Jangan Bawa Anak-Istri, Mang!

Yes, pesan itu saya peruntukkan bagi sopir angkot yang mungkin terpaksa bawa anak-istri saat nambangan. Kenapa coba? Pertama, ribet. Kedua, riweuh. Ketiga, paciweuh.

Pengalaman saya siang ini dengan sopir angkot rada menyebalkan. Sebut saja namanya Mang Digo Daramang, anagram dari pelat nomor angkutannya. Di jok depan sebelah sopir ada seorang wanita memeluk anak kecil yang tidur di pangkuannya. Mungkin itu anak dan istri Mang Digo. Tas perempuan ala-ala Hermes nangkring di dashboard yang mungkin menghalangi spion kiri angkot.

Mang Digo tidak protes meskipun kaca spionnya menghilang ditutup tas. Rada sieun kalau dia disentak sang istri karena menyingkirkan tas pujaannya yang maha penting itu hingga memiliki tempat di dashboard. Dan lagi, akan hancur harga diri Mang Digo dicarekan sama istri di angkot, saat kerja. Mau dikemanakan wajahnya di depan para penumpang yang sebenarnya tidak dia kenal. Ya sudah, Mang Digo hanya mengandalkan insting apa ada kendaraan di kiri yang berupaya menyalipnya.

Sepanjang perjalanan, tidak jelas apa yang dibicarakan antara Mang Digo dan istrinya. Saya menduga Mang Digo berupaya menunjukkan betapa keras persaingan para sopir angkot berebut penumpang. Dengan gaya pembalap gagal, dia menyetir salip kiri dan kanan seenaknya. Tidak menghiraukan penumpang di belakangnya seperti cendol yang diuplak-eplok. Bisa olab kami di belakang. Tidak ada keresek yang dapat menampung muntahan kami, karena harganya mahal. Meskipun Rp 200 tiap kereseknya, saya jamin Mang Digo tidak mau menanggungnya.

Di belakang, kami, para penumpang hanya bisa merapal sumpah serapah. Sesekali berteriak kepada Mang Digo agar dia lebih berhati-hati mengendalikan setirnya. Anehnya, istrinya diam saja seperti menikmati setiap goyangan mobil saat bantingan setir mengentak ke kanan dan kiri. Saya malah curiga, bawaan Mang Digo mengemudi itu atas permintaan istrinya. Teungteuingeun.

Selama ini, yang sering dikenai uji emisi hanyalah kendaraan. Tidak pernah saya dengar ada uji emosi untuk sopirnya. Uji urin pun hanya dilakukan setahun sekali. Itu pun untuk sopir bus pada saat akan Lebaran. Sesuai anggaran yang tersedia.

Saya tahu menjadi sopir angkot itu berat. Apalagi dikikintil sama istri dan anak. Seakan si istri tidak ada pekerjaan di rumah sehingga wajib mengawal suaminya. Belum lagi setoran yang harus dipenuhinya. Jika kalah dalam persaingan perebutan penumpang, bisa-bisa uang dapur dipakai menambal kurangnya uang setoran.

Sudah bukan rahasia lagi kalau sebenarnya pemilik angkot itu bukan pengusaha angkot. Dia hanya menyewakan angkotnya pada sopir. Si sopir hanya akan kebagian sisa uang setoran, yang jumlahnya tidak tentu. Tidak ada gaji tetap, apalagi tunjangan. Pemilik angkot pun tidak menanyai apa sopirnya memiliki izin mengemudi atau tidak. Selama aman dan setoran lancar, soal surat izin mengemudi, pemilik angkot seakan tutup mata.

Kebijakan pemerintah pun tidak sampai pada persoalan kesejahteraan sopir angkot. Yang masih diurusi hanya seputar izin trayek. Persoalan gaji, masih di awang-awang. Mungkin akan lain ceritanya, bila sopir angkot itu adalah karyawan. Lain kisah, bila yang distandarisasikan itu tidak hanya kendaraan laik jalan. Kalau sudah begitu, tak perlu lagi ada kisah sopir yang membahayakan penumpangnya.(*)

Memaknai Bandung dengan Angkot

“Ke sini pake apa? Bawa kendaraan sendiri?”
Jawaban saya cukup dengan menggeleng. Karena memang iya, pekerjaan saya yang mungkin terlihat harus bergerak cepat dengan kendaraan super ringan dibanding truk, tapi tidak tergambar dalam diri saya.

