Ruangan Kami Pindah Lagi

Akibat kebakaran kantor kami di Jalan Soekarno Hatta tiga tahun lalu, kami ‘urbanisasi’ ke kantor pusat. Ya, urbanisasi, karena kantor yang awalnya berada di pinggiran itu mengungsi ke tengah perkotaan. 

Tidak usah membayangkan ruangan di kantor kami yang ublag-ablag. Kami harus rela berbagi komputer seperti di Warung internet (warnet). Memang berasa di warnet karena komputer yang digunakan pun tertulis: rental. Tapi, kan, sekarang semua musim rental. Mobil, rumah, apartemen, dsb. Tidak perlu memikirkan perawatan. Rusak, tinggal minta tukar. 

Beruntung tertolong teknologi, sehingga dengan gawai kami bisa mengetik dan mengirim pekerjaan dengan selamat sentosa sampai ke kantor. Meskipun demikian, kami tetap mengantor. Menyetor telapak tangan ke mesin absen. Kalau tidak, bisa absen juga uang makan dan transportasi. Dan jerih payah kita, yang tetap kerja itu dibayar dengan pahala. He…he…!

Setelah hampir tiga tahun, menempati ruangan di kantor pusat, datang kabar, kami harus pindah ke ruangan lain. Waktu dan lokasi belum ditentukan. Tapi tidak lama dari kabar itu, barang-barang di ruangan kami sudah diangkut ke ruangan baru. 

Ini dia ruangan baru kami yang terletak di lantai dua gedung lama. Tangga gedung dengan tingkat kemiringan dahsyat yang mungkin hampir 45 derajat harus kami panjat setiap harinya. 


Saya sempat berasumsi kepindahan ke ruangan baru itu, di lantai dua itu, karena berat badan kami. Iya, berat badan saya yang harus ramping. Jadi daripada memaksa olah raga yang kemudian ditolak dengan alasan sibuk dan banyak liputan, dicarikan solusi yang tidak bisa dibantah: naik turun tangga. 

Keberatan badan saya untuk naik tangga sehingga sedikit malas memanjat itu ditambah dengan gosip horor di ruangan itu. Ada yang bilang kursi berputar sendiri atau ada suara ketikannya tapi tak ada orang. Paling horor katanya lama mandi yang di pojok itu. Tapi tadi saya ke kamar mandi aman-aman saja. Ah, gosip yang belum terbukti. 

Yang mungkin agak mengerikan adalah tangga itu dimana membuat anak bungsu saya sakit. Soal ini, di tulisan lain saya ceritakan. 

Tapi, ruangan ini jauh lebih luas. Meskipun kita seruangan dengan atasan yang enggak wajar bila bergosip dengan suara kencang, tapi setidaknya memiliki keleluasaan menggunakan komputer. Setiap desk, duduk berdekatan. Tapi saya belum ketemu dimana meja saya. Jadi saya memakai komputer rekan lain yang kebetulan belum datang ke kantor. 


Pindahan kantor saya terbilang mendingan. Tiga tahun, baru pindah. 

Coba lihat Apotek Kimia Farma yang kebetulan bertetangga dengan kantor saya itu. Sekarang sudah pindah lagi ke bagian yang paling pojok dekat Hotel Ibis. Sebelumnya sempat pindah ke pojok yang dekat ke Jalan Asia Afrika. 

Sebenarnya pojok itu yang pertama saya lihat sejak pindah kantor. Karena ada acara Konferensi Asia Afrika, pojok itu dipakai media Center. Apotek pasrah pindah ke bagian tengah. Cukup lama di situ, kembali pindah ke pojok awal. Eh, entah kenapa pindah lagi jadi di pojok yang sekarang. 

Saya membayangkan repotnya pindahan. Memindahkan furnitur masih mending. Gimana kalau mesti membuat furnitur baru sesuai dengan luas ruangan. Belum lagi menyetel ulang praktik dokter. Lalu membayar tukang untuk mengangkut barang, memasang furnitur, instalasi listrik, dan merapikan etalase. Tentunya, sehari saja, apotek harus tutup untuk kegiatan itu. Kalau pun tetap buka, pasti ada jam lembur dan konsumen sedikit terganggu. 

Tapi, tak apalah, buku saja mengenal revisi. Ruangan juga mengenal renovasi. 

Advertisements

Musim Liburan

Ini musim liburan. Bandung jadi tujuan banyak orang untuk liburan. Pake angkutan umum, no problemo! Yang penting piknik. 

