Menua Sederhana

“Ingin menjadi seperti apa saat kita menua?”

Itu tema yang saya susun di #tantanganmenulis #julingeblog tanggal 12. Demi menjawab pertanyaan itu, saya harus berpikir jauh ke depan. Berpikir melampaui langkah-langkah 32 bidak di papan catur. Berpikir untuk puluhan tahun mendatang di mana Tuhan bermurah hati memberikan umur panjang. 

Sederhana sebenarnya jawaban pertanyaan itu. Saya harus lebih bermakna seiring pertambahan usia. Bermakna bagi diri saya sendiri utamanya. 

Di usia tua saya, ingin melihat anak-anak mampu mencapai keinginannya. Memiliki kehidupan yang ‘layak’ lahir dan batin. 

Saya ingin menua bersama suami saya. Berjalan pagi bersama sambil bergenggaman taman. Merawat kebun kecil di depan rumah. Memasak makanan yang menyenangkan perut. Sesekali pergi menonton ke bioskop. 

Di akhir pekan, ada anak-anak dan keturunannya yang menjenguk kami. Merencanakan liburan bersama. Atau sekadar membakar singkong di halaman rumah. Mungkin berkemah bersama. 

Tidak ada yang lebih menyenangkan dari bersama dengan keluarga. Jika berkaitan dengan keluarga, tidak heran kalau saya akan sangat egois. ***

Advertisements

Lalu, Bingung!

Tema #tantanganmenulis #julingeblog hari ini sangat berat. Saya belum bisa memilih lima tempat yang ingin saya kunjungi. 

Kenapa? 

Karena bukan tempat yang jadi persoalan. Saya ingin mengunjunginya bersama suami dan anak-anak saya. Saya ingin bersama mereka ketika menikmati tempat-tempat tersebut. Karena dimana pun saya berada, tempat terindah adalah bersama keluarga tercintah!

Jadi di skip dulu cerita ini, ya! 

Mungkin nanti, besok atau lusa, saya bisa menyebutkan kemana saya ingin bermain bersama keluarga saya. 

Hari ini, mari menyibukkan diri dengan mampir ke kantor, memasak, dan menerima tamu calon besan! Yippi, hajat maning!***

Priceless

Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Apalagi memimpin banyak orang. Mengatur dan menyamakan pemikiran ribuan kepala itu memerlukan keterampilan. Tapi, hal itu selalu tampak mudah bagi orang yang sepertinya diberikan keistimewaan untuk memiliki banyak pengikut.

Fumio Kindaichi, tokoh rekaan dalam sebuah dorama Jepang “Priceless” memiliki jiwa kepemimpinan itu. Ia memiliki banyak pengikut. Bahkan 1.507 pegawai di perusahaan kakak tirinya saja rela resign demi menjadi follower Kindaichi. Mustahil, kan? Ya iya, karena itu hanya kisah rekaan.

Kisah leadership yang minim romance itu setidaknya pasti terinspirasi oleh kisah nyata seseorang. Saya lanjut lagi, ya, ceritanya. Kindaichi semula bekerja di perusahaan ayahnya yang kemudian dipimpin kakak tirinya setelah sang ayah meninggal. Padahal pemilik Miracle Thermos itu justru akan memberikan perusahaan pada Kindaichi. Sebelum meninggal, pada anak sulungnya, ia berbisik. Bahwa, hanya Kindaichi yang pantas menjadi direktur penerus.

Seakan menantang wasiat ayahnya, yang hanya diketahui anak sulung dan asistennya, roda perusahaan ia jalankan. Kerja pertamanya, mendepak Kindaichi dengan tudingan mencuri rahasia perusahaan. Tidak cukup, apartemen Kindaichi pun dibakar.

Kindaichi jatuh miskin. Ia tinggal di kontrakan murah yang tarifnya 500 yen sehari. Demi 500 yen, Kindaichi kerja apa saja mulai dari memulung botol dan gelas plastik hingga pelayan restoran udon dan ramen.

Di perusahaan yang memecatnya, ada staf keuangan, Nikaido yang mengusut dugaan pencurian oleh Kindaichi. Ia malah dipecat dan kemudian tinggal bersama Kindaichi. Setelah Nikaido, manajer marketing Moai menyusul. Mereka bertiga tinggal di satu kamar yang hanya muat satu kasur besar.

Untuk bertahan hidup, mereka memulai usaha jualan hot dog. Bermodalkan roda hadiah mantan bos udon Kindaichi dan hot dog bikinan bos ramen, bertiga berjualan di depan Miracle Thermos. Saat itu, namanya berubah Miracle Electronics dan tak lagi berjualan termos. Semua prototipe termos dibuang. Semua perusahaan mitra diputuskan kontraknya.

Kindaichi lalu berniat menjual termos. Dengan bantuan modal dari rekan ayahnya, ia berhasil memproduksi 200 termos yang mampu menahan panas air hingga dua hari. Laku? Tidak. Harganya terlalu mahal. 60.000 yen.

