My Stupid Boss (part 1)

Sebenarnya judul post di atas tidak menggambarkan isi tulisan kali ini. Itu hanya judul film yang kami tonton hari ini. Yes, kami tonton bertiga, tanpa si Galing. Kebayang repotnya kalau bawa si Galing ke bioskop. Rempong mania!

Tadinya saya akan nonton My Stupid Boss sama si Abah saja. Tapi karena kerja hari ini ngegembol si Ceuceu, jadilah nobar.

Jadi rasanya enggak penting bikin review filmnya. Yang nonton ada sudah hampir dua juta orang. Seandainya satu persennya saja bikin review berarti ada 20.000 tulisan. 

Yang penting jadi bahasan adalah teman nonton. Kita mulai dari si Abah yang enggak masalah kita kebagian duduk di kursi baris kedua depan. Jarak antara kursi ke layar masih relevan lagi. Kita enggak perlu tanggah!

Selama menonton, Abah banyak ketawa. Ini artinya filmnya memang benar-benar lucu. Hanya sekali Abah ke toilet. Sisanya dia tampak enjoy meski memangku dua tas.

Nah, yang agak heboh itu penonton kedua. Dari awal masuk tadinya saya akan mark down umur Ceuceu. Tapi mana percaya Mba kasir ngeliat anak dua tahun tapi cerewetnya minta ampun. Ya sudah lah dinikmati saja. Dan, bayar Rp 30 ribu. 

Ceuceu hanya bisa santai ala di pantai 15 menit awal film. Sisanya, ngintipin penonton di belakang. Berkali-kali duduk di bawah. Enggak jarang bikin Abah senewen. Jurus ‘pengen jajan’ dia keluarkan. Terakhir, ajak ke toilet. 

Jangankan menonton film komedi, film anak saja, dia hanya kuat menonton 30 menit. Selain menggoda saya, dia terlelap tidur. 

Memang terkadang saya anggap saya yang egois. Karena memaksa anak menonton di bioskop. Film yang ditonton pun pilihan saya. Tapi saya ambil sisi positifnya. 

Bagi saya, di bioskop anak belajar banyak hal. Baik untuk dirinya sendiri maupun penonton lainnya di studio. Ceuceu jadi mengenal ruang gelap dan dingin itu. Terpenting dia mampu mengekspresikan apa yang di lihat dan alami selama di bioskop. (*)

Kencan yang Gagal

Sabtu malam lalu, seharusnya jadi tontonan bioskop pertama Kinan. Dia begitu antusias ketika dikabari bakal nonton di bioskop. Kinan memberondong Abah dan Ambu dengan pertanyaan soal bioskop. Dan kami pun sebagai orang tuanya mewanti-wanti hal yang mungkin membuatnya kaget seperti kondisi bioskop yang gelap gulita saat film akan diputar.

Empire XXI di Bandung Indah Plaza jadi pilihan. Kedekatan lokasi dengan kantor Ambu jadi pertimbangan. Seperti biasa, setelah rutinitas “Sabtu bersama Abah”, kami akan mampir ke kantor Ambu, untuk absensi.

image

Saat itu hujan. Tapi Kinan tetap semangat. Dia bahkan tidak sabar menuju bioskop. Bagi kami, usia Kinan yang baru tiga tahun, saat yang tepat memperkenalkannya pada bioskop. Wawasannya tentang perbedaan sensasi menonton di bioskop harus mulai ia rasakan.

Ambu mah baru kenal bioskop kelas 2 SMA. Kondisi keuangan orang tua tidak memungkinkan mengajak anaknya ke bioskop. Di kelas 2 itulah, Ambu sudah memiliki yang lebih untuk hiburan. Uang itu diperoleh dari keuntungan berjualan surabi di sekolah. Film yang ditonton di bioskop Kepatihan itu Titanic.

Kembali ke film perdana Kinan, ternyata kami harus kecewa. Kursi di jadwal pukul 16.50 WIB sold out. Jadwal berikutnya pukul 21.00 WIB, waktu tidur malam anak. Kami pun batal mengantar Kinan menonton film pertamanya di bioskop. Dan, kami harus bersiap manakala Kinan menagihnya.

Oh iya, film yang akan kami tonton itu adalah The Good Dinosaur. Berdasarkan beberapa review, film itu merupakan gambaran lain dunia dinosaurus. Saya mengutip dari liputan6.com.

Di film besutan Pixar itu, dikisahkan kalau dinosaurus masih utuh hingga hari ini, karena asteroid yang membuat mereka punah 65 juta tahun lalu hanya melintasi permukaan bumi tanpa menabraknya. Alhasil, dinosaurus pun memiliki peradabannya sendiri meskipun tak ada perkembangan berarti dalam hal teknologi dan sebagainya.