Tapi, untuk saya yang biasa naik angkutan umum ini, musim liburan sering kali bikin kekotoran dan kejorokan di area publik dan transportasi umum. Gak cuma saya saja yang hampir jadi korban kena cipratan muntahan.
Enggak anak-anak, orang dewasa pun banyak yang masih mabuk kendaraan. Pening pala bebie! Percaya deh, di tas mereka, biasanya ada perbekalan keresek untuk menampung muntahan. Hoeks!

Masih bagus, ya, yang bekel keresek. Nah, ada yang maen sembur sembarangan. Angkutan umum kita belum canggih. Belum diciptakan lantai kendaraan yang waterproof. Kalau sengaja berhenti untuk mengepel bekas muntahan, bisa hilang pendapatan satu rit. 

Selain kotor, baunya itu, loh, keangin-angin. Bahkan, aromanya bisa memancing penumpang lain untuk ikutan muntahan. 

Tiba-tiba, saya membayangkan, diciptakan angkutan yang menyiapkan penampung muntah di pintu masuk. Saat masuk, ada mesin yang mesti dipencet. Ketika memencet “+keresek”, maka tarif yang dikenakan akan berbeda dengan tarif normal. Atau ada khusus kursi untuk yang terbiasa muntah. Di ruangan itu, disiapkan amunisi pencegahan dan antisipasi muntah. Aroma terapi, minyak gosok, dan wastafel, ha…ha…! Angkutan umum yang kayak gitu, berapa ya, tarifnya? Gak mungkin Rp 3.000, deh! 

Kenali Batas Diri

Akhir semester bagi mahasiswa artinya selain belajar untuk ujian akhir semester (UAS) juga tumpukan tugas kuliah yang mesti diselesaikan. Terlambat dikumpulkan, sama saja bunuh diri dan menandatangani KRS untuk mata kuliah yang sama di semester mendatang. 

Akhir semester bagi saya, sama artinya dengan tingginya permintaan menjadi responden. Tidak hanya dari mahasiswa jurusan jurnalistik, sesuai bidang pekerjaan saya, tapi juga jurusan-jurusan lainnya. 

Untuk urusan jadi responden-responden ini, nih, saya jadi rada judes. Bukan apa-apa, terkadang rasanya seperti diteror. Baik yang sifatnya tatap muka atau via surat elektronik. 

Yang lebih ngagetin kalau sistemnya ‘asal tembak’. Lebih mirip kayak ulangan dadakan dimana saya sedang mengetik berita tiba-tiba disodori lembar kuesioner yang harus selesai diisi dalam 15 menit. Model seperti ini, yang saya ingat, sudah dua kali terjadi. 

Pertama, untuk mahasiswa jurusan Arsitektur. Pertanyaannya soal bangunan herritage. Saya ditanya pernah datang ke situ, bagus enggak bangunannya, bagus enggak perawatannya, dan lain-lain sebagainya. Nah, saya ini awam soal bangunan Arsitektur. Jawaban saya, ya, aslinya enggak pake mikir. 

Yang kedua, mahasiswa psikologi. Karena petunjuknya jawablah sesuai yang Anda rasakan, maka pertanyaan itu saya jawab pake hati dong. Yang paling emosional ketika pertanyaan yang muncul, terkait tantangan pekerjaan ini dan bagaimana solusinya. Asli, saya tulis kalimat emosional. Ada kalimat, “Silakan bayangkan”. 

Seharusnya untuk psikologi, di halaman pembuka kuesioner itu ada semacam data profil responden. Data itu sebagai profil awal yang diwawancara bisa berkaitan dengan keluarga, masa kerja, atau pun kondisi ekonomi. 

Terakhir yang saya alami adalah mahasiswa tingkat akhir yang tiba-tiba kontak saya di what’s app. Dia bilang tahu nomor saya dari temannya. Yang agak mengesalkan ketika dia tanya pekerjaan saya di kantor. 

Bukankah seharusnya sebelum dia kontak saya, dia tahu pekerjaan saya. 

“Kenapa tidak sekalian kamu tanya sama temen kamu apa pekerjaan saya?” 

Dia pun menjawab kalau saya ini wartawan tapi dia tidak tahu saya wartawan tulis atau foto. Satu lagi kelemahan si mahasiswa yang tidak mencari tahu profil saya lebih dulu. At least make me impress!