200 termos itu terpaksa digudangkan. Dimana lagi, selain di kontrakan mereka yang sesak itu. Tapi satu termos hilang. Ternyata dibeli seorang jurnalis pereview produk. Artikelnya membuat Kindaichi kewalahan dengan pesanan.

Ia kemudian merangkul mantan mitra Miracle Electronics yang dibuang. Lebih dari 10 perusahaan memproduksi Happiness Thermos. Tidak mampu memproduksi sesuai target, satu perusahaan mitra berniat mundur. Bukannya merelakan, Kindaichi malah berniat membubarkan perusahaan yang baru dirintisnya itu.

“Saya ingin membuat termos bersama keluarga. Bukan hanya profit,” begitu alasannya.

Dengan bantuan mitra lain, mitra yang berniat hengkang itu kembali. Di saat pesanan membludak, muncul masalah baru. Kakak tirinya mengajukan gugatan atas hak paten termos yang diproduksi. Tidak usah melihat angka ganti rugi, Kindaichi akan segera bangkrut. Karena saat gugatan diajukan, produksi harus berhenti.

Keputusan Kindaichi mengejutkan lagi, ia meminta kakaknya menarik gugatan. Ia berikan Happiness Thermos. Asalkan, kakaknya mau meneruskan dan tetap memakai mitra-mitranya. Kakaknya sepakat lalu mengingkarinya. Itu yang akhirnya menghilangkan kepercayaan ribuan karyawannya.

Kali ini giliran kakak Kindaichi menyerahkan perusahaan tanpa karyawan pada Kindaichi. Meski semua karyawan memihak Kindaichi, tetap sulit mengembalikan kepercayaan mitra dan publik. Kindaichi tetap pada obsesinya membuat termos. Kali ini, yang tahan tiga hari panasnya. Suksesnya? Mungkin saja. Karena saya belum menyelesaikan tontonan itu.

Mungkin sedikit pemimpin yang memiliki pengikut loyal. Dan banyak pemimpin yang hanya ingin tampak ‘wah’ sebagai pemimpin. Demi impian baru, rela melepaskan mitra dan anak buah yang selama ini sudah seperti keluarga. Ada juga pemimpin yang tidak mau tahu dengan ketidakmampuan mitranya. Mitra dipaksakan bekerja tanpa batas padahal semua ada batasnya.

“Kita bukan robot,” kata salah satu karyawan yang memulai aksi resign.

Karena ada yang priceless dari sebuah pekerjaan: ikatan kekeluargaan. (*)

Kencan yang Gagal

Sabtu malam lalu, seharusnya jadi tontonan bioskop pertama Kinan. Dia begitu antusias ketika dikabari bakal nonton di bioskop. Kinan memberondong Abah dan Ambu dengan pertanyaan soal bioskop. Dan kami pun sebagai orang tuanya mewanti-wanti hal yang mungkin membuatnya kaget seperti kondisi bioskop yang gelap gulita saat film akan diputar.

Empire XXI di Bandung Indah Plaza jadi pilihan. Kedekatan lokasi dengan kantor Ambu jadi pertimbangan. Seperti biasa, setelah rutinitas “Sabtu bersama Abah”, kami akan mampir ke kantor Ambu, untuk absensi.

image

Saat itu hujan. Tapi Kinan tetap semangat. Dia bahkan tidak sabar menuju bioskop. Bagi kami, usia Kinan yang baru tiga tahun, saat yang tepat memperkenalkannya pada bioskop. Wawasannya tentang perbedaan sensasi menonton di bioskop harus mulai ia rasakan.

Ambu mah baru kenal bioskop kelas 2 SMA. Kondisi keuangan orang tua tidak memungkinkan mengajak anaknya ke bioskop. Di kelas 2 itulah, Ambu sudah memiliki yang lebih untuk hiburan. Uang itu diperoleh dari keuntungan berjualan surabi di sekolah. Film yang ditonton di bioskop Kepatihan itu Titanic.

Kembali ke film perdana Kinan, ternyata kami harus kecewa. Kursi di jadwal pukul 16.50 WIB sold out. Jadwal berikutnya pukul 21.00 WIB, waktu tidur malam anak. Kami pun batal mengantar Kinan menonton film pertamanya di bioskop. Dan, kami harus bersiap manakala Kinan menagihnya.

Oh iya, film yang akan kami tonton itu adalah The Good Dinosaur. Berdasarkan beberapa review, film itu merupakan gambaran lain dunia dinosaurus. Saya mengutip dari liputan6.com.

Di film besutan Pixar itu, dikisahkan kalau dinosaurus masih utuh hingga hari ini, karena asteroid yang membuat mereka punah 65 juta tahun lalu hanya melintasi permukaan bumi tanpa menabraknya. Alhasil, dinosaurus pun memiliki peradabannya sendiri meskipun tak ada perkembangan berarti dalam hal teknologi dan sebagainya.

