Dia Berjanji Setia, Mba!

Mungkin hanya itu satu-satunya jalan bagi Desi untuk menyelamatkan perkawinannya. Ia mesti menutup satu kebohongan dengan kebohongan lainnya. Dalam benaknya, saat ia jujur tentang yang sebenarnya, ia khawatir Swara akan membencinya lalu menceraikannya. Satu-satunya hal yang paling ditakutinya.

Ya, itu dugaan saya soal isi pikiran Desi, si penculik bayi Valencia Manurung. Hanya tebakan saya. Tidak lebih.

Bahkan ketika ia memutuskan melompat dari jembatan layang, itu cara terbaik dia menyelesaikan masalah. Lari dari polisi, bukan pilihan prioritas. Tapi ia berusaha lari dari apa yang ditakutinya selama menikah: ditinggalkan suami. Mungkin, kematian akan menyelesaikan segalanya.

Sayang, Tuhan masih memberi ia kesempatan kedua memperbaiki segalanya. Desi selamat meski terluka parah. Polisi menunggu kondisinya lebih baik untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan Tuhan pun membukakan hati orang tua bayi yang diculik untuk memaafkannya. Bahkan sang suami sudah berjanji, akan tetap setia.

Membaca berita latar belakang penculikan ini di media massa memang belum jelas. Desi, si pelaku belum bisa ditanyai. Sehingga, motifnya masih diduga-duga, seperti yang saya lakukan ini.

Namun, dari keterangan si suami mungkin sedikit bisa menguak motif Desi. Swara yang lebih muda menikah dengan Desi yang kini berusia 32 tahun. Saat akan dinikahi, Juli 2013, Desi mengaku tengah hamil dua bulan. Setiap bulan, Desi meminta uang kepada Swara untuk periksa kandungan ke bidan. Sayang, hingga Desi “melahirkan”, Swara tak sempat mengantar.

Swara percaya dengan ucapan Desi karena ia melihat fisik istrinya yang berperut buncit. Tapi, masa sih si suami tidak pernah ada keinginan untuk merasakan tendangan si bayi. Atau memang terlalu polos untuk tahu ciri-ciri perempuan hamil kecuali dari kebuncitan perutnya.

Ia pun percaya ketika sang istri mengatakan melahirkan di jalan saat hendak ke mall. Persalinannya pun dibantu warga. Lagi-lagi, ia percaya. Rasa percaya itu mungkin yang membuat Desi tak tega membongkar kebohongannya. Hingga akhirnya perbuatan kriminalnya itu yang membuat semua akal bulusnya demi cinta suami, terbongkar.

Berbekal jas dokter “pinjaman”, Desi nekat mencuri bayi di RSHS. Ia memilih bayi dengan teliti. Ditambah lagi, sistem keamanan rumah sakit yang terbilang longgar. Atau, Desi berakting meyakinkan ketika menjadi dokter bohongan. Ia pun lolos dan mengambil bayi Valencia.

Dugaan pencurian bayi terkait penjualan bayi dengan harga mahal pun bertebaran. Ada pengamat yang menduga ini bagian dari sindikat pencuri bayi. Ada juga yang mengira si bayi sudah dijual ke luar negeri. Padahal kosan Desi ternyata hanya berjarak kurang dari 100 meter dari rumah sakit. Benar juga, tempat yang paling berbahaya malah menjadi tempat paling aman.

Kini Desi terbaring dengan luka yang cukup parah. Sementara di luar, polisi tengah menunggunya. Tapi setidaknya, setelah ia “menebus” dosanya, masih ada suami yang menungguinya. Setelah itu, Desi mesti hidup jujur membayar segala cinta yang diberikan oleh suaminya.

Manusia bukanlah pembaca pikiran manusia lainnya. Yang ada, hanyalah menebak. Itulah yang dilakukan Desi ketika “menjebak” cinta Swara untuk menikahinya. Ia mengira dengan mengatakan hamil, maka Swara akan menikahinya. Lalu, untuk membayar “cinta” Swara, ia akan “melahirkan” bayi yang katanya ada di rahimnya. Desi menebak dengan bayi itu, cinta Swara akan berlipat ganda. Sebaliknya, jika kebohongannya ia buka, maka cinta Swara akan musnah. Dan Desi tidak tahu untuk apa lagi hidupnya.