Saya yang kadung kesal meninggalkan percakapan karena kebetulan posisi saya sedang bekerja di luar. 

Malamnya dia kontak saya lagi dengan pertanyaan apakah saat itu saya sudah santai atau tidak. Bagi saya, di kantor saya adalah karyawan. Ketika saya sudah di rumah, saya jadi istri dan ibu dari dua anak saya. Jadi tidak ada kata ‘santai’. Sibuk? Memang!

Besoknya dia kontak lagi dengan pertanyaan serupa. Saya jelaskan aktivitas saya seperti apa. Baru dia menjelaskan tujuan dia menghubungi saya. Untuk skripsi dia! 

Oke, saya memang judes! Waktu saya mahal. Mahal sekali. Makanya ketika rileks saya akan lebih banyak beraktivitas bersama keluarga saya karena mereka itu tidak ternilai. Jadi ketika saya menolak permintaan dia, bukan karena sombong. Tapi saya sudah dapat memprediksikan kesempatan saya bersama keluarga semakin sempit.

Saya juga pernah merasakan di posisi dia. Tapi bukan karena enggan menolong. Menolong orang itu harus dengan ikhlas dan luang. Saya merasa tidak mampu memenuhi keduanya. Daripada saya iyakan, tapi di tengah-tengah saya menyusahkan, tugas akhir dia akan kacau. 

Jadi lebih baik saya menolak. Agar dia mampu mencari nara sumber yang lebih layak buat mengisi tugas akhirnya. ***

Nomor Tak Dikenal? Abaikan!

“Kring…Kring…,” telefon genggam saya menyala. Bunyinya memang “Kring”, karena nada android itu terlalu mainstream. Bikin kita kegeeran waktu telfon orang lain bunyi. Tengsin!

Berkali-kali bunyi, berkali-kali pula saya abaikan. Nomornya tidak dikenal. Khawatir telfon hipnotis.

Tapi kemudian saya berpikir positif. Kalau ada yang kasih rejeki gimana? Saya angkat lah telfonnya.

“Mba Dewi, saya Kunto Aji (nama samaran). Saya mau minta Mba liput peresmian sekolah kami di ruko nganu. Bisa ya?”

Peresmian sekolah? Agak malas juga. Tapi beruntung saya mampu ngeles. Kebetulan ada agenda liputan bentrok. Saya bilang kalau tidak keberatan saya dikirimi rilis saja. Fix! Dia mau.

***

Esok sore.

Ketika saya dibonceng si Abah, ada telfon dari nomor yang sama. Saya angkat. Mungkin dia mau mengabari soal email yang saya minta. Ternyata bukan.

“Mba, saya mau minta datang meliput malam ini. Ada pertemuan orang tua atau open house gitu. Di tower ngitu. Bisa ya?”

“Waduh, malam ya, Pa? Saya nggak bisa. Pengasuh anak saya sudah pulang. Malam itu, saya sudah nggak bisa diganggu kerjaan.”

“Mba kan wartawan, harus siap kapan saja. Bawa saja anaknya Mba.” (Kupret, dia pikir anak saya itu semacam boneka yang bisa duduk manis. Ditinggal lima menit aja, rumah bisa kayak kapal pecah)

Ini orang sudah mulai rese. Dia nggak sadar sudah masuk ke kategori “orang yang berpotensi” masuk daftar hitam saya. Dia pikir hidup saya buat kerja. Kerja memang ibadah tapi nggak semua ibadah itu ada di kerja.

Si Kunto terus mendesak. Dia minta wartawan lain. Saya jawab, “nggak bisa begitu Pa. Mereka juga tidak bisa diminta mendadak.” (#sahaaing bisa nyuruh-nyuruh seenak udelnya gitu)

Singkat cerita, saya sudah menolak dengan keras. Saya ogah dipaksa kayak begitu. Dan, nomor itu sudah saya tandai.

***

Hari berikutnya.

Kunto menelfon lagi. Bukannya sudah saya tandai untuk diblokir? Kenapa saya angkat? Ya, pasti saya angkat karena nomor depannya itu sama dengan nomor kantor saya. Mungkin karena mereka searea.

Dia tanya kenapa beritanya belum naik. Sumpah, deh, email kiriman dia belum saya buka. Saya akui kalau belum cek.

