Pendidikan Seks bagi Anak Kecil

*tulisan ini saya salinkan dari Kompas cetak edisi Sabtu, 8 April 2017 pada rubrik Psikologi, asuhan Agustine Dwiputri

Sebagai orang tua yang tinggal di Indonesia, berbicara tentang seks dengan anak merupakan salah satu hal yang benar-benar membuat Anda merasa tidak nyaman. Bagaimana melakukannya agar tidak salah tingkah?

Rasanya beberapa petunjuk yang diberikan Jane C Sacknowitz & Ron Kerner (1998) dalam tulisannya mengenai How to Talk to Children about Sex dapat kita panuti, tentunya tetap disesuaikan dengan kondisi setiap keluarga dengan kekhasannya masing-masing. 

Seks sering menjadi topik yang tidak dibicarakan dengan terbuka, dianggap tabu. Bahkan, antar pasangan yang sudah menikah pun, keterbukaan mereka tentang hal-hal seksual sangatlah beragam. Pertanyaan saya adalah dari mana anak-anak kita mendapatkan pengetahuan yang paling benar dan aman, dalam arti tidak menyesatkan, mengenai suatu subjek atau topik kehidupan yang penting ini, jika bukan dari orang tuanya sendiri? Mungkin orang tua dapat membelikan buku-buku yang membahas subyek ini jika merasa tidak sanggup menyampaikannya sendiri. Namun, rasanya tetap perlu jika kemudian mendiskusikannya bersama.

Menurut Sacknowitz & Kerner, seksualitas merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang manusia dan seharusnya menjadi bagian alami dari proses pengasuhan seperti halnya kita berkembang bersama dengan anak-anak kita. 

Kesehatan reproduksi

Di Indonesia, pakar di bidang Keluarga Berencana menggunakan istilah yang dipandang lebih dapat diterima dalam lingkungan budaya kita, yaitu pendidikan kesehatan reproduksi. Sebagai pendidik kesehatan reproduksi, orang tua diajak untuk menentukan hal-hal yang merupakan fakta dan mana yang fiksi, kita juga harus menentukan sikap dan nilai-nilai kita sendiri tentang seks. Pemahaman sejak dini mengenai hal ini diharapkan juga membantu anak berkembang menjadi pribadi dewasa yang menghargai tubuh, seksualitas, dan dirinya sendiri. 

Bagaimana kita memberi tahu anak-anak kita tentang kesehatan reproduksi, apa yang kita katakan kepada mereka dan kapan kita memberi tahu mereka, bergantung pada perasaan dan sikap kita yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kepribadian kita serta reaksi timbal balik dengan anak sendiri.

Kapan dimulai?

Sacknowitz & Kerner mengatakan bahwa saat bayi memasuki dunia ini, mereka adalah makhluk seksual. Hal pertama yang orang tua ingin tahu adalah apakah bayinya perempuan atau laki-laki. Kemudian, pikirkan berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk memegang, memeluk, menyentuh, memberi makan, memandikan dan membersihkan sang bayi, yang akan membentuk tugas-tugas perawatan dasar selama Berhari-hari dan bulan pertama kehidupannya. Semua tugas ini memberi anak Anda suatu perasaan awal tentang keselamatan, keamanan, dan rasa cinta. Anak belajar untuk memenuhi kebutuhan tersebut, paling awal dengan menangis ketika merasa lapar, basah, atau sakit. Mereka belajar cara mendapatkan kepuasan dan kegembiraan. Mereka belajar apa yang menyenangkan dan apa yang tidak. 

Anak belajar

Anak-anak sejak awal kehidupan telah belajar dengan apa yang mereka lihat dan rasakan di rumah mereka. Ketika ibu atau ayah saling memberikan pelukan, atau ketika anak-anak berpelukan di pangkuan orang tua, mereka belajar tentang kehangatan, keamanan, dan kenyamanan akan kasih sayang secara fisik.

Kesehatan reproduksi adalah bagian alami dari pengalaman awal anak balita. Mandi, latihan buang air kecil dan besar (toilet training), serta kebersihan pribadi merupakan bagian terpadu dari pengalaman awal anak di rumah. Bagaimana kebiasaan dan tugas sehari-hari ditangani akan memberikan kesan abadi kepada anak-anak dan perasaan mereka tentang diri sendiri ataupun tubuh mereka. 

Anak laki-laki dan perempuan buang air kecil dalam posisi yang berbeda dan ini diajarkan selama masa anak balita. Membujuk, mendukung, dan membimbing anak dalam masa belajar ini akan memastikan berkembangnya rasa percaya diri dan kompetensi pada anak. Masa ini adalah waktu yang tepat bagi anak-anak untuk mulai berkreatifitas dengan orang tua sesama jender/jenis kelamin dan memahami suatu hari, dia akan tumbuh menjadi seorang pria atau wanita dewasa.

