dari tahun lalu. Banyak aturan yang merevisi kegagalan tahun lalu. Misalnya, menghapus pembina yang memutuskan dan menetapkan hasil pleno. Aturan ini yang bikin pembina seenak udel mengubah kapasitas sekolah karena ingin menampung seluruh siswa miskin di sekolah negeri. 

Anak guru mulai diatur jumlah yang lolos seleksi yakni 3%. Meskipun upaya keadilan ini, direspon sebagai ketidakadilan karena kata guru, dengan berlindung di bawah undang-undang guru, itu bentuk kemaslahatan bagi guru karena mereka ini pahlawan tanpa tanda jasa. Jadi harus dimudahkan masuk SEKOLAH NEGERI! (Ah, saya enggan menafsirkan isi pasal di undang-undang guru. Karena penafsiran selama ini pun hanya parsial)

Jalur prestasi terutama olah raga, mungkin ada perbaikan. Mungkin, loh, karena melibatkan KONI dalam verifikasi data prestasi siswa. Kemudian, ketahuan ada pemalsuan. Kemudian, dilaporkan. Ada juga upaya jual beli sertifikat. Kemudian dilaporkan. Kemudian diberitakan. Kemudian yang beritakan didatangi … (Lalu perkataan selanjutnya hilang dalam senyap). 

Terus, ada juga siswa inklusi yang kemudian diakomodasi. Entah salah si sosialisasi atau gimana, dari alokasi ribuan kursi dengan rincian tiga siswa di tiap sekolah, yang daftar hanya, 31 orang. Yup, 31 orang. 

Iya, mirip si Bossman. Bikin aturan serba perpect tapi tidak lihat situasi. Tapi, karyawannya dianggap tempe karena tidak bisa ikuti aturan dia. Kemudian dia ikutan tempe karena melanggar aturannya dia.

Itu sama saja, dengan bikin aturan yang katanya sempurna atau agak mendingan dibanding tahun lalu. Tapi pelaksanaannya, ya, banyak improvisasi. Mirip, lah, pekerjaan tukang vermak di jalan yang benerin baju sesuai keinginan yang punya baju. Nah, di PPDB ini, yang merasa punya baju itu banyak. Bisa dibayangkan, dong, itu celana yang dipermak. Mungkin sebelah cutbray, sebelah pensil. Mungkin sakunya ada ratusan! Jadi gak heran, bila akhirnya si tukang permak malas benerin celana itu. Karena tafsir tiap orang tentang kecantikan dan kegantengan itu relatif, Jenderal!

Ditambah lagi, kalau diibaratkan sepak bola, si PPDB ini banyak banget wasitnya. Ada pengawas internal, Ombudsman, organisasi kependidikan, independen, orang tua siswa, dan mungkin ada yang ngaku-ngaku juga jadi pengawas. Kebayang, kan, selain di dalam lapangan ada juga wasit di luar lapangan yang jauh lebih heboh. Terus, gimana, nih, para pemain. Yah, jadi hare-hare. Lihat saja FORUM TANYA di laman resminya. Sebuah forum penuh pertanyaan tanpa ada jawaban. Semua yang asyik di dunianya masing-masing dan merasa benar atas tindakannya. 

Saya yang ogah jadi pemain atau pengawas ternyata kagugusur oge. Mesti cari informasi yang mencerahkan pembaca. Informasi yang kadang hanya ceuk si ieu, ceuk si itu, karena informasi shahih itu sering kali susah diakses. 

Satu yang saya khawatirkan, saya tidak akan lagi kritis dengan isu-isu PPDB. Saya mungkin jadi orang apatis. Orang yang akan jawab seperti suaminya Kerani, karyawan si Bossman kalau PPDB, “emang kayak gitu orangnya!”

Atau, saya akan bilang kalau yang namanya jual beli kursi, pemalsuan sertifikat dan dokumen, ubah-ubah sistem, mark up nilai itu sudah jadi hal lumrah. Toh, tidak pernah ada tindakan nyata. Saya asli sieun jadi seperti itu. 

Atau, saya akan memilih berita-berita yang datar saja. Tidak perlu bikin berita sensasional. Tak perlu nulis berita yang isinya ditafsirkan memberikan persepsi pencemaran nama baik agar saya tidak perlu didatangi orang yang berdalih mau klarifikasi tapi bawa pengacara. 

Saya khawatir kalau, saya yang di luar sistem ini, yang mungkin tidak memiliki kepentingan atas PPDB kemudian menjadi makhluk yang hare-hare. Mau PPDB gitu, atau gini, saya tidak ada urusan. 

