Mereka adalah Bandring

bandring

Sumber: dokumentasi Bandung Birding (bandring)

Anda pasti sering melihat burung terbang di sekitar lingkungan Anda? Ketika burung itu tak lagi ada, pernahkah bertanya pergi kemana burung itu? Mati atau pindah? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terlintas di benak Anda.
Ya, itu tulisan pembuka saya di sebuah tulisan yang dimuat di Edisi PR Minggu beberapa tahun lalu. Tulisan itu berkisah tentang sebuah komunitas yang memiliki kepedulian terhadap burung. Mereka adalah Bandung Briding (Bandring).
Mereka bukan kolektor ataupun breeder. Mereka hanyalah sekelompok orang yang rajin mengamati burung atau bird watching.
Awalnya, anggota Bandring ini hanyalah fotografer biasa dengan aktivitas yang tidak jauh dari memotret wedding dan pre-wedding. Lama-lama, muncul kejenuhan. Terbitlah niat untuk mencoba pilihan lain, tapi tetap memotret. Diputuskan untuk memotret wildlife. “Kami cari yang mudah yaitu memotret burung,” ucap Ahmad Sofyandi yang juga ahli tentang burung.
Lima orang sepakat membasmi kejenuhan dengan memotret burung. Hasil foto mereka dibagikan di media sosial. Mereka rajin menandai foto-foto itu pada rekan-rekannya, entah mereka suka atau tidak pada burung. Anggota Bandring kian bertambah lewat media sosial. Namun tidak mudah bergabung dengan Bandring di media sosial.”Kami lihat dulu rekam jejak mereka di media sosial yang mereka miliki. Kami khawatir mereka punya niat terselubung. Itu pula alasan kami tidak pernah membagi foto hasil buruan kami ke media. Bisa-bisa itu bahan mereka memburu burung untuk dijual,” papar Nugraha Nugie.
Kini anggota Bandring yang aktif berjumlah 20 orang. Usai berburu foto, mereka akan mendiskusikannya. Kesimpulan sederhana: aset Bandung itu banyak, salah satunya burung.
Sayangnya, lokasi-lokasi mereka memotret burung kian berkurang. Penyebabnya, alih fungsi lahan dan perburuan. Ruang terbuka hijau (RTH) terus menyusut. Jauh dari aturan standar, 30 persen dari luas wilayah Kota Bandung. Yang ada sekitar 11 persen pun, terus dipangkas.
Pada 2008, Ahmad pernah mendata ada lebih dari 40 jenis burung di Bandung. Burung-burung ini tersebar di Taman Kota, pemakaman, Takura, dan taman-taman di kampus. Kini susah ditemukan. Salah satunya yang biasa ada di Taman Kota adalah burung Kacamata, yang pandai meniru burung lainnya. Sekarang jarang ditemukan.
Yang memprihatinkan, beberapa waktu lalu, Ahmad tidak sengaja memotret jaring perangkap berukuran 4×2 meter dipasang melintang di antara pohon di Taman Kota. Pemasangan tepat di jalur lintasan burung. Bisa dibayangkan, berapa banyak burung yang terjaring dan kemudian berada di pasar burung. Burung Kacamata saja, terbang selalu berkelompok dengan jumlah paling sedikit 10 ekor. Berarti sekali terperangkap bisa 10 ekor!
Migrasi
Seperti disebutkan tadi, perburuan salah satu penyebab menyusutnya jumlah burung di Bandung. Akan tetapi, alih fungsi lahan juga berperan banyak. Ade Mamad menyebutkan pepohonan di Bandung merupakan lokasi transit tetap pengunjung tahunan. Rutenya tidak berubah.