Keingintahuan

Anak-anak memiliki segudang pertanyaan begitu mereka menjadi ingin tahu tentang kesehatan reproduksi. Acap kali, orangtua dikejutkan oleh pertanyaan tentang bagaimana awal kehidupan seseorang atau bagaimana bayi lahir. Dalam menanggapinya, penting untuk diingat bahwa penjelasan yang sederhana tetapi jujur adalah yang terbaik. Anak Anda menginginkan jawaban segera, bukan kuliah panjang lebar. Rentang perhatian anak kecil masih pendek dan biasanya puas dengan komentar singkat. Misalnya, anak usia 3 tahun mungkin telah puas dengan penjelasan bahwa bayi tumbuh di perut ibu dan keluar melalui jalan khusus ketika bayi sudah siap lahir.

Jadi, menjawab lah secara langsung dan terus terang, sesuaikan respons Anda dengan usia dan tingkat pemahaman anak.

Sikap Anda terhadap pertanyaan anak tentang kesehatan reproduksi sama pentingnya dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Jika Anda menghindari pertanyaan, berpura-pura tidak mendengarnya atau menegur anak karena bertanya, Anda menciptakan situasi anak belajar untuk tidak bertanya. Pesan Anda adalah bahwa ada sesuatu yang saya dengan bertanya hal-hal semacam itu; mereka bisa menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan mereka atau tubuh mereka. Sambutlah pertanyaan tersebut sebagai bagian alami dari kehausan anak akan pengetahuan.

Beberapa petunjuk 

Berikut saya ambilkan beberapa hal yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi pertanyaan anak balita kita seputar kesehatan reproduksi. 

– Jujur, menjawab apa yang Anda bisa, sederhana dan dengan santai tetapi serius.

– Jangan takut mengatakan, “Saya tidak tahu”. Anda selalu dapat memberi tahu anak bahwa Anda akan membicarakan masalah itu nanti dan ada waktu untuk memikirkan bagaimana Anda ingin menjawab.

– Gunakan bahasa yang benar, bukan dengan istilah/kiasan yang sering digunakan masyarakat awam, seperti “burung” untuk penis. Jangan takut menggunakan bahasa yang tepat secara anatomis untuk menggambarkan bagian tubuh dan fungsi seksual. 

– Yakinkan dan dorong rasa ingin tahu anak. Belajar tentang tubuh kita dan diri kita sendiri merupakan bagian terpadu dari pengembangan harga diri yang positif.

– Tampilkan sikap positif. Perasaan Anda tentang seks akan tersampaikan kepada anak dan akan mempengaruhi sikap bahwa ia sedang berkembang. 

– Bina keterbukaan komunikasi. Setiap saat, anak-anak perlu tahu bahwa mereka dapat bertanya, berdiskusi, dan berbagi dengan orang tua tentang sejumlah isu dan perasaan yang penting.

– Perasaan, sikap dan nilai-nilai tentang seksualitas sering disampaikan secara nonverbal. Waspadai apa yang Anda lakukan serta apa yang Anda katakan karena anak akan menangkapnya. (*)

Advertisements

Aku Ingin Putih

“Ambu, Abah, aku ingin jadi putih!” 

Permintaan mahiwal anak saya itu disampaikan di awal pekan ini. Permintaan ini bukan karena ia sering nonton iklan pemutih kulit. Kalau gara-gara iklan, mungkin dia akan minta juga rambutnya diwarnai, seperti Safeeya, anaknya Ahmad Dhani. Kebayang kalau dia tiba-tiba minta rambutnya diwarnai seperti Inul Daratista atau Titi DJ sebagai bagian efek nonton Golden Memories. 

Permintaan anak saya ini ternyata bukti kegalauan dia atas pergaulannya selama ini. Siapa bilang dunia perbulian itu ada ketika anak mulai bersekolah. Umur 4 tahun juga sudah ada ternyata. 

Begini cerita anak saya. Setiap hari ia bermain dengan beberapa anak tetangga. Satu hari ada sebuah perbincangan menarik yang kemudian sanggup membuat anak saya galau melow. 

“Kinan, kok, kulit kamu mah item sih?” kata anak yang satu. 

“Iya, aku sama Rehan putih. Kok, Kinan item?” pertanyaan kedua diajukan temannya yang satu lagi. 

Pertanyaan yang sama diajukan dua kali pasti bikin anak saya kepikiran. Dia pun mulai ajukan banyak pertanyaan ihwal warna kulitnya. Saya pun memilah kata yang sederhana agar dia paham. 