Kisah pun lalu berfokus pada seekor petani Apatosaurus bernama Henry yang hidup bahagia bersama istrinya, Ida. Dari situ, mereka memiliki tiga orang anak, yaitu Libby, Buck, dan Arlo.

Setelah disuguhi oleh kebahagiaan keluarga kecil itu, pikiran kita difokuskan kepada Arlo, si bungsu yang berharap bisa membuat ayahnya bangga dengan menyelesaikan tugas-tugasnya. Kegagalan yang selalu menghantui Arlo pun membuatnya merasa tak berguna di keluarga.

Beruntung, sang ayah sangat baik kepada Arlo hingga suatu ketika mereka menemukan sesosok pencuri makanan yang kabur dari rumah. Dalam melakukan pengejaran terhadap sang pencuri, sesuatu terjadi pada Arlo hingga membuatnya tersesat jauh dari rumah.

Arlo pun akhirnya menemukan teman barunya, anak manusia primitif yang ia beri nama Spot. Alhasil, Arlo pun harus menemukan jalan kembali pulang ke rumah sambil ditemani oleh Spot yang sedang hidup sendirian.

Sementara menurut CNN, The Good Dinosaur menjadi pilihan absolut bagi keluarga yang butuh tontonan bersama. Animasi terbaru dari Pixar itu meraup US$56 juta atau Rp775 miliar selama lima hari libur. Meski angka itu besar, itu masih mengecewakan bagi Pixar.

Animasi yang dirilis Pixar selalu berhasil menjadi hiburan tersukses untuk segala usia. Namun The Good Dinosaur menduduki peringkat sebagai debut paling mengecewakan ke-tiga sepanjang sejarah Pixar. Meski tidak menyebut biaya produksi, diprediksi film itu dibuat dengan US$200 juta atau Rp2,7 triliun.

Apalagi itu film yang sempat bermasalah. Penayangannya tertunda dua tahun, dan sutradara Bob Peterson ditarik dari tim produksi karena penyalahan kesepakatan kreatif. Ia akhirnya digantikan Peter Sohn.

Sayangnya, kami masih belum menonton dan masih penasaran. Di antara pembaca, ada yang sudah menonton? (AB)***

Demi Film?

Seperti biasa, setelah jam 7 malam, #kinan pasti sudah terlelap. Saya pun menghabiskan waktu sambilan menunggu panggilan #kinan minta nyusu dengan berkelana di dunia maya. Ketika berselancar di lini masa twitterland, saya menemukan cuitan @caturatna soal film Perahu Kertas yang ditayangkan di televisi. Saya langsung menanyakan jam berapa penayangannya. Sudah dari jam 7, katanya.

Saya lalu meloncat dari kasur menuju televisi yang ada di balik pintu kamar. Saya ingat @deelestari, sang penulis novel Perahu Kertas pernah berkicau kalau film itu akan diputar di SCTV. Saat saya pindahkan, ternyata sedang iklan. Duduk manis depan televisi dan menunggu iklan berakhir. Saat itu pun tiba, lalu…

#kinan menangis minta susu. Duh, Nan kenapa harus sekarang? Tapi permintaan #kinan tak bisa ditolak. Saya melesat kembali ke kasur. Memberikan apa yang #kinan mau. Pikir saya, kalau sedang tidur dia tidak akan lama kok, menyusunya. Salah besar. Setiap saya berusaha beranjak, sedotan #kinan terus mengencang.

Sambil menyusui, saya curi-curi pandang ke televisi. Saat melesat menuju kasur, saya sengaja melebarkan pintu kamar agar bisa melihat televisi. Tapi sayang, mata saya yang sudah minus tidak mampu menerjemahkan gambar-gambar di layar. Satu-satunya cara memohon #kinan segera menyelesaikan menyusunya. Ahhh..tapi itu anak malah sengaja melama-lamakan menyusunya.

Beberapa kali saya mencoba menarik pelan-pelan dari sedotan #kinan. Tapi, #kinan malah semakin kuat menyedot. Bahkan dia memegang erat pabrik asupan satu-satunya itu. Dia tak rela saya meninggalkan dia demi sebuah film.

Nan, #ambu bukan mau ninggalin kamu. Tapi hanya penasaran film dari novel yang pernah #ambu baca. Saat film ini diputar di bioskop, #ambu kubur dalam-dalam keinginan menontonnya. Kamu lebih penting, nak. Nah, pengorbanan #ambu seakan terbayar ketika film ini ditayangkan di televisi.

Saya bisikan kata-kata itu sambil menyusui #kinan. Seakan mengerti, dia pun melepas sedotannya. Terima kasih Nan! Saya pun hanya ingin menontonnya tanpa perlu berperan jadi hakim atau komentator untuk film ini. ***