Duh, Ibu RT Senang Main Domba

Kalau suaminya jadi kepala daerah, istrinya pun tak kalah sibuknya sebagai istri pejabat. Mulai dari jadi ketua PKK, lah, atau    jadi Ketua Dekranasda, atau Ketua yang berurusan dengan kekerasan wanita dan perlindungan anak.

Ternyata, sampai tingkatan RT pun berlaku demikian. Ibu RT malah lebih sibuk dengan urusan para tetangga. Nah, Ibu RT di kampung ibu saya ini termasuk sangat peduli dengan wanita dan anak-anak di RT-nya. Lebih tepatnya, sih, rese! Alias terlalu mencampuri urusan warganya. 

Ai yang tukang dagang seblak berteman akrab dengan Tina yang ibu rumah tangga dan Ami yang jadi karyawan di mini konveksi Ibu RT. Setiap hari, Tina dan Ami belanja seblak di warungnya Ai. Bahkan setiap hari libur mereka sengaja botram. 

Namun beberapa minggu terakhir aktivitas mereka bertiga tidak tampak. Hubungan mereka sepertinya renggang. Usut punya usut, itu terjadi setelah Ibu RT menginterogasi Ami yang berada dalam kekuasaan dia. Interogasi itu berkaitan dengan konten obrolan antara Ami, Ai, dan Tina selama bersama. 

Ibu RT menanyakan apa yang dibicarakan, siapa yang dibahas, dan kenapa harus dibahas. Tahapan berikutnya, tahapan penyembuhan. Memangnya penyakit. Ibu RT meminta Ami tidak lagi banyak berkumpul. 

“Tidak ada manfaatnya. Hanya bergosip,” katanya. 

Nah, investigasi Ibu RT tidak hanya di situ. Ia mulai menyelidiki keseharian Tina yang kebetulan kontrakannya hadap-hadapan dengan Ibu RT. Kebetulan, Tina, selain berbelanja ke warung Ibu saya juga, agak sering berlama-lama di rumah Ibu saya. Mengasuh anak semata wayangnya yang bermain dengan anak saya. 

Tiap hari, Tina bisa berjam-jam berada di rumah Ibu saya. Ia pulang ke kontrakannya hanya untuk memasak, tidur siang anaknya, dan mengangkat jemuran. Baru pulang di sore hari setelah suaminya pulang. Tapi, tidak jarang di malam hari juga berkunjung. 

Ternyata oleh Ibu RT itu dikategorikan sebagai kunjungan haram. Ia memperingatkan Tina agar mengurangi kunjungannya ke rumah Ibu saya. 

Peringatan itu ampuh. Perlahan tapi pasti, frekuensi Tina belanja dan mengasuh anaknya berkurang. Bahkan ia selalu menghindar tatkala anak saya ingin bermain dengan anaknya. Ia hanya membiarkan anaknya bermain dengan dua anak Ibu RT.

Kadang yang bikin saya sakit hati melihat anak saya duduk di teras rumah Tina. Sementara di dalam rumah ada tiga orang anak bermain bersama. 

Si Ibu RT ini juga ternyata ahli komunikasi aktif yang baik. Bila ada satu warga yang membicarakan orang lain dengan sepengetahuan dia, maka dijamin 100% ucapan itu akan segera diketahui oleh orang yang dibicarakan. Mungkin itu bagian pelayanan yang diberikan. 

Rupanya layanan Ibu RT itu banyak dibicarakan orang. Mereka menilai seharusnya Ibu RT memberikan teladan pada warganya. Bukan mengadukan warganya dan memecah belah hubungan mereka. 

Jika ingin menjauhkan warga bergosip, ajak mereka lebih aktif dengan kegiatan sosial di lingkungannya. Tapi yang jadi cibiran adalah Ibu RT yang tidak pernah ikut pengajian padahal rumahnya bersebelahan dengan masjid. Tidak heran peringatan Ibu  RT oleh sebagian besar warga hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. 

Tidak mudah, loh, jadi pemimpin. Tidak mudah menciptakan keadilan untuk warganya. Selama pemimpin itu tidak bisa meraba hati warganya. ***

Tulisan ini sengaja dibuat malam hari jelang sahur. Karena kalau siang, pasti saya akan naik darah dan mengurangi makna berpuasa, he…he…

Advertisements

Pernikahan Sederhana Ai dan Agus

Malam ini akan jadi malam yang bersejarah untuk Ai dan Agus. Mereka berikrar dalam ikatan suci untuk saling menjaga hingga maut memisahkan. Dan, semoga memang hanya maut yang akan membuat mereka terpisah.

Bagi Ai dan Agus, ini bukan pernikahan pertamanya. Agus sudah menikah sekali. Dàri perkawinan pertamanya, ia beroleh seorang anak.

Sedangkan bagi Ai, dengan Agus adalah pernikahan ketiganya. Dari dua pernikahan sebelumnya, Ai memiliki tiga anak.

Yang unik dari pernikahan mereka, tidak ada kesan sakral dan istimewa. Pernikahannya begitu sederhana. Tapi, bagi tetangga, sebuah kewajiban melihat mereka mengucapkan ijab kabul. Meski tak berdandan mewah, tidak sedikit tetangga yang sengaja datang dan mengintip dari kaca. Tidak sedikit juga yang berucap, ”akhirnya.”

Kata akhirnya memang layak disematkan pada mereka berdua. Bukan satu atau dua tahun, mereka sangat dekat. Keduanya memiliki usaha bersama. Ditambah lagi, kamar kontrakan mereka bersebelahan. Tidak heran ada yang beranggapan mereka itu sudah kumpul kebo. Tudingan yang tak perlu dibuktikan karena hanya santapan gosip para tetangga.