Namun ternyata itu tidak cukup. Ia menilai jika ingin bermain dengan teman-temannya yang berkulit putih, ya, harus punya kulit putih juga. 

Rajukannya baru mereda ketika dikatakan kulit hitam manisnya itu tidak mengurangi kecantikannya. Ditambah lagi yang penting dia sehat. 

Memang tidak mudah menjauhkan anak dari perasaan dirisak. Dan teman-temannya tidak bermaksud menyakiti anak saya dengan pertanyaannya itu. Namanya juga anak-anak, besar rasa ingin tahunya. 

Tapi sebagai orang tua, kita tidak boleh ikut patah semangat apalagi marah besar ketika anak merasa seperti itu. Kita yang harus membesarkan hati anak dan memberinya pemahaman tentang perbedaan. Karena seumur hidup dia akan melihat banyak perbedaan. (*)

Lalu, Bingung!

Tema #tantanganmenulis #julingeblog hari ini sangat berat. Saya belum bisa memilih lima tempat yang ingin saya kunjungi. 

Kenapa? 

Karena bukan tempat yang jadi persoalan. Saya ingin mengunjunginya bersama suami dan anak-anak saya. Saya ingin bersama mereka ketika menikmati tempat-tempat tersebut. Karena dimana pun saya berada, tempat terindah adalah bersama keluarga tercintah!

Jadi di skip dulu cerita ini, ya! 

Mungkin nanti, besok atau lusa, saya bisa menyebutkan kemana saya ingin bermain bersama keluarga saya. 

Hari ini, mari menyibukkan diri dengan mampir ke kantor, memasak, dan menerima tamu calon besan! Yippi, hajat maning!***

Nambah Anak? Pikir-pikir Dulu, deh!

Percakapan yang sebenarnya harus dilabeli penting. Nah, soal apanya yang penting, nanti kita ulas seusai kutipan percakapan ini.

“Kinan, kamu, teh, yakin mau punya adik lagi?”
Enggak, ah, Mbu!”
“Kenapa?”
“Nanti sekolah aku gimana? Kan, aku harus bantuin nyuci baju, nyuci piring, sama ngasuh.”

Sudah bisa ditebak kan percakapan ini soal apa. Yes, soal menambah anak ketiga. Arggghhh.. telinga saya rasanya berdengung, jantung berdegup kencang, dan di atas kepala saya seperti ada burung yang sedang berputar-putar.

Kalau permintaan menambah anak itu disampaikan oleh si Abah, sih, gampang menjawabnya.

“Anak-anak masih kecil, cicilan masih tiga tahun lagi. Gaji juga yang belum naik. Bla..bla..bla…

Dan si Abah pasti menjawab, “mbu, Allah pasti ngasih rejeki buat si anak. Tidak perlu khawatir.”

Dan ingat ya, saya ini perempuan. Apa yang keluar dari bibir perempuan itu kebenaran yang tidak bisa dibantah. Kata saya, tidak, ya, tidak dulu, lah!

Dua anak yang saya lahirkan dengan jeda dua tahun itu sebenarnya tanpa perencanaan. Terutama anak kedua. Karena anak pertama melalui sectio, dan jaraknya ke anak kedua kurang dari dua tahun, pasti sectio lagi. Kebayang itu bekas sectio, jahitannya masih nyut-nyutan. Padahal usia si bungsu sudah dua tahun. Itu dari sisi medis.

Kalau dari sisi ekonomis, si Abah lebih paham berapa duit yang harus dikeluarkan hanya untuk sectio. Saya pun tak menghilangkan bantuan dari tempat kerja yang Alhamdulillah mampu membantu membeli kebutuhan popok. Namanya juga bantuan, harus dipakai membantu pendapatan yang tersisa hanya dari gaji pokok. Tunjangan? mesti menunggu tiga bulan kemudian yaitu saat kembali masuk kerja.

Tapi yang sulit ketika seorang kakak meminta menambah adik. Alasannya, kepengen punya adik laki-laki. Tidak mungkin saya menjawab seperti argumentasi saya pada si Abah. Tapi sedapat mungkin saya kembali pada peran “omongan ibu itu selalu benar“, dan membuat anak saya terutama si sulung mengurungkan permohonannya.

Trik saya, sih, menjabarkan tanggung jawab dia kalau memiliki dua adik. Sekarang saja, dia sudah merasakan beratnya punya satu adik. Dia mulai kerepotan menghadapi paksaan adiknya yang mengajak main tanpa mempedulikan kalau kakaknya sedang cape atau mengantuk.

“Kinan, kalau nanti punya adik lagi, Kinan harus bantu Ambu seperti cuci piring, cuci baju, dan ngasuh. Soalnya Ambu, kan, harus ngantor juga.”

