Sore yang Indah di Jalan Dalem Kaum

Bandung hari ini punya festival (lagi). Kebetulan selalu dilaksanakan pada hari Sabtu. Kebetulan pula lokasinya di Jalan Asia Afrika. Kebetulan juga kantor saya ada di situ. 

Kebetulan yang lain, kalau ada festival di hari Sabtu pasti sekaligus dengan car free night. Artinya Jalan Asia Afrika ditutup hingga waktu yang ditentukan. 

Buat saya ini, memang merepotkan. Saya yang penggemar angkutan umum harus rela berjalan di antara orang yang berkerumun di trotoar. Ditambah hujan, lengkap sudah gejala hareeng saya nanti. 

Rute angkutan umum pun diubah. Arah kendaraan di Jalan Dalem Kaum, belakang Hotel Homann dibalikkan untuk kendaraan yang dialihkan dari Jalan Asia Afrika. Buat saya pilihannya hanya memesan Go-Jek dengan risiko kehujanan. Itu lebih baik dari pada saya menunggu bus atau angkot dan terjebak macet. 

“Saya dari Go-Jek. Bisa tunggu saya 10 menit. Karena saya mau pakai jas hujan dulu,” suara di seberang telfon mengisyaratkan saya tidak membatalkan pesanan. Saya turuti dengan harapan bisa lebih cepat dari 10 menit. 

10 menit. 15 menit berlalu. Saya mulai galau. Tak kuat terlalu lama berdiri. Tapi kalau jongkok, tidak jadi opsi saya saat itu. 

“Mba, posisi dimana? Jalan Dalem Kaum, kan? Saya sudah di Mesjid Agung,” kata si driver yang menelfon dengan nomor yang berbeda dengan yang ada di aplikasi. 

Rupanya yang dia tahu Jalan Dalem Kaum itu adalah Mesjid Agung. Dia tidak baca peta kalau jalan itu bisa empat kali jalan di daerah Mesjid Agung. 

“Saya ini berdiri dari tadi. Di dekat Toko Buku Sinetra. Dekat Hotel Homann. Dekat Jalan Pangarang,” saya jadi sewot. Dan dia bukannya mengerti penjelasan saya. “Jadi Mba nunggunya di Jalan Pangarang?”…Ahhh, saya super duper kesallll!

Di setiap telfon, selalu disisipkan pesan agar saya mau menunggunya. Tapi ini sudah hampir setengah jam. Dan kalau saya pakai moda lain, mungkin saya sudah separuh perjalanan. 

Saya ini terbilang orang yang sabar. Saya akan menunggu tapi itu ada batasnya. Jika memang waktu itu uang, berapa banyak uang saya yang hilang berdiri di pinggir jalan selama setengah jam. Waktu selama itu membuat saya mengenali sosok anak lelaki bertindik sebesar koin yang sudah tiga kali melintas di depan saya. Saya pun jadi ekstra curiga ketika ada lelaki bertato dengan baju robek-robek, dan jalan sempoyongan akan mendekat. 

Telfon saya kembali berbunyi. 

“Mba, posisi Mba sebelah mana Restoran Queen?”

Di titik ini saya mulai merasa dikerjain. Restoran yang dia maksud itu sangat dekat dengan posisi saya berada. Di sebelah restoran itu, ada sebuah tempat karaoke dan di seberang tempat karaoke itu ada toko buku dengan saya berada di depannya. “Saya ke situ sekarang, ya! Ditunggu, ya!”

Batas kesabaran saya sudah habis setelah 10 menit dari telfon itu driver Go-Jek tak juga nongol. Kebetulan ada bus lewat. Sebelum naik, saya kirim pesan singkat yang isinya membatalkan pesanan saya. 