Sudah lama Ai ingin meresmikan hubungan dalam sebuah pernikahan. Tapi, Agus selalu maju-mundur. Agus seolah-olah masih kurang yakin dengan perasaannya pada Ai. Dia selalu beralasan masih menabung untuk menikah dengan Ai.

Padahal, hanya sejak bersama Ai, usaha Agus tampak kian maju. Usaha mereka berdua itu berjualan seblak dan bakso. Terkadang Agus berjualan gorengan keliling. Namun, belakangan mereka berdua kompak hanya berjualan seblak dan bakso. Seharusnya, melihat kemajuan usahanya, Agus menyadari bahwa Ai adalah wanita keberuntungannya.

Agus akan sangat menyesal bila melepas Ai. Ia belum tentu akan mendapat pengganti yang lebih baik dari Ai. Belum lagi, omongan tetangga akan semakin pedas. Tidak menutup kemungkinan bila Agus memutuskan hubungannya dengan Ai, maka itu pula saat ia harus hengkang dari kampung kami.

Ketika akan menikah pula, terungkap fakta bahwa Ai belum resmi bercerai dari suami sebelumnya. Ternyata, suami Ai hanya menceraikannya secara lisan. Tidak ada proses perceraian resmi di Pengadilan Agama. Agar pernikahannya mulus dengan Agus, Ai harus ‘membeli’ akta cerai senilai Rp 1 juta.

Saya percaya bahwa jodoh kita adalah jimat keberuntungan. Dan saat kita menikah dengan jodoh kita, maka pintu rejeki itu akan semakin terbuka lebar. Berkah dari Tuhan tak pernah berhenti. Dan, kita hanya mampu bersyukur menjawab pemberian Tuhan.

Saya pun sebagai tetangga, hanya bisa berharap, bahwa pernikahan itu adalah pernikahan terakhir untuk keduanya. Dan Mang Pandi, ayah Ai, tak perlu lagi menjadi wali Ai untuk kali keempat. Tiga kali, sudah cukup. (*)

Pernikahan Dini Ceu Mus

Pagi ini, Ceu Mus membangunkan tidur saya. Suaranya yang nyaring nyaris membuat saya melompat dari kasur. Tapi, saya mampu menahan diri dan saling berpandangan dengan Kinan, yang ternyata turut terjaga.

Ceu Mus berteriak bak orang kesurupan. Saya dengarkan teriakannya. Oalah, ternyata dia sedang memarahi anak keempatnya yang masih dua tahun. Saya terjemahkan saja ke Bahasa Indonesia, karena amarah Ceu Mus itu diucapkan dalam Basa Sunda.

“Kamu ini, kalau mau buang air besar bilang! Bukan malah diam di belakang pintu!”

Tidak lama datang anak keduanya si Jake yang usianya 8 tahun. Dia pun turut kena getahnya.

“Jake, kamu urus adik kamu. Cebokin sampai bersih. Dan kasih tahu, kalau mau buang air, ke WC.”

Hmmm .. kalau pakai akal sehat, itu anak usianya baru dua tahunan. Mending kalau sudah bentes ngomong. Kalau belanja ke warung pun, saya berusaha menerjemahkan bahasanya dengan berulang kali bertanya.

Ini bukan kali pertama Ceu Mus marah marah begitu dahsyat hingga membangunkan tetangga. Tebakan saya faktor psikologis Ceu Mus yang sebenarnya belum siap berkeluarga.

Ceu Mus, mungkin bukan panggilan yang tepat untuk perempuan yang usianya kurang dari 30 tahun itu. Selulus SMP, ia terpaksa dinikahkan dengan Elman, teman sekolahnya. Tidak lama setelah menikah lahirlah, Michael. Si Michael ini terpaksa diasuh oleh ibunya Ceu Mus saat melahirkan anak ketiga yang ternyata kembar (laki-laki dan perempuan).

Si Jake sekarang ini jadi anak sulung bayangan. Atau lebih tepatnya jadi asisten Ceu Mus. Karena si Jake ini memang banyak menambal tugas ibunya, terutama setelah Ceu Mus melahirkan anaknya yang kelima. Sangat produktif bukan?

Pagi hari, sebelum sekolah si Jake mengambil air dengan memakai jerigen bekas ke tempat penampungan air. Kemudian disambung memandikan dua adik kembarnya. Urusan adik kembar belum selesai. Jake lalu belanja bubur dan menyuapi adik-adiknya itu.

Bahkan di saat lonceng sekolah sudah berbunyi, Jake masih repot bolak-balik belanja ke warung untuk kebutuhan masak Ceu Mus. Jarang rasanya melihat Ceu Mus keluar rumah. Yang sering terdengar hanya teriakannya.

Jake tak pernah mengeluh, sepertinya. Tangisan itu tertahan di balik matanya.

Kalau jadwal sekolah siang, pekerjaan Jake bertambah. Ia mencuci pakaian. Pakaian seluruh anggota keluarganya. Hampir semua tetangga tahu, karena tempat cuci baju keluarga Jake itu di luar rumah.

Mungkin ini akibat pernikahan dini dan anti pakai alat kontrasepsi. Lahirnya anak tidak terkendali. Anak yang seharusnya masih dimanja malah berganti peran dengan ibunya. Ketika si anak memerankan ibunya, si Ibu terus asyik dengan ponselnya.

Tapi ketika si anak melakukan kesalahan, caci maki akan mengalir deras. Bagi Ceu Mus, banyak anak banyak asisten. Itulah arti memiliki anak buat dia. (*)