Kinan tampak bingung dan mencerna omongan saya. Hasilnya, abrakadabraaaaa… jawabannya seperti yang ada awal tulisan ini.

Buat saya, minimal harus ada jeda untuk menambah anak ketiga sampai anak usia 3-4 tahun. Waktu istirahat untuk memiliki anak lagi ini diperlukan seorang wanita agar tubuhnya pulih dulu dari stres saat melahirkan. Ibu juga bisa mendapatkan lagi semua nutrisi yang hilang saat menjalani kehamilan pertama. Tak hanya itu saja, jeda waktu 18-23 bulan ini juga bisa menjadi modal untuk tubuh ketika hamil lagi.

Untuk catatan, dari 2012 sampai sekarang, saya belum menyetop menyusui. Seperti saya ungkapkan dalam tulisan sebelumnya, kalau lepas menyusui itu, saya mau mengecat rambut, he.. he ..

Di sisi anak, ketika usianya sudah berusia di atas empat tahun, punya waktu yang cukup untuk mendapat perhatian dari kedua orangtuanya sebelum punya adik lagi. Mereka juga sudah lebih mengerti akan konsep ‘adik’.

Dan yang perlu ditegaskan adalah kondisi keuangan. Kondisi yang dapat diprediksikan. Karena kalau rejeki nomplok, mah, siapa yang mengira.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan adalah kondisi pekerjaan. Banyak wanita yang merasa kesulitan untuk bekerja full time atau bahkan part-time setelah punya anak kedua, ketiga dan seterusnya. Perhitungkan lagi, apakah budget pengeluaran bulanan tetap bisa terpenuhi ketika Anda misalnya harus berhenti bekerja atau adakah budget untuk menambah pengurus anak jika Anda mau tetap bekerja.

Dan pilihan saya saat ini, konsentrasi pada dua anak dan bayar cicilan dulu. Nanti anak sudah masuk sekolah dan cicilan menguap, bolehlah nambah anak. Dan, semoga laki-laki. Biar komplet.

Kalau teman-teman, seperti apa pertimbangannya sebelum memutuskan menambah anak?

Pernikahan Dini Ceu Mus

Pagi ini, Ceu Mus membangunkan tidur saya. Suaranya yang nyaring nyaris membuat saya melompat dari kasur. Tapi, saya mampu menahan diri dan saling berpandangan dengan Kinan, yang ternyata turut terjaga.

Ceu Mus berteriak bak orang kesurupan. Saya dengarkan teriakannya. Oalah, ternyata dia sedang memarahi anak keempatnya yang masih dua tahun. Saya terjemahkan saja ke Bahasa Indonesia, karena amarah Ceu Mus itu diucapkan dalam Basa Sunda.

“Kamu ini, kalau mau buang air besar bilang! Bukan malah diam di belakang pintu!”

Tidak lama datang anak keduanya si Jake yang usianya 8 tahun. Dia pun turut kena getahnya.

“Jake, kamu urus adik kamu. Cebokin sampai bersih. Dan kasih tahu, kalau mau buang air, ke WC.”

Hmmm .. kalau pakai akal sehat, itu anak usianya baru dua tahunan. Mending kalau sudah bentes ngomong. Kalau belanja ke warung pun, saya berusaha menerjemahkan bahasanya dengan berulang kali bertanya.

Ini bukan kali pertama Ceu Mus marah marah begitu dahsyat hingga membangunkan tetangga. Tebakan saya faktor psikologis Ceu Mus yang sebenarnya belum siap berkeluarga.

Ceu Mus, mungkin bukan panggilan yang tepat untuk perempuan yang usianya kurang dari 30 tahun itu. Selulus SMP, ia terpaksa dinikahkan dengan Elman, teman sekolahnya. Tidak lama setelah menikah lahirlah, Michael. Si Michael ini terpaksa diasuh oleh ibunya Ceu Mus saat melahirkan anak ketiga yang ternyata kembar (laki-laki dan perempuan).

Si Jake sekarang ini jadi anak sulung bayangan. Atau lebih tepatnya jadi asisten Ceu Mus. Karena si Jake ini memang banyak menambal tugas ibunya, terutama setelah Ceu Mus melahirkan anaknya yang kelima. Sangat produktif bukan?

Pagi hari, sebelum sekolah si Jake mengambil air dengan memakai jerigen bekas ke tempat penampungan air. Kemudian disambung memandikan dua adik kembarnya. Urusan adik kembar belum selesai. Jake lalu belanja bubur dan menyuapi adik-adiknya itu.

Bahkan di saat lonceng sekolah sudah berbunyi, Jake masih repot bolak-balik belanja ke warung untuk kebutuhan masak Ceu Mus. Jarang rasanya melihat Ceu Mus keluar rumah. Yang sering terdengar hanya teriakannya.