Mereka yang transit adalah burung-burung dari Cina dan Taiwan seperti Sikatan Bubik, Cikrak Kutub, Bentet Loreng, Jalak Cina, Elang-alap Cina, Elang-alap Jepang, dan Sikep Madu Asia. Namun, kini agak sulit menemukan mereka. Alasannya, semakin berkurang pohon tempat mereka transit.
Dengan membiarkan kondisi seperti ini, alih fungsi lahan dan perburuan, terus berlangsung sama saja artinya dengan merusak ekosistem. Tidak perlu kaget jika generasi berikutnya hanya mengenal jenis burung dari gambar. Mereka tidak pernah melihat wujud aslinya.
Nah, agar hal itu tidak terjadi, Bandring tidak hanya ingin memperkenalkan jenis burung dari foto-foto yang berhasil mereka dapatkan. Tetapi juga mengedukasi masyarakat. Foto-foto yang didapat Ade Mamad, Nugraha Nugie, Ahmad Sofyadi, Awangga Kusumah, Ikbal Ramdhani, Budi Hermawan, dan Deni Rahadian menjadi titik awal untuk tidak memutus rantai ekosistem.
Melalui foto-foto itu, paling tidak tingkat perburuan berkurang. Atau, pikiran untuk memperjualbelikan burung pun terkikis. Secara lebih luas, mengingatkan masyarakat bahwa ruang terbuka hijau itu penting untuk mereka. Kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka hijau cukup besar, begitu juga burung. Oleh karena itu, wajar bila Bandring mengusung slogan, “Manuk Jalma Baraya”.
Anti parfum
Meskipun hanya memata-matai burung lalu memotretnya, tidak mudah dilakukan, loh! Mungkin bagi Anda yang pernah membaca novel “Partikel” karya Dewi Lestari mengingat ada halaman yang menceritakan Zarah di awal karirnya sebagai fotografer wildlife. Ketika memotret di Kenya, ia harus menggali lubang dan mengubur dirinya. Yang tersisa hanya atap kecil di kepala dengan celah yang cukup untuk lensa kamera membidik.
Alasannya, ya, agar tidak mengganggu hewan-hewan liar yang akan difoto. Bisa dibayangkan, jika hewan itu menyadari kehadiran Anda. Bisa jadi malah Anda yang menjadi sasaran mereka. Pulang tinggal nama. Serem!
Memotret burung di alam bebas seperti yang dilakukan Bandring pun serupa. Mereka tidak bolah dikenali bentuk dan baunya oleh burung. Tidak heran jika koleksi pakaian mereka motifnya mirip dengan pepohonan. Sederhananya, mirip kostum tentara.
“Saya sampai sengaja berburu baju-baju yang bisa menyamarkan diri saat membidik burung,” kata Ade Mamad.
Anggota Bandring juga anti-parfum. Berbahaya bila baunya tercium burung. Mereka tidak akan anteng berinteraksi bebas di alam. Bisa saja, waktu transit di pohonnya sebentar karena merasakan ada tanda bahaya akibat aroma parfum.
“Oleh karena itu, lebih baik tidak usah mandi. Berhari-hari tidak mandi, lebih afdol. Menyatu dengan alam, ha ha..” ujar Ahmad Sofyandi.
Memantau burung pun tidak bisa dilakukan dalam waktu yang cepat. Selain memilih lokasi yang biasa dilintasi burung, keberuntungan tidak semata-mata mengikuti. Anggota Bandring bisa berhari-hari memata-matai burung tanpa hasil maksimal. Namun, tidak disangka, burung yang mereka cari malah muncul di halaman rumah, bukan di tempat mereka berburu.
Selain itu, mungkin perlu keterampilan atau lebih tepatnya kenekatan ketika memata-matai burung. Untuk mendapat hasil foto yang maksimal, ada yang nekat memanjat pohon dan menunggu kedatangan burung. Ada juga yang rela mendandani diri seperti pepohonan. Semua dilakukan demi burung. ***