Waktu saya cek isinya, ada dua lampiran. Lampiran yang nggak banget saya bikin beritanya. Ternyata pemahaman dia soal rilis itu nol besar. Dia kirim power point isi visi misi sekolahnya. Lampiran kedua, isi acara open house. Rilis? Bukan, masih PDF.

Kalau pun saya memaksakan bikin, siapa yang jadi nara sumber? Nihil.

Lagi pula itu isinya full promosi sekolah. Enak bener, promosi gratisan.

Sekali, dua kali, hingga tiga kali dia tanya soal pemuatan berita. Kalau ini melalui email. Saya jawab juga pakai email.

“Maaf Bapak, email yang Bapak kirim lebih cocok untuk advertorial. Sebaiknya Bapak hubungi bagian iklan atau sirkulasi kantor kami untuk bekerja sama. Saya jamin, adanya kerja sama itu akan menjamin tulisan tentang sekolah Bapak dimuat.” (Tentunya membayar tarif yang ditentukan kantor. Bisa pasang iklan atau beli koran).

Setelah email itu saya kirim, sim salabim, sampai sekarang nomor itu tak berkirim kabar. Pun emailnya. Nuhun gusti.

Happy 5th Anniversary

Tanggal 23 April tahun ini, tepat di hari Sabtu. Seperti tanggal 23 April lima tahun lalu. Tidak terasa.

Sabtu lima tahun lalu, waktu saat ini, waktu Ambu dan Abah melepas lelah menjadi Raja-Ratu sehari. Memang melelahkan karena pekerjaan kami seharian hanya duduk, berdiri, bersalaman, lalu duduk, berdiri, bersalaman, hingga tamu habis. Tapi itu gerbang kami untuk hidup dengan segala kompromi.

Kami berikrar untuk saling menjaga hingga seumur hidup kami. Kami tahu tidak akan mudah menjalaninya. Sepanjang waktu perjalanan pernikahan kami, akan ada banyak batu kerikil yang mungkin berbara yang harus kami injak. Terkadang salah satu di antara kami hampir menyerah untuk melaluinya, tapi niat kami untuk terus bersama terus menguatkan kami.

Lima tahun bukan waktu yang pendek. Kami bertahan dengan dua buah hati. Kami belajar terus seumur pernikahan kami.

Kompromi. Itu yang kami masih pelajari. Sulit meredam ego masing-masing. Tidak mudah mengalah pada pasangan. Selalu ada pemikiran harus ada yang menang dan kalah.

Tapi pernikahan tidak seperti itu. Kompromi harus terus dilakukan sepanjang pernikahan kami.

Hhhm… merangkai kata untuk lima tahun pernikahan juga termasuk langkah yang sulit dilakukan. Karena, setelah lima tahun ini, kami harus lebih kuat menghadapi lima tahun berikutnya dan lima tahun berikutnya hingga malaikat maut menjemput salah satu di antara kami.

Karena sangat sulit, maka akan lebih mudah bila Ambu mengutip lagu Sheila on 7 yang menggambarkan masa depan pernikahan kami.

Saat aku lanjut usia
Saat ragaku terasa tua
Tetaplah kau selalu di sini
Menemani kami bernyanyi

Saat rambutku mulai rontok
Yakinlah ku tetap setia
Memijit pundakmu hingga kau tertidur pulas

Genggam tanganku saat tubuhmu terasa linu
Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu

Kita lawan bersama dingin dan panas dunia
Saat kaki tlah lemah kita saling menopang

Hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati, sampai jumpa di kehidupan yang lain

Saat perut kita mulai buncit
Yakinlah kita tetap yang terseksi
Tetaplah kau selalu menanti
Nyanyianku di tempat ini.

Happy 5th Anniversary, Bah! Love you always till the end!

Priceless

Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Apalagi memimpin banyak orang. Mengatur dan menyamakan pemikiran ribuan kepala itu memerlukan keterampilan. Tapi, hal itu selalu tampak mudah bagi orang yang sepertinya diberikan keistimewaan untuk memiliki banyak pengikut.

Fumio Kindaichi, tokoh rekaan dalam sebuah dorama Jepang “Priceless” memiliki jiwa kepemimpinan itu. Ia memiliki banyak pengikut. Bahkan 1.507 pegawai di perusahaan kakak tirinya saja rela resign demi menjadi follower Kindaichi. Mustahil, kan? Ya iya, karena itu hanya kisah rekaan.