Jake tak pernah mengeluh, sepertinya. Tangisan itu tertahan di balik matanya.

Kalau jadwal sekolah siang, pekerjaan Jake bertambah. Ia mencuci pakaian. Pakaian seluruh anggota keluarganya. Hampir semua tetangga tahu, karena tempat cuci baju keluarga Jake itu di luar rumah.

Mungkin ini akibat pernikahan dini dan anti pakai alat kontrasepsi. Lahirnya anak tidak terkendali. Anak yang seharusnya masih dimanja malah berganti peran dengan ibunya. Ketika si anak memerankan ibunya, si Ibu terus asyik dengan ponselnya.

Tapi ketika si anak melakukan kesalahan, caci maki akan mengalir deras. Bagi Ceu Mus, banyak anak banyak asisten. Itulah arti memiliki anak buat dia. (*)

Menyapih demi Cat Rambut

Anak bungsu saya, Sabtu (5/3/2016) usianya pas 2 tahun. Seharusnya, saya sudah melatih dia agar berhenti menyusu pelan-pelan. Rencana tinggal rencana. Ternyata saya yang tidak tega. Si anaknya senang saja melihat kegalauan ibunya.

Padahal saya sudah membayangkan apa yang bakal saya lakukan bila dua anak saya itu sudah stop menyusu. Hal yang paling saya inginkan: mewarnai rambut. Namun, rencana itu terpaksa tertunda.

Saya tak mau menyapih anak dengan datang ke ahli sapih seperti dukun. Saya ingin saya dan anak melalui itu tanpa saling benci. Tanpa menakuti mereka.

Hasil survey saya ke beberapa tetangga, cara mereka menyapih anaknya menakutkan. Ada yang putingnya diolesi bratawali, obat merah, lipstik, hingga ditutup plester. Saya tidak mau seperti itu. Saya ingin proses ini berjalan smooth, dimana saya dan si anak merasa siap untuk saling melepas.

Nah, setelah saya menjelajahi internet, saya menemukan banyak referensi. Seperti di http://id.theasianparent.com/10-cara-menyapih-anak-yang-perlu-dicoba/, yang memberikan tips. Tapi saya merasa enggak pas dengan cara-cara yang harus ditempuh. Ini saya kutipkan isinya.

1. Pilih pengganti yang tepat untuk menggantikan ASI. Bisa botol susu, sippy cup, atau gelas biasa dengan sedotan. Pilihan yang anak suka.
2. Anak ingat menyusu ketika haus dan lapar. Antisipasi sebelum minta nenen dengan menawarkan makanan dan minuman sebelum merengek.
3. Ikuti seleranya. Anak senang menyusu karena aroma dan rasa ASI. Maka, perahlah ASI dan berikan pada anak.
4. Gunakan peralatan warna warni
5. Biar ayah yang melakukannya, agar anak menyadari bahwa bukan hanya ibu sumber makanan.
6. Kurangi frekuensi ‘nenen’ secara bertahap, dan kuatkan tekad untuk mengikuti ketentuan yang Anda buat. Bila si kecil memaksa untuk menyusu di payudara Anda, jangan ijinkan dan kuatkan hati untuk melihatnya rewel. Jelaskan mengapa ia tidak boleh menyusu lagi, lambat laun ia akan mengerti.
7. Ajak dia ke kumpulan balita lain, dan tujukkan bahwa tidak ada balita seusianya yang masih menyusu. Lakukan beberapa kali agar ia mengerti.
8. Berikan pujian bila ia minum susu dari botol atau gelas, dan bila terpaksa, gunakan hadiah kecil sebagai imbalannya. Contoh hadiah sederhana misalnya sebuah stiker setiap kali ia berhasil mengurungkan niatnya menyusu.
9. Tawarkan botol, sippy cup, atau gelas saat ia sedang bermain, sehingga ia meminum susunya tanpa ada keinginan mencari payudara. Bila ia minta menyusu di siang hari, coba alihkan perhatiannya dengan mengajak bermain kesukaannya.
10.Si kecil tentu menikmati saat-saat melekat erat di tubuh Anda saat ia menyusu di payudara. Gantikan kehangatan itu dengan peluk, cium, dan timangan dari ayah dan ibu, agar ia tidak merasa kehilangan aroma tubuh Anda.

Tapi kalau dari tautan http://www.tipsanakbayi.com/2014/03/15-tips-dan-cara-menyapih-anak-bayi.html, saya merasa ini memang tahapan yang harus dilakukan. Yang terpenting saya dan anak saya IKHLAS. Itu tahapan awalnya, sehingga tanpa oles ini dan itu, saya dan anak sama-sama berproses bahwa sapih tidak akan mengurangi kasih sayang. Lalu saya mulai mengurangi frekuensi anak menyusu. Anak saya menyusu kalau mau tidur, terjaga, dan bangun tidur. Terkadang saat akan pergi dan pulang kerja. Tapi saat tidur, dua anak saya itu terbilang jarang menyusu.