“Waduh, maaf, ya, Mba. Saya solat magrib dulu di Jalan Pangarang. Maaf banget,” jawaban dari pesan saya yang masuk 20 menit kemudian. (*)

Advertisements

Mereka adalah Bandring

bandring

Sumber: dokumentasi Bandung Birding (bandring)

Anda pasti sering melihat burung terbang di sekitar lingkungan Anda? Ketika burung itu tak lagi ada, pernahkah bertanya pergi kemana burung itu? Mati atau pindah? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terlintas di benak Anda.
Ya, itu tulisan pembuka saya di sebuah tulisan yang dimuat di Edisi PR Minggu beberapa tahun lalu. Tulisan itu berkisah tentang sebuah komunitas yang memiliki kepedulian terhadap burung. Mereka adalah Bandung Briding (Bandring).
Mereka bukan kolektor ataupun breeder. Mereka hanyalah sekelompok orang yang rajin mengamati burung atau bird watching.
Awalnya, anggota Bandring ini hanyalah fotografer biasa dengan aktivitas yang tidak jauh dari memotret wedding dan pre-wedding. Lama-lama, muncul kejenuhan. Terbitlah niat untuk mencoba pilihan lain, tapi tetap memotret. Diputuskan untuk memotret wildlife. “Kami cari yang mudah yaitu memotret burung,” ucap Ahmad Sofyandi yang juga ahli tentang burung.
Lima orang sepakat membasmi kejenuhan dengan memotret burung. Hasil foto mereka dibagikan di media sosial. Mereka rajin menandai foto-foto itu pada rekan-rekannya, entah mereka suka atau tidak pada burung. Anggota Bandring kian bertambah lewat media sosial. Namun tidak mudah bergabung dengan Bandring di media sosial.”Kami lihat dulu rekam jejak mereka di media sosial yang mereka miliki. Kami khawatir mereka punya niat terselubung. Itu pula alasan kami tidak pernah membagi foto hasil buruan kami ke media. Bisa-bisa itu bahan mereka memburu burung untuk dijual,” papar Nugraha Nugie.
Kini anggota Bandring yang aktif berjumlah 20 orang. Usai berburu foto, mereka akan mendiskusikannya. Kesimpulan sederhana: aset Bandung itu banyak, salah satunya burung.
Sayangnya, lokasi-lokasi mereka memotret burung kian berkurang. Penyebabnya, alih fungsi lahan dan perburuan. Ruang terbuka hijau (RTH) terus menyusut. Jauh dari aturan standar, 30 persen dari luas wilayah Kota Bandung. Yang ada sekitar 11 persen pun, terus dipangkas.
Pada 2008, Ahmad pernah mendata ada lebih dari 40 jenis burung di Bandung. Burung-burung ini tersebar di Taman Kota, pemakaman, Takura, dan taman-taman di kampus. Kini susah ditemukan. Salah satunya yang biasa ada di Taman Kota adalah burung Kacamata, yang pandai meniru burung lainnya. Sekarang jarang ditemukan.
Yang memprihatinkan, beberapa waktu lalu, Ahmad tidak sengaja memotret jaring perangkap berukuran 4×2 meter dipasang melintang di antara pohon di Taman Kota. Pemasangan tepat di jalur lintasan burung. Bisa dibayangkan, berapa banyak burung yang terjaring dan kemudian berada di pasar burung. Burung Kacamata saja, terbang selalu berkelompok dengan jumlah paling sedikit 10 ekor. Berarti sekali terperangkap bisa 10 ekor!
Migrasi
Seperti disebutkan tadi, perburuan salah satu penyebab menyusutnya jumlah burung di Bandung. Akan tetapi, alih fungsi lahan juga berperan banyak. Ade Mamad menyebutkan pepohonan di Bandung merupakan lokasi transit tetap pengunjung tahunan. Rutenya tidak berubah.