Kisah leadership yang minim romance itu setidaknya pasti terinspirasi oleh kisah nyata seseorang. Saya lanjut lagi, ya, ceritanya. Kindaichi semula bekerja di perusahaan ayahnya yang kemudian dipimpin kakak tirinya setelah sang ayah meninggal. Padahal pemilik Miracle Thermos itu justru akan memberikan perusahaan pada Kindaichi. Sebelum meninggal, pada anak sulungnya, ia berbisik. Bahwa, hanya Kindaichi yang pantas menjadi direktur penerus.

Seakan menantang wasiat ayahnya, yang hanya diketahui anak sulung dan asistennya, roda perusahaan ia jalankan. Kerja pertamanya, mendepak Kindaichi dengan tudingan mencuri rahasia perusahaan. Tidak cukup, apartemen Kindaichi pun dibakar.

Kindaichi jatuh miskin. Ia tinggal di kontrakan murah yang tarifnya 500 yen sehari. Demi 500 yen, Kindaichi kerja apa saja mulai dari memulung botol dan gelas plastik hingga pelayan restoran udon dan ramen.

Di perusahaan yang memecatnya, ada staf keuangan, Nikaido yang mengusut dugaan pencurian oleh Kindaichi. Ia malah dipecat dan kemudian tinggal bersama Kindaichi. Setelah Nikaido, manajer marketing Moai menyusul. Mereka bertiga tinggal di satu kamar yang hanya muat satu kasur besar.

Untuk bertahan hidup, mereka memulai usaha jualan hot dog. Bermodalkan roda hadiah mantan bos udon Kindaichi dan hot dog bikinan bos ramen, bertiga berjualan di depan Miracle Thermos. Saat itu, namanya berubah Miracle Electronics dan tak lagi berjualan termos. Semua prototipe termos dibuang. Semua perusahaan mitra diputuskan kontraknya.

Kindaichi lalu berniat menjual termos. Dengan bantuan modal dari rekan ayahnya, ia berhasil memproduksi 200 termos yang mampu menahan panas air hingga dua hari. Laku? Tidak. Harganya terlalu mahal. 60.000 yen.

200 termos itu terpaksa digudangkan. Dimana lagi, selain di kontrakan mereka yang sesak itu. Tapi satu termos hilang. Ternyata dibeli seorang jurnalis pereview produk. Artikelnya membuat Kindaichi kewalahan dengan pesanan.

Ia kemudian merangkul mantan mitra Miracle Electronics yang dibuang. Lebih dari 10 perusahaan memproduksi Happiness Thermos. Tidak mampu memproduksi sesuai target, satu perusahaan mitra berniat mundur. Bukannya merelakan, Kindaichi malah berniat membubarkan perusahaan yang baru dirintisnya itu.

“Saya ingin membuat termos bersama keluarga. Bukan hanya profit,” begitu alasannya.

Dengan bantuan mitra lain, mitra yang berniat hengkang itu kembali. Di saat pesanan membludak, muncul masalah baru. Kakak tirinya mengajukan gugatan atas hak paten termos yang diproduksi. Tidak usah melihat angka ganti rugi, Kindaichi akan segera bangkrut. Karena saat gugatan diajukan, produksi harus berhenti.

Keputusan Kindaichi mengejutkan lagi, ia meminta kakaknya menarik gugatan. Ia berikan Happiness Thermos. Asalkan, kakaknya mau meneruskan dan tetap memakai mitra-mitranya. Kakaknya sepakat lalu mengingkarinya. Itu yang akhirnya menghilangkan kepercayaan ribuan karyawannya.

Kali ini giliran kakak Kindaichi menyerahkan perusahaan tanpa karyawan pada Kindaichi. Meski semua karyawan memihak Kindaichi, tetap sulit mengembalikan kepercayaan mitra dan publik. Kindaichi tetap pada obsesinya membuat termos. Kali ini, yang tahan tiga hari panasnya. Suksesnya? Mungkin saja. Karena saya belum menyelesaikan tontonan itu.

Mungkin sedikit pemimpin yang memiliki pengikut loyal. Dan banyak pemimpin yang hanya ingin tampak ‘wah’ sebagai pemimpin. Demi impian baru, rela melepaskan mitra dan anak buah yang selama ini sudah seperti keluarga. Ada juga pemimpin yang tidak mau tahu dengan ketidakmampuan mitranya. Mitra dipaksakan bekerja tanpa batas padahal semua ada batasnya.

“Kita bukan robot,” kata salah satu karyawan yang memulai aksi resign.