Advertisements

Catatan Tahunan PPDB

Jumpa Pers tentang Pengumuman Hasil Jalur Akademik di Pendopo Walikota Bandung, 4 Juli 2016

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2016 Kota Bandung, katanya sudah usai. Katanya, loh! Karena besok sudah mulai daftar ulang bagi siswa yang diterima di jalur akademik. Jalur non-akademik, mah, malah sudah duluan. Duluan menyisakan masalah juga. Katanya.

Tapi, saya malah baru menulis OPINI saya, sekarang ini. Ya, sekarang ini. Karena memang sempatnya sekarang, sih! Seperti orang kebanyakan, saya ini juga perlu mudik, refreshing, dan menyimpan pekerjaan di laci dulu, lah!

Selain karena baru sempat, saya pikir tulisan saya memang diprioritaskan untuk konsumsi saya. Catatan tahunan saya, mungkin. Karena PPDB ini tiap tahun. Dan, dua tahun ini, saya terlibat di dalamnya.

Tahun lalu, kebanyakan jadi peliput. Dan keterlibatan saya baru sebatas, memindahkan kisah orang ke tulisan. Tapi tahun ini, saya sempat jadi ‘pelaku’. Saya, sekali saja, mewakili kakak sepupu saya mendaftarkan anaknya di jalur non-akademik. Kebetulan, kakak saya yang guru itu, menjadi panitia PPDB juga di sekolahnya. Sehingga, sulit membelah diri guna mengantarkan anaknya mendaftar. Karena sekolah yang dipilih cukup jauh dari rumah, keponakan saya gagal di SMAN 3 Bandung. Tapi saat bertarung di jalur akademik, ia lolos menjadi siswa di SMAN 4 Bandung. Masuknya itu asli karena nilai si anak, loh!

Nah, nilai yang enggak asli itu yang gimana?

Kalau di jalur akademik, yang enggak asli itu kalau si anak Nilai Ujian Nasional (NUN) tidak memenuhi passing grade. Tapi kok, dia diterima? Walahualam!

Begini, ya, konon, tiap penerimaan siswa baru selalu ada kisah siswa siluman. Eh, kalau menyebut siswa siluman, nanti ada yang tersinggung. Tapi, bener, kok, namanya tidak ada dalam penerimaan. Tapi, tapi, tapi, dia bisa daftar ulang. Kalau ngomong ulang, berarti sebelumnya dia pernah daftar. Tapi, daftar kemana?

Konon juga, si siswa siluman ini masuk tanpa menambah kuota sekolah loh! Jadi anak mana yang digantikan? Itu juga saya tidak tahu.

Konon, yang begini ini bisa bikin panas para aktivis pendidikan dan orang tua yang bersusah payah menempuh jalur legal. Katanya, di media, yang juga saya tulis, tidak akan ada titip-titipan. Semua dilakukan oleh sistem, oleh mesin, dan sulit tidak diintervensi. Apalagi sistem ini secara daring, sehingga bisa dipantau semua orang secara transparan.

Tapi kenapa pernyataan siswa diterima harus diberikan dalam bentuk kertas? Bukankah pendaftaran dilakukan secara daring, pengumuman juga, maka pernyataan diterima pun baiknya dikirim via surat elektronik saja. Paperless!

Diberikan dalam bentuk kertas, berarti dibuat oleh manusia bukan mesin. Berarti ini diintervensi oleh manusia. Masak pendaftaran dan pengumuman online tapi pernyataan diterima offline. Terus, kalau memang hanya daftar ulang kenapa tidak sekalian online? Jadi tidak perlu ada kontak fisik yang nantinya bisa berujung kontak uang.

Kemudian berbicara tentang siswa titipan itu, ya sudah dilegalkan. Sekalian jadikan lahan pendapatan asli daerah. Toh, sudah banyak yang beranggapan bahwa pendidikan kualitas yang tinggi itu yang mahal. Jadi bila ada yang beranggapan bisa masuk sekolah favorit dengan uang, maka realisasikan.

Bukankah setiap tahun, selalu ada kisah kursi yang tersisa. Entah ditinggal siswa yang diterima atau memang kurang siswa dari jalur lain. Lelang saja kursi-kursi itu.

Saya masih ingat, dulu ada cerita di tingkat Diploma 3, bahwa mahasiswa yang akan diterima itu yang paling besar sumbangan dana pembangunannya. Nah, diterapkan saja itu. Lebih transparan dan jelas uangnya masuk kemana. Misalnya, ada 100 kursi yang dilelang dengan harga minimal Rp 10 juta. Bila semua terjual, akan ada Rp 1 miliar uang untuk pembangunan. Pakai deh buat bangun sekolah baru. Lebih maslahat kan?

Daripada kayak sekarang, yang isunya sembunyi-sembunyi terima siswa titipan yang entah anak siapa. Entah ada duitnya, entah masuk kantong siapa. Akibatnya malah jadi “ongkoh dipoyok tapi dilebok”. Lebih berbahaya yang kayak begini. Manusia tidak beradab.