Saya ogah belajar mengendarai sepeda motor. Belajar menyetir, uang saya belum cukup untuk membelinya. Dan sejujurnya, saya amat menikmati naik kendaraan umum.
image

Buat saya, naik kendaraan umum lebih istimewa. Meski gak jarang ketemu sopir angkutan yang sontoloyo atau penumpang rese, tapi ini pengalaman petualangan jadi angkoter.

Jadi penumpang angkot di Bandung bisa mengupgrade kita pada Bandung dan cara berpikir kita. Karena jadwal kerja harian saya dalam sehari bisa mendatangi lebih dari dua titik, yang mungkin berjauhan, ya, otak saya harus bekerja cepat. Memilih rute dan angkutan terpendek.

Seperti hari ini, jam 8 pagi saya harus sudah di UNLA Jln. Karapitan dan jam 1 siang menghadiri undangan di Jln. Sangkuriang. Satu undangan terpaksa saya cancel karena badan saya tidak mungkin ada di Karapitan dan Setiabudi. Saya berpikir keras rute ke dua tempat itu tetapi masih bisa mengisi daftar hadir ke kantor.

Karena harus menggunakan angkot, peta Bandung jadi sokongan saya. Tak terhitung saya melihat peta digital untuk membantu perjalanan saya. Lama-lama saya malah menjadi fasih dengan Bandung. Saya jarang menjawab tidak tahu ketika ada yang bertanya satu spot soal Bandung.

Saya tidak peduli jika harus tersesat, karena mencoba satu kendaraan umum. Seperti kata dosen saya, malu bertanya sesat di jalan, tapi banyak nanya itu tandanya ogah mikir, he he…(*)

Hati-hati! Copet Di Angkot Merajalela

Buat Anda sekalian yang terbiasa naik angkutan umum, lebih berhati-hati,ya! Dandanan necis, tutur kata sopan gak berhati niatnya selalu baik. Banyak serigala berbulu domba. Hatinya yang busuk diselimuti hiasan indah duniawi.

Heup, cukup berpujangga ria-nya. Saya ingin berbagi pengalaman soal copet di dalam angkot. Gak menimpa saya, sih! Cukup! (*walau terakhir kecopetan hape sebulan lalu, he he!) Saya hampir jadi saksi aksi pencopetan. Saksi dalam artian pengecut yang hanya sanggup melihat copet leluasa mengambil barang korbannya.

Saat itu, saya naik angkutan umum jurusan Cimahi-Leuwipanjang di bunderan Elang. Tidak lama, di Holis, seorang lelaki berkaos abu-abu plus celana jeans naik. Dia memilih duduk di belakang jok sopir yang sebenarnya sudah sempit dengan penumpang. Di jok panjang, ada lima orang penumpang dengan urutan dua orang ibu-ibu paruh baya berjilbab, seorang bapak gemuk berbatik dan memangku ransel, dan dua pemuda tanggung berkaos oblong. Di jok pendek, seorang lelaki berambut keriting dengan celana selutut juga memangku ransel dan saya yang duduk di ujung jok dekat kaca. Si penumpang baru yang rambutnya mirip Saiful Jamil itu memilih berdesak-desakan dengan dua ibu paruh baya.

Sebelum lampu merah Pasir Koja, si mirip Saiful Jamil itu tiba-tiba panik gak keruan. Dia kepanasan dan meminta si ibu yang di sebelahnya membuka kaca mobil. Padahal pintu penumpang dan kaca kursi sopir terbuka. Angin leluasa masuk. Tapi Saiful pintar membuat situasi makin chaos.

“Ibu, dorong kacanya dong! Panas banget ini! Saya gak tahan!”

Si ibu terbawa suasana. Dia bangkit untuk mendorong kaca. Eh, si keriting ikutan bangkit mendekati si ibu. Si keriting ini, mengasongkan ransel yang dipangkunya ke bagian pinggang si ibu. Eh si bapak gemuk berbatik juga melakukan hal yang sama kepada ibu yang satu lagi. Kampret! Mereka kawanan copet rupanya. Laju cepat kendaraan agak menyulitkan gerakan mereka.

Si mirip Saiful semakin aktif bereaksi bak cacing kepanasan. Dua pemuda tanggung depan saya, ikutan panik. Mereka seperti saya, menyadari apa yang terjadi dalam angkot. Mereka pun seperti saya, menimbang apa yang. Bisa dilakukan untuk menghentikan aksi mereka.