Karena ada yang priceless dari sebuah pekerjaan: ikatan kekeluargaan. (*)

Mau Enggak Berinovasi?

Tulisan ini saya buat ketika terjebak dalam liputan di wilayah perbatasan Bandung-Sumedang. Yup, liputan pemilihan Ketua IKA Unpad.
Saya lupa kalau ini Minggu karena bekerja dari jam delapan pagi sampai sekarang belum selesai kerja. Disebut lembur? Entahlah. Ha…Ha…
Kenapa pemilihan yang menghitung pembagian 1.541 suara itu begitu lama? Karena kami berasa kembali ke jaman pilkada, dong! Dimana memilih pemimpin alumni berbekalkan kertas dan paku. Tak ada acara sentuh dan colek. Padahal kita sudah terlatih dengan model sentuh dan colek itu.
Panitia beralasan, waktu pakai sistem e-voting, di pemilihan 2012, sistem sempat hang. Akibatnya, adu mulut, lah, para tim sukses. Solusinya, pemilihan dilanjutkan dengan musyawarah mufakat.
Logika saya mulai kaweur. Sejak SD, diajarkan musyawarah untuk mufakat lebih dulu. Bila tidak mufakat, baru voting. Nah ini, voting dulu baru mufakat.
Kejadian yang sama berulang. Ada selisih surat suara. Sampai 60 surat. Sedikit gaduh, dan sebelum pukul 11 malam, diputuskan sedikit berbeda dengan empat tahun lalu.

image

Saya menilai model pemilihan seperti kembali ke jaman batu. Kita yang tidak mampu mengendalikan teknologi, menyerah.
Mungkin mereka lupa bahwa yang menciptakan teknologi itu manusia. Ketika sistem lemah, bikin inovasi. Bukankah tool bikin aplikasi lebih mudah. Saya yakin pasti bisa, kok, buat aplikasi untuk basis data alumni atau pemilihan umum. Anak SMA saja mampu bikin aplikasi absensi yang hanya bisa diakses dengan wi-fi sekolah.
Saya yang orang biasa saja, bisa membayangkan apa yang harus dibuat untuk memudahkan pemilih. Kenapa tidak mencontoh voting reality show Rising Star. Ketika bicara one man one vote, enggak usah khawatir duplikasi data. Alamat IP internet itu unik. Apalagi kalau pakai ponsel, mudah didata.
Dan jangan lupa, Unpad punya Ketua MWA sekelas Rudiantara. Pasti gampang cari pembuat aplikasi andal. Soal duit, enggak ragu, pasti buanyaaakkkkk. Yang paling penting, mau enggak buat lari berinovasi dan tidak dikendalikan teknologi. Mau enggak?

*sebuah catatan dimana liputan melampaui 12 jam di hari Minggu*

Life is Short, then Work Something Awesome

image

“Life is short. Then, let’s work something awesome.”

Tadi siang pemegang halaman gaya hidup mengabari saya adanya tulisan yang mengapresiasi tulisan saya yang pernah dimuat pada 3 April lalu. Kaget sekaligus penasaran.

Pertama, saya merasa mendapat feedback positif dari penanggung jawab halaman tentang apa yang saya buat. Sedikit penghargaan itu berarti banyak buat kami yang cuma bawahan. Tak perlu hal mewah, kata “terima kasih” pun sudah cukup.

Dan penghargaan itu semakin wah ketika saya membaca tulisan di tautan yang dikirimkan itu di : http://www.kompasiana.com/dewinurbaiti/kejar-passionmu_5708fdbb2f937348075393e1. Ini kekagetan saya yang kedua.

Jujur, apresiasi untuk tulisan “santai” seperti ini memang sering saya rasakan. Berbeda dengan tulisan “seriusan”, yang kalau bagus jarang direspon. Sekalinya, ada satu kata yang kurang pas, diprotes habis-habisan.

Buat saya yang ditempatkan di bagian “seriusan”, ya, yang isinya memang rada kaku, menulis profil di halaman gaya hidup itu memberikan variasi pengalaman kerja. Bertemu dengan pejabat setiap hari, sangat membosankan. Isinya hanya formalitas dan “asal bapak senang”.

Tapi ketika menulis profil, saya berpikir mendalam. “Bagian hidupnya yang mana dari nara sumber saya ini yang bisa menginspirasi orang?”