Terus yang nitip itu, dipikir tidak sih dampaknya untuk siswa yang dititipkan?

Ketika ada yang nanya atau ketahuan NUN tidak sesuai dengan passing grade, itu anak, saya yakin akan tersiksa batinnya. Ia merasa bersalah. Lalu, ia akan melampiaskannya pada hal negatif. Orang tua akan menyalahkan siapa? Pergaulan?

Ingat, orang tua yang memaksa mencari jalan pintas untuk anak. Jalan pintas yang mungkin tidak membuat anak sampai ke ujung jalan. Jalan pintas yang malah membuatnya tersesat dan terjerumus ke jurang. Semoga Tuhan memberikan pencerahan bagi para penitip itu, ya, kalau itu isunya benar. Maklum selama ini kan, baru gogon (gosip underground), he..he…

Musim Liburan

Ini musim liburan. Bandung jadi tujuan banyak orang untuk liburan. Pake angkutan umum, no problemo! Yang penting piknik. 

Tapi, untuk saya yang biasa naik angkutan umum ini, musim liburan sering kali bikin kekotoran dan kejorokan di area publik dan transportasi umum. Gak cuma saya saja yang hampir jadi korban kena cipratan muntahan.
Enggak anak-anak, orang dewasa pun banyak yang masih mabuk kendaraan. Pening pala bebie! Percaya deh, di tas mereka, biasanya ada perbekalan keresek untuk menampung muntahan. Hoeks!

Masih bagus, ya, yang bekel keresek. Nah, ada yang maen sembur sembarangan. Angkutan umum kita belum canggih. Belum diciptakan lantai kendaraan yang waterproof. Kalau sengaja berhenti untuk mengepel bekas muntahan, bisa hilang pendapatan satu rit. 

Selain kotor, baunya itu, loh, keangin-angin. Bahkan, aromanya bisa memancing penumpang lain untuk ikutan muntahan. 

Tiba-tiba, saya membayangkan, diciptakan angkutan yang menyiapkan penampung muntah di pintu masuk. Saat masuk, ada mesin yang mesti dipencet. Ketika memencet “+keresek”, maka tarif yang dikenakan akan berbeda dengan tarif normal. Atau ada khusus kursi untuk yang terbiasa muntah. Di ruangan itu, disiapkan amunisi pencegahan dan antisipasi muntah. Aroma terapi, minyak gosok, dan wastafel, ha…ha…! Angkutan umum yang kayak gitu, berapa ya, tarifnya? Gak mungkin Rp 3.000, deh! 

Emak Batal Kembali

Bagi orang jaman dahulu, memasang ‘isian’ di badan sudah biasa. Ada yang untuk kecantikan, asihan, atau kekebalan. Tapi, jika lupa melepasnya, katanya, akan menyusahkan saat meregang nyawa.

Ini kisah Mak Emeh, yang sudah empat kali batal meninggal. Beberapa tahun lalu, keluarga Mak Emeh, menganggap sebuah keajaiban, ketika Mak Emeh sudah meregang nyawa kemudian sehat kembali. Sekali, dua kali, memang keajaiban. Tapi, ketiga dan keempat, menunjukkan ada kejanggalan.

Benang merah dari keempat ‘kebangkitan’ Mak Emeh itu adalah air. Kabarnya orang yang meregang nyawa itu, akan tampak seperti orang kehausan. Iba pasti melingkupi orang-orang yang menemaninya.

“Coba berikan air minum. Kasihan,” kata Ustadz yang mendoakan Mak Emeh.

Ucapan ustadz itu adalah perintah yang tak bisa dibantah. Maka disendokkanlah air dan disiapkan ke mulut Mak Emeh. Ternyata Mak Emeh tidak hanya melepas dahaga, si air seakan mengusir malaikat maut yang tengah bersiap mencabut nyawa Mak Emeh. Mak Emeh bangkit dan bertingkah seperti orang sehat.

Kejadian serupa berulang. Mak Emeh sekarat, diberi air, lalu sehat. Kejadian ketiga dan keempat mengundang rasa penasaran salah satu anaknya. Ia pun menelusuri rahasia Mak Emeh. Ia mencari tahu apakah ibunya memiliki ‘isian’ di tubuhnya atau tidak.