Swara pun menjanjikan sebuah kesetiaan untuk Desi. Ia menyadari, apa yang dilakukan Desi adalah untuk menebus cintanya. Desi menginginkan kehidupan percintaan mereka sempurna. Menikah dan memiliki anak, kehidupan keluarga yang diimpikan semua pasangan. Swara pun demikian. Semoga saja, saat Desi “lulus” nanti, impian mereka segera terwujud. (*)

Aktivitas Penuh Tanpa Keluh

Saya sering mendengar keluhan dari sesama ibu hamil tentang berat badan yang melonjak drastis. Ada yang naik sampai 20 kilogram. Sehingga usai melahirkan yang dipikirkan hanyalah cara menurunkan berat badan.

Bersyukur, dalam dua kali kehamilan ini saya tidak mengalami hal itu. Hamil Kinanti, berat badan saya hanya naik 7 kilogram. Penyebabnya, saya mual-muntah hingga usia kehamilan 7 bulan. Saya sampai mencatat jenis makanan yang menjadi pencetus mual-muntah itu. Telur dan susu berada di peringkat teratas. Selanjutnya makanan tak sehat seperti fast food, makanan instan, dan minyak goreng yang dipakai berulang-ulang. Saya pun sampai minta dokter tidak memberi suplemen atau obat-obatan karena saya tidak dapat memakannya.

Berat badan saya justru baru naik berlipat-lipat saat menyusui. Tiap selesai menyusui, nafsu makan meluap-luap. Pakaian-pakaian pun kian sesak.

Kehamilan adik Kinan pun tak jauh beda. Saya start hamil dengan berat 62 kilogram. Sempat naik 1 kilogram dan bertahan beberapa bulan. Berat badan naik lagi hingga 64,5 kilogram di usia kandungan 7 bulan. Namun saat usia 8 bulan, pada pemeriksaan terakhir, malah turun 2 kilogram. Untungnya berat badan bayi normal di usianya: 2.025 gram.

image

Padahal mual-muntah hanya dialami di 2 minggu awal kehamilan. Semua makanan bisa masuk. Jadi aneh rasanya bila berat badan saya seperti sekarang. Dokter kandungan saya di RS Santosa, Robert Hendrik Siahaan, justru mengatakan lebih baik kenaikan berat badan tidak terlalu tinggi. Selain bisa mengganggu aktivitas sehari-hari (kaki bisa bengkak, sesak napas), berat badan berlebih bisa menyulitkan kelahiran. “Yang penting, berat badan bayinya yang tercukupi,” kata dia.

Meski berat badan tergolong “biasa-biasa saja”, perut saya sudah muncugug. Kondisi yang tidak terjadi pada kehamilan Kinan. Kebanyakan orang justru tidak menyadari saya hamil. Tapi sekarang, hmmm, jalan saja sudah ngageang. Membalikkan badan saat tidur pun amat perlahan penuh perasaan. Namun rasa pegal tidak banyak terasa. Hanya sekarang, urat kaki sering murungkut.

Mungkin ini memang proses yang menyenangkan di hamil kedua. Saya tidak boleh banyak tidur, sering beraktivitas karena harus sekaligus menjaga Kinan. Saya malah tidak merasa sedang hamil. Semua kegiatan tidak ada yang dibeda-bedakan.

Pembantu resign

Aktivitas saya di trimester ketiga ini justru lebih padat. Pertengahan Desember 2013, pembantu tiba-tiba menyatakan tidak akan melanjutkan bekerja di rumah. Dia beralasan, mesti menjaga ibunya di Sumedang. Anehnya, pada tetangga, dia bilang tidak sanggup menjaga dua anak. Padahal adik Kinan pun belum lahir dan saya belum membicarakan hal itu dengannya.

Saya kabulkan keinginannya. Dalam pikiran saya, untuk apa mempertahankan orang yang tidak ingin bekerja bersama Anda. Nantinya pekerjaannya pun akan asal-asalan. Karena tugas utama dia menjaga anak saya, saya tidak ingin dia asal-asalan mengasuh anak saya.

Ternyata, tanpa pembantu hidup tidak hancur kok! Di rumah, semua membagi tugasnya. Tugas pokok saya, mengasuh Kinan. Selebihnya, mencuci piring, memasak, membersihkan kamar pribadi, dan soal mencuci biasanya duet dengan suami. Pekerjaan seperti menyapu, mengepel, terkadang dilakukan suami. Bahkan suami juga memandikan Kinan kalau saya tengah dikejar deadline.

Kalau saya bekerja pun, Kinan bisa dititip ke mertua, adik ipar, atau kakak sepupu. Tapi kalau pekerjaan tidak terlalu merepotkan, Kinan saya bawa. Lumayan, mengenalkan dia dengan pekerjaan Ambunya.

