Selezat Apa Sih Ramen?

Jujur, saya tak pernah tergoda dengan ramai riuhnya makanan sejenis ramen. Nyatanya, berburu ramen yang berceceran di Bandung, tidak ada yang menggetarkan lidah saya (*emangnye gempa pake menggetarkan segala). Intinya ramen, ya, biasa saja buat saya.

Tapi kata-kata, harga memang tidak menipu, saya rasa tidak salah. Harga ramen yang umum di Bandung sekitar Rp 20 ribuan, rasanya gak beda tuh dari mie instan. Beda yang harganya dua atau tiga kali lipatnya. Yah, setidaknya soal rasa lebih mewah dari mie instan. Karena itu tadi, saya gak tau rasa ramen asli buat perbandingan.

Cuman kalau dari penampilan, gak kalah lah sama ramen dari negeri asalnya. Tetap ada narutokumo, telur rebus, dan daun bawang.  Foto yang saya tampilkan di sini diambil waktu nyicip ramen di Shin Men Japanese Resto, Mall Paris van Java.

image

Piring pun Tak Mau Meminjamkan

Ditolak saat liputan, mah, sering. Sakit hati? Enggak, tuh! Cuman baru kemarin, saya bela-belain merayu sang manajer demi sebuah resep. Namun, ternyata rayuan saya sia-sia. Dengan alasan ia akan dipecat jika membagi resep, saya pun luluh.
Tapi, tidak berarti saya harus menyerah meminta izin memotret tahu di Raja Rasa Restoran. Pikir saya, dengan cara yang sopan, saya harus meminta izin. Lagi-lagi, ditolak. Alasannya sama. Terus saya mesti gimana?
Tahu yang akan dipotret itu kan saya bayar. Berarti sudah hak saya, itu tahu mau saya gimanain. Si manajer jawab, “Ya, pinter-pinter mbak aja.”
Okelah, kalo begitu. Tapi, kalau memotret seadanya, gambar si tahu akan mati, karena piring dan mejanya sewarna dengan tahu. Beuh, saya kudu ‘mengemis’ lagi demi sebuah piring. Tahukah apa jawaban si manajer selain “tidak bisa”? Dia menyarankan itu tahu dibungkus, bawa pulang, dan potret di rumah. Oalahhhh…untungnya fotografer kantor, Krisna ternyata inisiatif membawa piring dari rumah. Dalam hati, saya sudah kesal. Dikasih kesempatan promosi gratis, malahan begitu. Sudah gitu, tahunya biasa-biasa aja tuh…

image