Mereka yang transit adalah burung-burung dari Cina dan Taiwan seperti Sikatan Bubik, Cikrak Kutub, Bentet Loreng, Jalak Cina, Elang-alap Cina, Elang-alap Jepang, dan Sikep Madu Asia. Namun, kini agak sulit menemukan mereka. Alasannya, semakin berkurang pohon tempat mereka transit.
Dengan membiarkan kondisi seperti ini, alih fungsi lahan dan perburuan, terus berlangsung sama saja artinya dengan merusak ekosistem. Tidak perlu kaget jika generasi berikutnya hanya mengenal jenis burung dari gambar. Mereka tidak pernah melihat wujud aslinya.
Nah, agar hal itu tidak terjadi, Bandring tidak hanya ingin memperkenalkan jenis burung dari foto-foto yang berhasil mereka dapatkan. Tetapi juga mengedukasi masyarakat. Foto-foto yang didapat Ade Mamad, Nugraha Nugie, Ahmad Sofyadi, Awangga Kusumah, Ikbal Ramdhani, Budi Hermawan, dan Deni Rahadian menjadi titik awal untuk tidak memutus rantai ekosistem.
Melalui foto-foto itu, paling tidak tingkat perburuan berkurang. Atau, pikiran untuk memperjualbelikan burung pun terkikis. Secara lebih luas, mengingatkan masyarakat bahwa ruang terbuka hijau itu penting untuk mereka. Kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka hijau cukup besar, begitu juga burung. Oleh karena itu, wajar bila Bandring mengusung slogan, “Manuk Jalma Baraya”.
Anti parfum
Meskipun hanya memata-matai burung lalu memotretnya, tidak mudah dilakukan, loh! Mungkin bagi Anda yang pernah membaca novel “Partikel” karya Dewi Lestari mengingat ada halaman yang menceritakan Zarah di awal karirnya sebagai fotografer wildlife. Ketika memotret di Kenya, ia harus menggali lubang dan mengubur dirinya. Yang tersisa hanya atap kecil di kepala dengan celah yang cukup untuk lensa kamera membidik.
Alasannya, ya, agar tidak mengganggu hewan-hewan liar yang akan difoto. Bisa dibayangkan, jika hewan itu menyadari kehadiran Anda. Bisa jadi malah Anda yang menjadi sasaran mereka. Pulang tinggal nama. Serem!
Memotret burung di alam bebas seperti yang dilakukan Bandring pun serupa. Mereka tidak bolah dikenali bentuk dan baunya oleh burung. Tidak heran jika koleksi pakaian mereka motifnya mirip dengan pepohonan. Sederhananya, mirip kostum tentara.
“Saya sampai sengaja berburu baju-baju yang bisa menyamarkan diri saat membidik burung,” kata Ade Mamad.
Anggota Bandring juga anti-parfum. Berbahaya bila baunya tercium burung. Mereka tidak akan anteng berinteraksi bebas di alam. Bisa saja, waktu transit di pohonnya sebentar karena merasakan ada tanda bahaya akibat aroma parfum.
“Oleh karena itu, lebih baik tidak usah mandi. Berhari-hari tidak mandi, lebih afdol. Menyatu dengan alam, ha ha..” ujar Ahmad Sofyandi.
Memantau burung pun tidak bisa dilakukan dalam waktu yang cepat. Selain memilih lokasi yang biasa dilintasi burung, keberuntungan tidak semata-mata mengikuti. Anggota Bandring bisa berhari-hari memata-matai burung tanpa hasil maksimal. Namun, tidak disangka, burung yang mereka cari malah muncul di halaman rumah, bukan di tempat mereka berburu.
Selain itu, mungkin perlu keterampilan atau lebih tepatnya kenekatan ketika memata-matai burung. Untuk mendapat hasil foto yang maksimal, ada yang nekat memanjat pohon dan menunggu kedatangan burung. Ada juga yang rela mendandani diri seperti pepohonan. Semua dilakukan demi burung. ***