Ternyata, Mak Emeh ini mengisi tubuhnya dengan jimat Banyuwening. Tidak heran, ketika tubuhnya terkena air, ia kembali sakti. Bahkan malaikat maut enggan mendekatinya.

Dari ‘orang pintar’ yang didatangi anak Mak Emeh terungkap kalau dulu Mak Emeh adalah seorang penari. Ia memerlukan jimat agar ia terkenal dan mengalahkan penari-penari lainnya. Ajian Banyuwening itu mujarab. Mak Emeh menjadi penari yang paling cantik di Cirebon.

Anak Mak Emeh kemudian menelisik keberadaan guru ibunya itu. Konon, ajian itu mesti dicabut oleh yang memasangnya. Sayangnya, guru Mak Emeh sudah lama meninggal. Si anak jadi pesimis. Ia tidak ingin melihat ibunya tersiksa seperti itu. Susah mati.

Orang pintar yang ditemuinya memberikan jimat penawar berupa bungkusan kain yang harus disimpan di bawah bantal Mak Emeh. Di satu malam, Mak Emeh akan kembali meregang nyawa. Di saat itulah, keluarga harus menahan diri untuk memberikan air. Jika tidak, akan ada kisah kelima Mak Emeh batal meninggal.

Dengan sedih, keluarga mengiyakan perintah si orang pintar. Tanpa air, Mak Emeh kembali ke penciptanya. Bagi keluarganya, itu jalan terbaik bagi Mak Emeh. Sesuatu yang berasal dari tanah, akan kembali ke tanah. Melepaskan segala yang dimilikinya di dunia. (*)

Pesan Randy Pausch

Ini postingan teman di salah satu grup what’s app messenger:

Randy Pausch, 47 tahun, seorang dosen ilmu komputer dari Universitas Mellon, United States meninggal akibat kanker pankreas yang dideritanya pada 2008 silam. Di akhir hidupnya ia menulis sebuah buku yang berjudul “The Last Lecture” (Pengajaran Terakhir) yang menjadi salah satu buku best-seller di tahun 2007. Dan apa yang menjadi warisan yang ditinggalkannya?

Di dalam sebuah surat untuk istrinya, Jai, dan anak-anaknya, Dylan, Logan dan Chloe, ia menuliskan secara indah mengenai  ‘panduan menuju kehidupan yang lebih baik’ untuk diikuti istri dan anaknya.
Semoga Anda diberkati melalui tulisan ini.

KUNCI UNTUK MEMBUAT HIDUP ANDA LEBIH BAIK

PERSONALITY:
1. Jangan membandingkan hidup Anda dengan orang lain karena Anda tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui
2. Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda, melainkan salurkan energi Anda menuju kehidupan yang dijalani saat ini, secara positif
3. Jangan bekerja terlalu keras, jangan lewati batasan Anda
4. Jangan memaksa diri Anda untuk selalu perfect, tidak ada satu orang pun yang sempurna
5. Jangan membuang waktu Anda yang berharga untuk gosip
6. Bermimpilah saat anda bangun (bukan saat tertidur)
7. Iri hati membuang-buang waktu, Anda sudah memiliki semua kebutuhan Anda
8. Lupakan masa lalu. Jangan mengungkit kesalahan pasangan Anda di masa lalu. Hal itu akan merusak kebahagiaan Anda saat ini
9. Hidup terlalu singkat untuk membenci siapapun itu. Jangan membenci
10. Berdamailah dengan masa lalu Anda agar hal tersebut tidak menganggu masa ini
11. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda kecuali Anda
12. Sadari bahwa hidup adalah sekolah, dan Anda berada di sini sebagai pelajar. Masalah adalah bagian daripada kurikulum yang datang dan pergi seperti kelas aljabar (matematika) tetapi, pelajaran yang Anda dapat bertahan seumur hidup
13. Senyumlah dan tertawalah
14. Anda tidak dapat selalu menang dalam perbedaan pendapat. Belajarlah menerima kekalahan