Yang paling saya khawatirkan, saya akan jadi generasi tempe, yang mudah lupa dan susah ingat! Ah, sekali lagi saya jadi baper dengan PPDB ini. Mungkin karena ini akan mengganggu jadwal libur Lebaran juga. Tapi, saya yakin, saya tetap ingat bahwa PPDB harus ideal bukan hanya soal siapa yang diakomodasi tapi keberpihakan Pemerintah memberikan layanan pendidikan terbaik sehingga tidak perlu ada rebutan masuk sekolah negeri. Toh, kualitas semua sekolah sama.

Tulisan ini pun mungkin jadi cara saya menghindari lupa akan PPDB yang tempe ini. Seakan jadi kewajiban, saya harus menulisnya secara personal. Yah, ini tulisan personal saya, jadi tidak perlu para pengacara mendatangi saya, kan! Ha..ha..! ***

Kenali Batas Diri

Akhir semester bagi mahasiswa artinya selain belajar untuk ujian akhir semester (UAS) juga tumpukan tugas kuliah yang mesti diselesaikan. Terlambat dikumpulkan, sama saja bunuh diri dan menandatangani KRS untuk mata kuliah yang sama di semester mendatang. 

Akhir semester bagi saya, sama artinya dengan tingginya permintaan menjadi responden. Tidak hanya dari mahasiswa jurusan jurnalistik, sesuai bidang pekerjaan saya, tapi juga jurusan-jurusan lainnya. 

Untuk urusan jadi responden-responden ini, nih, saya jadi rada judes. Bukan apa-apa, terkadang rasanya seperti diteror. Baik yang sifatnya tatap muka atau via surat elektronik. 

Yang lebih ngagetin kalau sistemnya ‘asal tembak’. Lebih mirip kayak ulangan dadakan dimana saya sedang mengetik berita tiba-tiba disodori lembar kuesioner yang harus selesai diisi dalam 15 menit. Model seperti ini, yang saya ingat, sudah dua kali terjadi. 

Pertama, untuk mahasiswa jurusan Arsitektur. Pertanyaannya soal bangunan herritage. Saya ditanya pernah datang ke situ, bagus enggak bangunannya, bagus enggak perawatannya, dan lain-lain sebagainya. Nah, saya ini awam soal bangunan Arsitektur. Jawaban saya, ya, aslinya enggak pake mikir. 

Yang kedua, mahasiswa psikologi. Karena petunjuknya jawablah sesuai yang Anda rasakan, maka pertanyaan itu saya jawab pake hati dong. Yang paling emosional ketika pertanyaan yang muncul, terkait tantangan pekerjaan ini dan bagaimana solusinya. Asli, saya tulis kalimat emosional. Ada kalimat, “Silakan bayangkan”. 

Seharusnya untuk psikologi, di halaman pembuka kuesioner itu ada semacam data profil responden. Data itu sebagai profil awal yang diwawancara bisa berkaitan dengan keluarga, masa kerja, atau pun kondisi ekonomi. 

Terakhir yang saya alami adalah mahasiswa tingkat akhir yang tiba-tiba kontak saya di what’s app. Dia bilang tahu nomor saya dari temannya. Yang agak mengesalkan ketika dia tanya pekerjaan saya di kantor. 

Bukankah seharusnya sebelum dia kontak saya, dia tahu pekerjaan saya. 

“Kenapa tidak sekalian kamu tanya sama temen kamu apa pekerjaan saya?” 

Dia pun menjawab kalau saya ini wartawan tapi dia tidak tahu saya wartawan tulis atau foto. Satu lagi kelemahan si mahasiswa yang tidak mencari tahu profil saya lebih dulu. At least make me impress!

Saya yang kadung kesal meninggalkan percakapan karena kebetulan posisi saya sedang bekerja di luar. 

Malamnya dia kontak saya lagi dengan pertanyaan apakah saat itu saya sudah santai atau tidak. Bagi saya, di kantor saya adalah karyawan. Ketika saya sudah di rumah, saya jadi istri dan ibu dari dua anak saya. Jadi tidak ada kata ‘santai’. Sibuk? Memang!

Besoknya dia kontak lagi dengan pertanyaan serupa. Saya jelaskan aktivitas saya seperti apa. Baru dia menjelaskan tujuan dia menghubungi saya. Untuk skripsi dia! 

Oke, saya memang judes! Waktu saya mahal. Mahal sekali. Makanya ketika rileks saya akan lebih banyak beraktivitas bersama keluarga saya karena mereka itu tidak ternilai. Jadi ketika saya menolak permintaan dia, bukan karena sombong. Tapi saya sudah dapat memprediksikan kesempatan saya bersama keluarga semakin sempit.

Saya juga pernah merasakan di posisi dia. Tapi bukan karena enggan menolong. Menolong orang itu harus dengan ikhlas dan luang. Saya merasa tidak mampu memenuhi keduanya. Daripada saya iyakan, tapi di tengah-tengah saya menyusahkan, tugas akhir dia akan kacau. 

Jadi lebih baik saya menolak. Agar dia mampu mencari nara sumber yang lebih layak buat mengisi tugas akhirnya. ***