My Stupid Boss (part 2) yang ala-ala gitu!

Buat yang pernah nonton, My Stupid Boss pasti ingat kata-kata dia yang jadi ciri khasnya, “tempe bener, sih, kamu!” Atau dengan perilakunya yang amnesia dini akut syekali di mana ia selalu lupa hal yang baru saja dia bicarakan. Mungkin, sifat si Bossman yang takut sama istri dan milih memanfaatkan karyawannya agar menghindar dari paksaan mencicip masakan istri. 

Kalau ingat si Bossman, saya berasa mirip si PPDB alias Penerimaan Peserta Didik Baru. Sudah dua tahun saya ikut riweuh. Padahal anak-anak saya belum ikutan PPDB. Masuk PA’UD (itu cara pengucapan pengasuh saya, loh! Seperti pakai ain dalam bacaan Quran) juga belum. Tahun ini ada sedikit partisipasi, sih, karena ada keponakan yang masuk SMA. Setidaknya itu agak bikin saya baper memantau PPDB. 
Tahun ini juga, aturan PPDB dibilangnya, lebih mendingan dari tahun lalu. Banyak aturan yang merevisi kegagalan tahun lalu. Misalnya, menghapus pembina yang memutuskan dan menetapkan hasil pleno. Aturan ini yang bikin pembina seenak udel mengubah kapasitas sekolah karena ingin menampung seluruh siswa miskin di sekolah negeri. 

Anak guru mulai diatur jumlah yang lolos seleksi yakni 3%. Meskipun upaya keadilan ini, direspon sebagai ketidakadilan karena kata guru, dengan berlindung di bawah undang-undang guru, itu bentuk kemaslahatan bagi guru karena mereka ini pahlawan tanpa tanda jasa. Jadi harus dimudahkan masuk SEKOLAH NEGERI! (Ah, saya enggan menafsirkan isi pasal di undang-undang guru. Karena penafsiran selama ini pun hanya parsial)

Jalur prestasi terutama olah raga, mungkin ada perbaikan. Mungkin, loh, karena melibatkan KONI dalam verifikasi data prestasi siswa. Kemudian, ketahuan ada pemalsuan. Kemudian, dilaporkan. Ada juga upaya jual beli sertifikat. Kemudian dilaporkan. Kemudian diberitakan. Kemudian yang beritakan didatangi … (Lalu perkataan selanjutnya hilang dalam senyap). 

Terus, ada juga siswa inklusi yang kemudian diakomodasi. Entah salah si sosialisasi atau gimana, dari alokasi ribuan kursi dengan rincian tiga siswa di tiap sekolah, yang daftar hanya, 31 orang. Yup, 31 orang. 

Iya, mirip si Bossman. Bikin aturan serba perpect tapi tidak lihat situasi. Tapi, karyawannya dianggap tempe karena tidak bisa ikuti aturan dia. Kemudian dia ikutan tempe karena melanggar aturannya dia.

Itu sama saja, dengan bikin aturan yang katanya sempurna atau agak mendingan dibanding tahun lalu. Tapi pelaksanaannya, ya, banyak improvisasi. Mirip, lah, pekerjaan tukang vermak di jalan yang benerin baju sesuai keinginan yang punya baju. Nah, di PPDB ini, yang merasa punya baju itu banyak. Bisa dibayangkan, dong, itu celana yang dipermak. Mungkin sebelah cutbray, sebelah pensil. Mungkin sakunya ada ratusan! Jadi gak heran, bila akhirnya si tukang permak malas benerin celana itu. Karena tafsir tiap orang tentang kecantikan dan kegantengan itu relatif, Jenderal!

Ditambah lagi, kalau diibaratkan sepak bola, si PPDB ini banyak banget wasitnya. Ada pengawas internal, Ombudsman, organisasi kependidikan, independen, orang tua siswa, dan mungkin ada yang ngaku-ngaku juga jadi pengawas. Kebayang, kan, selain di dalam lapangan ada juga wasit di luar lapangan yang jauh lebih heboh. Terus, gimana, nih, para pemain. Yah, jadi hare-hare. Lihat saja FORUM TANYA di laman resminya. Sebuah forum penuh pertanyaan tanpa ada jawaban. Semua yang asyik di dunianya masing-masing dan merasa benar atas tindakannya. 

Saya yang ogah jadi pemain atau pengawas ternyata kagugusur oge. Mesti cari informasi yang mencerahkan pembaca. Informasi yang kadang hanya ceuk si ieu, ceuk si itu, karena informasi shahih itu sering kali susah diakses. 