COMMUNITY:
15. Hubungi keluarga Anda sesering mungkin
16. Setiap hari berikan sesuatu yang baik kepada orang lain
17. Ampuni setiap orang untuk segala hal
18. Habiskan waktu dengan orang-orang di atas umur 70 dan di bawah 6 tahun
19. Coba untuk membuat paling sedikit 3 orang tersenyum setiap hari
20. Apa yang orang lain pikirkan tentang Anda bukanlah urusan Anda
21. Pekerjaan Anda tidak akan menjaga Anda di saat Anda sakit, tetapi keluarga dan teman Anda. Tetaplah berhubungan baik

LIFE:
22. Jadikan Tuhan sebagai yang pertama dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan Anda
23. Tuhan menyembuhkan segala sesuatu
24. Lakukan hal yang benar
25. Sebaik/ seburuk apapun sebuah situasi, hal tersebut akan berubah
26. Tidak peduli bagaimana perasaan Anda, bangun, berpakaian, dan keluarlah!
27. Yang terbaik belumlah tiba
28. Buang segala sesuatu yang tidak berguna, tidak indah, atau mendukakan
29. Ketika Anda bangun di pagi hari, berterima kasihlah pada Tuhan untuk itu
30. Jika Anda mengenal Tuhan, Anda akan selalu bersukacita. So, be happy:)

Saat Anda mempelajari semua hal di atas, bagikan tulisan ini kepada orang” yang Anda cintai, teman” sepermainan Anda, teman” kantor, maupun orang” yang tinggal dengan Anda. Pengetahuan ini tidak hanya akan memperkaya Anda tetapi, orang disekeliling Anda.

Ingat, KITA HADIR UNTUK MEMBAGI HAL”

YANG BAIK…..!!!!!!

Curahan Hati untuk Mahasiswa

Dear Dedek-dedek Mahasiswa,

Sudah lama saya ingin menulis surat ini. Menumpahkan isi hati saya yang diselimuti kekesalan atas tingkah laku kalian ketika beririsan dengan pekerjaan saya.

Surat ini tertunda beberapa kali. Karena ada sebagian diri saya yang menganggap, kelakuan kalian yang super nyebelin itu mungkin hanya kasuistis. Hanya terjadi di kampus tertentu.

Tapi, penilaian saya ternyata salah. Kalian, mahasiswa, yang menjadi panitia rupanya memiliki tipikal yang sama. Merepotkan.

Waktu liputan promosi doktor yang politisi itu di Unpad, kami, para pewarta dipaksa duduk di kursi balkon. Kami memilih duduk di tangga sebelah bawah balkon dengan alasan, pengeras suara lebih jelas terdengar. Dengan alasan, sudah ada tempat untuk media dan menganggu pemandangan, kami dipaksa pindah ke tempat semula. Kami terpaksa adu mulut dengan mahasiswa.

Saat meliput Boediono, wakil presiden era SBY, peristiwa berulang. Saya harus menempati tempat duduk yang sama. Ternyata humas kampusnya diperlakukan sama.

Pengalaman berikutnya, waktu meliput acara ITHB di GOR Pajajaran, saya dipersulit mahasiswa. Padahal saya datang sepagi itu karena diundang.

Mereka keukeuh mengatakan tidak ada nama humas yang saya sebut. Padahal jelas-jelas saya menerima telfon dari nomor kampus mereka.

Terakhir, masih hangat, tadi pagi saya pasea dengan mahasiswa ITB yang menjadi panitia wisuda. Kalian, para mahasiswa, meminta undangan resmi. Saya sudah memperlihatkan kartu pengenal saya. Bahkan undangan dari humas via what’s app, tidak mempan.

Dedek Mahasiswa, saya tidak suka kalian berlagak lebih galak dari paspampres. Kalian bisa lebih fleksibel ketika menjadi mahasiswa. Toh, selama liputan rasanya kami tidak pernah merepotkan kalian.

Dedek Mahasiswa, tingkat keresean kalian itu semakin meningkat ketika kalian butuh kami. Jujur, saya sering sebal dengan bahasa kalian yang sangat aktivis itu. Jangan heran, ya, pesan kalian tidak akan pernah saya balas.

Selama kalian masih seperti itu, saya pun akan tetap seperti ini. Melawan kalian dengan cara saya. Semoga ke depan kalian akan mengerti dengan cara kalian. (*)