Sebulan tanpa pembantu, Alhamdulillah, pekerjaan terurus baik di kantor maupun di rumah. Meski terkadang merasa pekerjaan rumah itu tidak ada jedanya, he he! Seperti cucian yang kering belum disetrika, sudah menumpuk calon cucian baru.

Ahhh.. saya tak perlu mengeluh dengan kondisi tanpa pembantu ini. Hikmahnya, gaji pembantu bisa dipakai kebutuhan lain seperti beli susu dan popok, hi hi! Saya yakin, saat adik Kinan lahir, Tuhan akan mengirim orang yang membantu saya. (*)

Plis, Don’t Burn My Heart

Kalau hati terbakar itu rasanya gimana gitu… apalagi kalau dari hati merambah hingga ke leher. Meni ngagogotrok! Namun, rasa terbakar ini hanya terjadi setelah saya hamil. Padahal rasa pedasnya tidak seberapa, tapi dampaknya bisa sampai dua hari, loh!

Saya sempat bingung bagaimana mengobatinya, karena akibatnya membuat saya tidak nyenyak tidur. Tiap satu jam sekali saya terbangun karena rasa panas yang menyeruak dari dada hingga ke tenggorokan. Lalu, iseng-iseng saya mencari tahu penyebab dan solusinya.

Rasa panas di dada atau heartburn adalah suatu kondisi yang dirasakan oleh ibu hamil berupa rasa panas atau terbakar di daerah dada. Tapi hal itu tidak perlu dikhawatirkan karena tidak ada hubungannya dengan gangguan jantung (di awal saya juga sempat berpikir mungkinkah saya memiliki gangguan pada jantung saya). Penyebabnya sendiri, makanan yang sudah berada di lambung terdesak ke arah kerongkongan akibat rahim yang semakin membesar. Akibatnya, timbul iritasi pada dinding kerongkongan, karena makanan sudah bercampur dengan asam lambung yang bersifat asam.

Kemudian, bagaimana cara mengatasinya?

Dalam laman htttp://ayahbunda.co.id disebutkan ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi heartburn di antaranya dengan mengkonsumsi makanan dalam jumlah sedikit, namun sering. Lebih baik makan 5-6 kali dalam porsi kecil daripada tiga kali sehari dalam porsi besar. Selanjutnya, menghindari makanan berlemak, berbumbu tajam, mengandung kafein atau minuman bersoda,  yang dapat memicu heartburn. Cara lainnya, jangan berbaring sehabis makan, tunggulah minimal dua jam setelah makan besar. Anda boleh duduk atau setengah duduk atau jalan-jalan. Terakhir yang bisa dilakukan jika heartburn dirasakan adalah mencoba berbaring dengan posisi dada lebih tinggi dari perut atau dengan meletakkan bantal pengganjal pada bagian punggung. Posisi tidur ini akan menghambat gerak masuknya asam lambung ke kerongkongan.

Sayangnya saya belum mencoba cara-cara itu. Saya hanya menyeruput teh manis panas dan berdoa semoga panas di dada segera mereda. Saya pun bisa tertidur dengan  nyenyak. ***

Sedikit Takut, Banyak Senangnya

“Teh, takut engga ngadepin melahirkan?”…Agak takut sih, tapi lebih banyak senangnya, jawab saya beberapa minggu lalu. Ternyata pertanyaan itu muncul karena adik saya sempat melihat betapa beratnya perempuan hamil menggembol perutnya kemana-mana. Dia membayangkan betapa sakit dan menakutkannya mengeluarkan gembolan itu.
Memang berat ko, membawa-bawa gembolan ini. Ha ha, meskipun lebih berat menggendong tas yang isinya kamera SLR dan laptop, tapi kan kalau berat bisa diturunkan. Nah, kalau bayi dalam perut, mana bisa! Wajar kalau keluhan semacam pegal pinggang jadi langganan. Saya pun sejak kandungan berumur tujuh bulan dipijat rutin seminggu sekali. Rasanya maknyoossss!
Nah, balik lagi soal melahirkan, saya belum bisa membayangkan. Gejalanya saja enggak saya kenali, walau rajin membaca. Saya masih bingung  membedakan mules melahirkan atau sekadar hasrat buang air besar, walaupun usia kandungan mulai memasuki 38 minggu. Yang pasti, saya terus rajin mengajak #cikal berkomunikasi agar bisa bekerja sama saat melahirkan nanti. Semoga semuanya berjalan lancar!