Saya merasakan berat untuk menyapih ini. Saya harus menyapih dua anak sekaligus. Ya, karena anak pertama saya kembali menyusu setelah setahunan berhenti menyusu. Ia berhenti menyusu saat saya hamil anak kedua. Usia dia baru setahun. Saya melayani permintaannya mungkin karena ada rasa bersalah mengurangi haknya menyusu.

Saya berharap di proses menyapih yang sekarang akan lebih mudah. Menyapih dengan cinta. Saya harus menanamkan pemahaman menyapih itu bukanlah tanda saya tidak lagi menyayangi mereka. Tapi harus saya akui, psikologis saya yang mungkin kurang rela melepas anak-anak. Karena saya akan berpikir, mereka tak lagi mencari saya karena tak lagi menyusu.

Tapi saya harus kuat. Agar saya dan anak-anak saling menguatkan. Dan, agar saya bisa segera mewarnai rambut, ha…ha… (*)

Dilema Ibu Tetangga

Wahai Ibu Tetangga, saya tahu Anda sering kesal kalau anak mengadu tentang perlakuan temannya? Yang mungkin membuat dia iri, bete, dan merasa diperlakukan tidak adil? Ya, pasti kesal. Sebagai orang tua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Orang tua mana yang tidak ingin membelikan anak-anaknya mainan yang bisa menyenangkan mereka. Orang tua mana yang tidak mengalokasikan dana untuk memenuhi kebutuhan makanan dan pakaian si anak. Meski kepala jadi kaki, dan kaki jadi kepala, akan dilakukan orang tua.Demi kebahagiaan anak-anaknya.

Tapi kalau anak Ibu Tetangga menangis iri karena temannya dibelikan sandal baru, tak perlu, lah, Ibu melontarkan sindiran pada ibu si teman. Atau, saat anaknya tidak diajak bermain bersama, tak usah menyalahkan temannya.

Anak menjadi pencemburu itu wajar, Bu tetangga. Mereka tengah berproses menjadi pribadi yang lebih matang. Ibu tetangga, mestinya lebih khawatir kalau anak tidak bereaksi terhadap perlakuan teman temannya.

Dan lagi, ah, Ibu Tetangga, pertengkaran sesama anak itu hanya berlangsung beberapa menit. Tidak seperti Ibu Tetangga yang mendiamkan tetangga sebelahnya berhari-hari, hanya karena anaknya musuhan.

Ibu Tetangga, jangan jadi Ibu yang menggugu apa yang diucapkan anak. Apa yang dilakukan Anda sebagai reaksi aduan anak, akan mudah ditiru si anak. Karena orang tua, adalah role model anak.

Tahukah kelakuan Anda yang kekanak-kanakan itu, Ibu Tetangga, membuat tetangga lainnya kehilangan penghargaan terhadap Anda. Apalagi saat anak Anda mengadu ingin sesuatu yang orang lain punya tapi tidak Anda belikan, tak perlu membentaknya di depan orang tua anak yang membuat anak Anda iri. Tetangga Ibu malah mengeluh pada suaminya untuk mencari kontrakan baru karena lelah dengan polah Anda dalam mengasuh anak.

Ibu Tetangga, usia Anda yang mungkin jauh lebih muda dari saya, tidak harus menjadi alasan kelabilan Anda dalam mengasuh anak. Saya yakin jika Anda lebih bersabar pasti akan mampu menghadapi anak. Tapi jika tidak, untuk meredakan keirian anak Anda, penuhi, dong, kebutuhannya. Oh iya, dan satu lagi, uang jajan yang Anda berikan untuk anak setiap kali belanja itu, tidak akan cukup untuk penuhi kebutuhannya. Harga jajanan segitu, mah, jaman mana atuhhhh! (*)