Kisah pun lalu berfokus pada seekor petani Apatosaurus bernama Henry yang hidup bahagia bersama istrinya, Ida. Dari situ, mereka memiliki tiga orang anak, yaitu Libby, Buck, dan Arlo.

Setelah disuguhi oleh kebahagiaan keluarga kecil itu, pikiran kita difokuskan kepada Arlo, si bungsu yang berharap bisa membuat ayahnya bangga dengan menyelesaikan tugas-tugasnya. Kegagalan yang selalu menghantui Arlo pun membuatnya merasa tak berguna di keluarga.

Beruntung, sang ayah sangat baik kepada Arlo hingga suatu ketika mereka menemukan sesosok pencuri makanan yang kabur dari rumah. Dalam melakukan pengejaran terhadap sang pencuri, sesuatu terjadi pada Arlo hingga membuatnya tersesat jauh dari rumah.

Arlo pun akhirnya menemukan teman barunya, anak manusia primitif yang ia beri nama Spot. Alhasil, Arlo pun harus menemukan jalan kembali pulang ke rumah sambil ditemani oleh Spot yang sedang hidup sendirian.

Sementara menurut CNN, The Good Dinosaur menjadi pilihan absolut bagi keluarga yang butuh tontonan bersama. Animasi terbaru dari Pixar itu meraup US$56 juta atau Rp775 miliar selama lima hari libur. Meski angka itu besar, itu masih mengecewakan bagi Pixar.

Animasi yang dirilis Pixar selalu berhasil menjadi hiburan tersukses untuk segala usia. Namun The Good Dinosaur menduduki peringkat sebagai debut paling mengecewakan ke-tiga sepanjang sejarah Pixar. Meski tidak menyebut biaya produksi, diprediksi film itu dibuat dengan US$200 juta atau Rp2,7 triliun.

Apalagi itu film yang sempat bermasalah. Penayangannya tertunda dua tahun, dan sutradara Bob Peterson ditarik dari tim produksi karena penyalahan kesepakatan kreatif. Ia akhirnya digantikan Peter Sohn.

Sayangnya, kami masih belum menonton dan masih penasaran. Di antara pembaca, ada yang sudah menonton? (AB)***

Jatuh Cinta Setiap Hari

Sudah sering saya mendengar teman atau kerabat yang memutuskan berpisah dalam arti bercerai.  Persoalan ekonomi dan ketidakcocokan jadi pangkal masalah.
Saat ini,  saya dan suami memang hidup terpisah.  Pekerjaan yang menasibkan kami seperti sekarang.  Tapi,  itu tidak berarti hubungan kami tidak utuh.
Kabar buruk tentang perpisahan muncul dari seorang kawan.  Saat tahu hal itu,  saya berpikir keras apa yang jadi penyebabnya.  Bukan hanya soal perpisahan si kawan,  tapi juga perpisahan pada umumnya. 
Ketika dua orang lain jenis memutuskan menjadi pasangan,  karena ada ketertarikan satu sama lain.  Ketertarikan itu juga yang akhirnya membawa mereka ke pelaminan. Sebulan,  dua bulan,  hubungan masih rasa pengantin baru.  Lalu lahir anak,  kesibukan bertambah.  Sang ayah mesti mencari tambahan penghasilan karena anggota keluarga bertambah.  Bila si istri turut bekerja,  kedekatan suami istri akan berkurang. 
Tapi bagi saya itu secara fisik saja.  Secara psikologis,  meskipun terpisah,  tetap bisa saling menguatkan. 
Dari apa yang saya lihat,  alasan terbesar pasangan memutuskan berpisah adalah mereka sudah tidak jatuh cinta lagi.  Coba diingat ketika awal pacaran,  persiapan menjelang apel atau diapelin itu sangat dahsyat.  Baik yang lelaki atau perempuan,  memoles diri agar tampak menawan di depan pasangannya.  Mereka ingin membuat pasangannya kian jatuh cinta.
Namun,  apa yang terjadi ketika sudah menikah?  Tidak sedikit dari mereka yang melupakan itu.  Tidak jarang seorang istri hayang memakai daster tanpa riasan di wajahnya. Begitu pun yang lelaki,  mereka membiarkan diri seadanya karena pasangan akan selalu menerima apa adanya.
Akibatnya mereka lupa rasanya jatuh cinta.  Dan ketika melihat pasangannya berdandan berbeda,  malah dituduh yang tidak-tidak. 
Saya yang kini harus terbiasa tidak bertemu suami,  sedemikian cara membuat suami kembali jatuh cinta saat bertemu.  Karena saya yakin,  itulah yang akan menguatkan sebuah hubungan.  Meskipun sudah beranak dua,  sesekali tidak apa berkencan berdua saja,  nonton atau sekadar makan malam.  Semua akan terasa luar biasa.
Kalau rekan yang lain,  apa yang biasa dilakukan agar pasangan kita selalu jatuh cinta?