Saya tertantang dengan penulisan gaya seperti itu. Dan mereka yang tampil di halaman itu, memang layak. Perjuangan hidup mereka yang bergelombang yang telah membawa mereka pada titik sebagai inspirator.

Para inspirator itu, tidak pernah menyadari bahwa jejak hidupnya telah memotivasi orang lain. Ada orang yang mengingatkan apa yang dilakukannya itu mesti dibagikan pada orang lain. Dan mengarahkan supaya mereka itu narsis, sangat susah.

Pernah saya bertemu nara sumber yang sudah berkisah panjang lebar, tapi di akhir, ragu untuk mempublikasikan kisahnya. Itu jadi tugas berat saya untuk meyakinkan dia terus maju.

Ada pula yang merasa kisahnya inspiratif. Tapi, sebenarnya biasa saja, he..he..

Itulah seninya proses penulisan ini. Gara-gara saya menulis untuk rubrik itu, ada yang mengira saya pindah bagian. Betapa kakunya gaya menulis saya kalau terus bergumul di gaya penulisan yang kaku.

Sekali lagi, bagi saya menulis profil seseorang dengan panjang merupakan variasi pengalaman kerja yang akan membuat saya semakin kaya ilmu. Karena saya ingin bahagia dengan apa saya lakukan.

Bagi seorang pekerja, kebahagiaannya dalam bekerja adalah ketika ada tantangan baru dan variasi pengalaman kerja. JobStreet.com pernah mensurvey 4.600 pekerja. Salah satunya berkaitan kebahagiaan dalam bekerja.

Satu di antara hasil survey menunjukkan sebanyak 2.500 pencari kerja menyatakan tidak bahagia terhadap pekerjaannya. Faktor utamanya, kurangnya variasi pekerjaan yang diberikan. Ternyata perusahaan tidak memikirkan bentuk pekerjaan yang dapat mengembangkan keahlian sehingga pekerja mudah bosan.

Sebanyak 2.100 responden yang telah bekerja 5-15 tahun mengatakan variasi bentuk pekerjaan menjadi faktor penting agar bisa selalu memperkaya diri dengan hal-hal baru.

Nah, kalau Anda, apa yang membuat bahagia dalam bekerja?

Akal-akalan Driver Go-Jek

Dulu Go-Jek bisa dibilang sebagai alat transportasi yang dapat diandalkan. Tidak lama setelah order, akan datang telfon konfirmasi driver akan segera menjemput. Kurang dari lima menit, driver datang menjemput.

Namun, sebulan terakhir, kenyataan yang terjadi malah berkebalikan. Konfirmasi penjemputan terkadang jauh dari kejelasan. Ancer-ancer lima menit, malah baru datang lima belas menit kemudian. Belum lagi persoalan harga yang semakin mahal dimana terakhir saya cek per kilometer dipatok harga Rp 2.000.

Dulu, ada fenomena kalau driver seakan menjemput penumpang. Sekarang terbalik, driver meminta konsumen cancel booking, tapi tetap dijemput dan diantarkan.

“Kalau order saya ambil, nanti saldo saya negatif,” itu alasannya.

Sudah dua kali saya diperlakukan demikian. Mereka tetap mengantar dan saya membayar sesuai dengan tarif yang tertera. Uang itu akan masuk ke saku mereka tanpa berbagi dengan perusahaan mitra mereka.

Driver Go-Jek yang saya tumpangi tadi menyebutkan, bila konsumen yang dilayani berjarak dekat kurang dari 8 kilometer atau setara dengan Rp 16.000, maka akan jadi negatif di sistem. Jadi itu akal-akalan driver yang nakal.

Kenakalan driver mengelabui sistem masih banyak jenisnya. Untuk menunjukkan di GPS mereka ada di tiga tempat sehingga lebih banyak order yang masuk, mereka memanfaatkan GPS bikinan seharga Rp 50.000. Ada juga yang bermain dengan sistem order. Driver menganjurkan konsumen memilih Go-Food ketimbang Go-Ride. Pasalnya, kredit dari Go-Food tiga kali dari Go-Ride. Meskipun tarif mengantarkan sama saja.

Dan, sudah tidak aneh bila menemukan driver yang menjemput tidak sama dengan yang ada di foto. Ini mirip sopir angkot aliran serep-serepan. Yang jadi masalah, kita akan kesulitan melacaknya bila ia berbuat tidak nyaman pada kita selama di perjalanan.