Ada dua pilihan. Pertama, teriakan copet kepada mereka. Risikonya cukup besar. Kami duduk di pojok, jauh dari pintu keluar. Kalau si copet punya senjata, kami ini sasaran empuk. Celaka tiga puluh ini! Pilihan Kedua, minta angkot berhenti. Saya ambil pilihan kedua.

Saya berteriak supaya angkot berhenti karena saya mau turun. Angkot pun berhenti. Si mirip Saiful Jamil turun lebih dulu sambil garuk-garuk kepala. Sambil turun saya ingatkan si ibu kalau dia hampir dicopet. Berharap dia waspada karena sedikitnya masih ada dua copet di dalam angkot.

Saya bersyukur aksi itu batal. Saya tidak menganggap apa yang saya lakukan itu heroik (*emang kata sapa heroik, mbu!). Tapi saya tak ingin jadi pengecut yang diam saja melihat ada hal jahat yang sebenarnya kita bisa hentikan. (*)

Sopir Gedebul

Sudah macet. Jalanan dibenerin. Tambah macet karena kendaraan tumplek di satu ruas jalan. Rudet!

Rudet kian bertambah tatkala ketemu sopir angkot yang gedebul. Angkotnya sudah diisi 4 penumpang sebelum saya naik. Perkiraan saya dengan penumpang segitu sih, dia pasti melaju cepat. Benar dugaan saya. Tapi hanya hingga sejarak 0,5 km.

Angkot tiba-tiba berhenti di depan Metro Garmen. Mesin kendaraan pun dimatikan. Lima menit, saya biarkan. Sepuluh menit tetep nagen. Berkali-kali saya lihat jam tangan.

Saya: Pak, ieu nungguan naon deui? Aya penumpang?

Sopir: Heunteu Neng (*sambil menghidupkan mesin kendaraannya)

Saya pikir dia akan melaju. Rupanya tidak.

Saya: Masih lama teu Pa? (* si sopir pura-pura gak denger)

Kesal. Lalu saya turun. Dia minta ongkos. Saya kasih seribu rupiah. Peduli tuyul dia ngomel-ngomel karena uang seceng itu.

Pelajaran dari si sopir gedebul:
Jangan naik angkot, deket-deket bubaran buruh pabrik.
(*)

Panggil Saya Tanteu

Uang banyak ternyata gak selalu bikin kita dipatuhi banyak orang. Buktinya, seorang nenek sering ditolak saat naik angkot. Padahal ia berjanji akan membayar dua kali lipat dari ongkos pada umumnya. Tapi, si sopir selalu menolak.

Saya:Kenapa ditolak Pa? Kan lumayan harga BBM naik, ada yang mau bayar dua kali lipat.

Sopir: Ah mending ditolak aja. Kasian penumpang yang lain.

Konon si nenek ini biasanya naik angkot di halteu depan Polsek Sukajadi (sebelah Paris van Java). Dia nanti turun di panti jompo, Lembang (depan Polsek Lembang). Penampilannya gak kayak nenek-nenek biasa. Setelannya keren pokoknya. Dia pakai celana jeans sontog. Atasannya pake kaos dibalut vest, serasi dengan topinya yang juga berbahan denim. Kedua tangannya angkaribung dengan kantong keresek. Isinya, entah apa.

Si sopir sudah mewanti-wanti kernet, untuk bilang angkot penuh. Sayangnya, tiga orang penumpang yang turun ternyata memberikan ongkos dengan uang lembaran nominal cukup besar. Maka, lama pula si sopir mengembalikannya. Dan si nenek pun bergegas menghampiri angkot sambil teriak, “Saya bayar 10 ribu!”

Rayuan si nenek tidak mempan. Si sopir tetap melajukan kendaraannya. Lalu dia nyerocos,”Kalau di angkot, si nenek selalu mengganggu penumpang lain. Kalau dipanggil nenek atau ibu, dia pasti marah dan menyuruh penumpang memanggilnya tanteu. Dari pada penumpang saya gak nyaman, mending gak usah diangkut.”

Bisa dibayangin ya, pas dia ngomelin penumpang lain saat dipanggil nenek atau ibu. “Tanteu! Bukan nenek!”

Betul juga sih. Sudah jelas fisik angkot di Bandung tidak nyaman seperti jalanannya plus kemacetannya. Kalau ditambah penumpang seperti si nenek, pasti tambah rudet. Tapi kalau tidak ada yang narik, kasihan juga. Namanya juga nenek-nenek, kudu banyak dimaklum. Hhmmm, tapi saya percaya, seseorang sopir angkot lainnya, pasti akan membiarkannya menumpang, dengan segala risikonya, he he.. (*)