Satu yang saya khawatirkan, saya tidak akan lagi kritis dengan isu-isu PPDB. Saya mungkin jadi orang apatis. Orang yang akan jawab seperti suaminya Kerani, karyawan si Bossman kalau PPDB, “emang kayak gitu orangnya!”

Atau, saya akan bilang kalau yang namanya jual beli kursi, pemalsuan sertifikat dan dokumen, ubah-ubah sistem, mark up nilai itu sudah jadi hal lumrah. Toh, tidak pernah ada tindakan nyata. Saya asli sieun jadi seperti itu. 

Atau, saya akan memilih berita-berita yang datar saja. Tidak perlu bikin berita sensasional. Tak perlu nulis berita yang isinya ditafsirkan memberikan persepsi pencemaran nama baik agar saya tidak perlu didatangi orang yang berdalih mau klarifikasi tapi bawa pengacara. 

Saya khawatir kalau, saya yang di luar sistem ini, yang mungkin tidak memiliki kepentingan atas PPDB kemudian menjadi makhluk yang hare-hare. Mau PPDB gitu, atau gini, saya tidak ada urusan. 

Yang paling saya khawatirkan, saya akan jadi generasi tempe, yang mudah lupa dan susah ingat! Ah, sekali lagi saya jadi baper dengan PPDB ini. Mungkin karena ini akan mengganggu jadwal libur Lebaran juga. Tapi, saya yakin, saya tetap ingat bahwa PPDB harus ideal bukan hanya soal siapa yang diakomodasi tapi keberpihakan Pemerintah memberikan layanan pendidikan terbaik sehingga tidak perlu ada rebutan masuk sekolah negeri. Toh, kualitas semua sekolah sama.

Tulisan ini pun mungkin jadi cara saya menghindari lupa akan PPDB yang tempe ini. Seakan jadi kewajiban, saya harus menulisnya secara personal. Yah, ini tulisan personal saya, jadi tidak perlu para pengacara mendatangi saya, kan! Ha..ha..! ***

Memaknai Bandung dengan Angkot

“Ke sini pake apa? Bawa kendaraan sendiri?”
Jawaban saya cukup dengan menggeleng. Karena memang iya, pekerjaan saya yang mungkin terlihat harus bergerak cepat dengan kendaraan super ringan dibanding truk, tapi tidak tergambar dalam diri saya.

Saya ogah belajar mengendarai sepeda motor. Belajar menyetir, uang saya belum cukup untuk membelinya. Dan sejujurnya, saya amat menikmati naik kendaraan umum.
image

Buat saya, naik kendaraan umum lebih istimewa. Meski gak jarang ketemu sopir angkutan yang sontoloyo atau penumpang rese, tapi ini pengalaman petualangan jadi angkoter.

Jadi penumpang angkot di Bandung bisa mengupgrade kita pada Bandung dan cara berpikir kita. Karena jadwal kerja harian saya dalam sehari bisa mendatangi lebih dari dua titik, yang mungkin berjauhan, ya, otak saya harus bekerja cepat. Memilih rute dan angkutan terpendek.

Seperti hari ini, jam 8 pagi saya harus sudah di UNLA Jln. Karapitan dan jam 1 siang menghadiri undangan di Jln. Sangkuriang. Satu undangan terpaksa saya cancel karena badan saya tidak mungkin ada di Karapitan dan Setiabudi. Saya berpikir keras rute ke dua tempat itu tetapi masih bisa mengisi daftar hadir ke kantor.

Karena harus menggunakan angkot, peta Bandung jadi sokongan saya. Tak terhitung saya melihat peta digital untuk membantu perjalanan saya. Lama-lama saya malah menjadi fasih dengan Bandung. Saya jarang menjawab tidak tahu ketika ada yang bertanya satu spot soal Bandung.

Saya tidak peduli jika harus tersesat, karena mencoba satu kendaraan umum. Seperti kata dosen saya, malu bertanya sesat di jalan, tapi banyak nanya itu tandanya ogah mikir, he he…(*)