Namun, konsumen tetap memanfaatkan jasa transportasi online tersebut. Karena masih ada keyakinan, kalau driver seperti itu hanyalah oknum. Dan, percayalah cara mereka itu tidak akan membawa berkah. Harapan lainnya, semoga perusahaan tersebut dapat memperbaiki sistemnya dan tetap melayani dengan harga yang murah. Ngarep! (*)

Jangan Bawa Anak-Istri, Mang!

Yes, pesan itu saya peruntukkan bagi sopir angkot yang mungkin terpaksa bawa anak-istri saat nambangan. Kenapa coba? Pertama, ribet. Kedua, riweuh. Ketiga, paciweuh.

Pengalaman saya siang ini dengan sopir angkot rada menyebalkan. Sebut saja namanya Mang Digo Daramang, anagram dari pelat nomor angkutannya. Di jok depan sebelah sopir ada seorang wanita memeluk anak kecil yang tidur di pangkuannya. Mungkin itu anak dan istri Mang Digo. Tas perempuan ala-ala Hermes nangkring di dashboard yang mungkin menghalangi spion kiri angkot.

Mang Digo tidak protes meskipun kaca spionnya menghilang ditutup tas. Rada sieun kalau dia disentak sang istri karena menyingkirkan tas pujaannya yang maha penting itu hingga memiliki tempat di dashboard. Dan lagi, akan hancur harga diri Mang Digo dicarekan sama istri di angkot, saat kerja. Mau dikemanakan wajahnya di depan para penumpang yang sebenarnya tidak dia kenal. Ya sudah, Mang Digo hanya mengandalkan insting apa ada kendaraan di kiri yang berupaya menyalipnya.

Sepanjang perjalanan, tidak jelas apa yang dibicarakan antara Mang Digo dan istrinya. Saya menduga Mang Digo berupaya menunjukkan betapa keras persaingan para sopir angkot berebut penumpang. Dengan gaya pembalap gagal, dia menyetir salip kiri dan kanan seenaknya. Tidak menghiraukan penumpang di belakangnya seperti cendol yang diuplak-eplok. Bisa olab kami di belakang. Tidak ada keresek yang dapat menampung muntahan kami, karena harganya mahal. Meskipun Rp 200 tiap kereseknya, saya jamin Mang Digo tidak mau menanggungnya.

Di belakang, kami, para penumpang hanya bisa merapal sumpah serapah. Sesekali berteriak kepada Mang Digo agar dia lebih berhati-hati mengendalikan setirnya. Anehnya, istrinya diam saja seperti menikmati setiap goyangan mobil saat bantingan setir mengentak ke kanan dan kiri. Saya malah curiga, bawaan Mang Digo mengemudi itu atas permintaan istrinya. Teungteuingeun.

Selama ini, yang sering dikenai uji emisi hanyalah kendaraan. Tidak pernah saya dengar ada uji emosi untuk sopirnya. Uji urin pun hanya dilakukan setahun sekali. Itu pun untuk sopir bus pada saat akan Lebaran. Sesuai anggaran yang tersedia.

Saya tahu menjadi sopir angkot itu berat. Apalagi dikikintil sama istri dan anak. Seakan si istri tidak ada pekerjaan di rumah sehingga wajib mengawal suaminya. Belum lagi setoran yang harus dipenuhinya. Jika kalah dalam persaingan perebutan penumpang, bisa-bisa uang dapur dipakai menambal kurangnya uang setoran.

Sudah bukan rahasia lagi kalau sebenarnya pemilik angkot itu bukan pengusaha angkot. Dia hanya menyewakan angkotnya pada sopir. Si sopir hanya akan kebagian sisa uang setoran, yang jumlahnya tidak tentu. Tidak ada gaji tetap, apalagi tunjangan. Pemilik angkot pun tidak menanyai apa sopirnya memiliki izin mengemudi atau tidak. Selama aman dan setoran lancar, soal surat izin mengemudi, pemilik angkot seakan tutup mata.

Kebijakan pemerintah pun tidak sampai pada persoalan kesejahteraan sopir angkot. Yang masih diurusi hanya seputar izin trayek. Persoalan gaji, masih di awang-awang. Mungkin akan lain ceritanya, bila sopir angkot itu adalah karyawan. Lain kisah, bila yang distandarisasikan itu tidak hanya kendaraan laik jalan. Kalau sudah begitu, tak perlu lagi ada kisah sopir yang membahayakan penumpangnya.(*)