Ibu yang Payah

Suhu tubuh anak tinggi. Batuk kering tiada henti. Dikompres, tangisnya tidak berhenti. Disuapin obat batuk, nangisnya semakin kencang. Baru berhenti ketika disusui. Selesai menyusui, kembali rewel. Makanan tidak mau dia sentuh. Dia pun mendadak antijajan. Di situ saya merasa menjadi Ibu yang Payah.
Ya, Ibu yang payah, yang seharusnya dapat menjaga anak dari ancaman penyakit. Tapi saya malah lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaan. Bahkan dari Senin ke Senin lagi, saya masih bergelut dengan pekerjaan. Ya, saya melanggar Undang-undang Ketenagakerjaan karena tidak ada libur. Tidak jarang saya meminta anak-anak menjauhi saya sementara karena saya masih mengetik pekerjaan.
Betapa egois saya. Saya bekerja untuk mereka. Tapi, di rumah, saya seringkali mengabaikan mereka karena pekerjaan.
Iya, saya iri pada Ibu yang selalu ada di rumah. Pekerjaannya hanya mengurus keluarga. Saya kepengen, kok, seperti mereka. Tapi, ada bisikan, belum saatnya. He..he.. egoisme lainnya.
Saya sering kesal juga pada orang-orang yang nyinyir kepada ibu-ibu bekerja. Perempuan bekerja, tidak hanya soal ekonomi. Kesempatannya sangat terbuka. Dan ketika, seorang perempuan memilih bekerja dan mengurus anak, itu sudah menjadi pertimbangan mereka. Jadi, apa hak kalian menilai pilihan kami?
Tuh, kan, jadi tambah kesal pada orang-orang yang menegatifkan ibu bekerja. Terus, yang nyinyir itu lelaki. Coba, ya, kalian di posisi kami, yang pagi-pagi, sebelum kerja harus menyiapkan kebutuhan kalian dan anak-anak. Memastikan semuanya terpenuhi. Setelah itu pergi bekerja. Pulang bekerja, kami, para perempuan bekerja tidak beristirahat, loh! Kami berganti rupa menjadi Ibu Rumah Tangga yang sepenuhnya. Bahkan pada jam tidur, kami masih melek. Dibangunkan oleh permintaan anak membuat susu, pekerjaan di kantor yang tersisa, atau cucian yang belum kelar.
Kegalauan saya sebagai Ibu Yang Payah ini memang akibat kelelahan saya yang menilai diri tidak bisa menjadi ibu yang sempurna. Saya berupaya tidak sakit demi menjaga anak-anak, tapi malah gagal mencegah penyakit menghinggapi anak.
Saat anak sakit, saya melepaskan atribut saya sebagai ibu pekerja. Seharian anak hanya mau direngkolan oleh saya. Bahkan saya sulit untuk ke kamar mandi atau sekadar minum air putih.
Lalu, abrakadabra, dua hari saya tidak kerja, suhu tubuhnya turun drastis. Dia sembuh dengan cepat. Ternyata, dia tahu kalau ibunya butuh istirahat. Dan anak saya harus memaksa saya untuk istirahat. Bersamanya. Terima kasih, Kiandra!(*)

Remuknya Make Up si Ambu

Anda memiliki anak perempuan? Pernah mengalami bencana alat rias? Belum? Itu tandanya, Anda belum benar-benar memiliki anak perempuan seutuhnya.

Saya, sih, sudah biasa. Bisa dibilang, saya semakin rajin membeli alat rias. Bukan karena habis dipakai tapi dihancurkan oleh dua anak perempuan saya. Yes, dua anak perempuan. Bencana yang ditimbulkan pastinya maha dahsyat.

DSC_0080

Oke, mari kita mulai dengan memperkenalkan kembali dua tersangka yang telah menghancurkan alat rias saya. Anak perempuan pertama saya bernama Kinanti Ameera Wibagja. Usianya hampir 4 tahun. Setiap berpakaian, pasti pilih sendiri. “Aku mau baju yang seksi,” begitu katanya.

Tapi kalau sudah mandi sore, pilihannya : baju main. Dia tidak pernah mau mengenakan baju tidur. Alasannya, itu sebuah pertanda, ia tidak boleh bermain. Tidak heran, pasca mandi sore, dia bisa berganti pakaian sampai dua kali.

Anak perempuan yang kedua adalah Kiandra Maritza Wibagja. Bulan depan, dia menginjak usia 2 tahun. Kalau yang ini, setelah mandi, sangat susah dibajukan. Untuk memandikan hingga mendandaninya, dia bisa membuat semua orang di rumah berperan. Dan jika dilarang, artinya, akan ada teriakan tsunami.

Nah, berkaitan dengan alat rias yang hancur, entah sudah berapa lipstik alias lipen yang dihancurleburkan. Lipstik satuan, mah, sudah sering ditemukan dalam kondisi patah-patah. Sekali waktu saya membeli lipstik pallete, baru dipakai dua minggu, kemudian tidak bisa dipakai. Ternyata, semua warna dalam pallete itu, dicampurkan. Kalau sudah begitu, mana bisa saya poleskan ke bibir?

Eye shadow juga tidak jauh berbeda. Remuk!

Kalau blush on, saya enggak punya. Tapi, pensil alis tidak luput jadi korban. Setiap mau tidur, mereka harus berdandan dengan alis ala Sinchan. Pokoknya memusingkan, deh!

Sekarang saya sedang memikirkan bagaimana membuat mereka lupa berdandan sehingga peralatan rias saya aman dari bencana. (*)

Kencan yang Gagal

Sabtu malam lalu, seharusnya jadi tontonan bioskop pertama Kinan. Dia begitu antusias ketika dikabari bakal nonton di bioskop. Kinan memberondong Abah dan Ambu dengan pertanyaan soal bioskop. Dan kami pun sebagai orang tuanya mewanti-wanti hal yang mungkin membuatnya kaget seperti kondisi bioskop yang gelap gulita saat film akan diputar.

Empire XXI di Bandung Indah Plaza jadi pilihan. Kedekatan lokasi dengan kantor Ambu jadi pertimbangan. Seperti biasa, setelah rutinitas “Sabtu bersama Abah”, kami akan mampir ke kantor Ambu, untuk absensi.

image

Saat itu hujan. Tapi Kinan tetap semangat. Dia bahkan tidak sabar menuju bioskop. Bagi kami, usia Kinan yang baru tiga tahun, saat yang tepat memperkenalkannya pada bioskop. Wawasannya tentang perbedaan sensasi menonton di bioskop harus mulai ia rasakan.

Ambu mah baru kenal bioskop kelas 2 SMA. Kondisi keuangan orang tua tidak memungkinkan mengajak anaknya ke bioskop. Di kelas 2 itulah, Ambu sudah memiliki yang lebih untuk hiburan. Uang itu diperoleh dari keuntungan berjualan surabi di sekolah. Film yang ditonton di bioskop Kepatihan itu Titanic.

Kembali ke film perdana Kinan, ternyata kami harus kecewa. Kursi di jadwal pukul 16.50 WIB sold out. Jadwal berikutnya pukul 21.00 WIB, waktu tidur malam anak. Kami pun batal mengantar Kinan menonton film pertamanya di bioskop. Dan, kami harus bersiap manakala Kinan menagihnya.

Oh iya, film yang akan kami tonton itu adalah The Good Dinosaur. Berdasarkan beberapa review, film itu merupakan gambaran lain dunia dinosaurus. Saya mengutip dari liputan6.com.

Di film besutan Pixar itu, dikisahkan kalau dinosaurus masih utuh hingga hari ini, karena asteroid yang membuat mereka punah 65 juta tahun lalu hanya melintasi permukaan bumi tanpa menabraknya. Alhasil, dinosaurus pun memiliki peradabannya sendiri meskipun tak ada perkembangan berarti dalam hal teknologi dan sebagainya.

Kisah pun lalu berfokus pada seekor petani Apatosaurus bernama Henry yang hidup bahagia bersama istrinya, Ida. Dari situ, mereka memiliki tiga orang anak, yaitu Libby, Buck, dan Arlo.

Setelah disuguhi oleh kebahagiaan keluarga kecil itu, pikiran kita difokuskan kepada Arlo, si bungsu yang berharap bisa membuat ayahnya bangga dengan menyelesaikan tugas-tugasnya. Kegagalan yang selalu menghantui Arlo pun membuatnya merasa tak berguna di keluarga.

Beruntung, sang ayah sangat baik kepada Arlo hingga suatu ketika mereka menemukan sesosok pencuri makanan yang kabur dari rumah. Dalam melakukan pengejaran terhadap sang pencuri, sesuatu terjadi pada Arlo hingga membuatnya tersesat jauh dari rumah.

Arlo pun akhirnya menemukan teman barunya, anak manusia primitif yang ia beri nama Spot. Alhasil, Arlo pun harus menemukan jalan kembali pulang ke rumah sambil ditemani oleh Spot yang sedang hidup sendirian.

Sementara menurut CNN, The Good Dinosaur menjadi pilihan absolut bagi keluarga yang butuh tontonan bersama. Animasi terbaru dari Pixar itu meraup US$56 juta atau Rp775 miliar selama lima hari libur. Meski angka itu besar, itu masih mengecewakan bagi Pixar.

Animasi yang dirilis Pixar selalu berhasil menjadi hiburan tersukses untuk segala usia. Namun The Good Dinosaur menduduki peringkat sebagai debut paling mengecewakan ke-tiga sepanjang sejarah Pixar. Meski tidak menyebut biaya produksi, diprediksi film itu dibuat dengan US$200 juta atau Rp2,7 triliun.

Apalagi itu film yang sempat bermasalah. Penayangannya tertunda dua tahun, dan sutradara Bob Peterson ditarik dari tim produksi karena penyalahan kesepakatan kreatif. Ia akhirnya digantikan Peter Sohn.

Sayangnya, kami masih belum menonton dan masih penasaran. Di antara pembaca, ada yang sudah menonton? (AB)***