Menua Sederhana

“Ingin menjadi seperti apa saat kita menua?”

Itu tema yang saya susun di #tantanganmenulis #julingeblog tanggal 12. Demi menjawab pertanyaan itu, saya harus berpikir jauh ke depan. Berpikir melampaui langkah-langkah 32 bidak di papan catur. Berpikir untuk puluhan tahun mendatang di mana Tuhan bermurah hati memberikan umur panjang. 

Sederhana sebenarnya jawaban pertanyaan itu. Saya harus lebih bermakna seiring pertambahan usia. Bermakna bagi diri saya sendiri utamanya. 

Di usia tua saya, ingin melihat anak-anak mampu mencapai keinginannya. Memiliki kehidupan yang ‘layak’ lahir dan batin. 

Saya ingin menua bersama suami saya. Berjalan pagi bersama sambil bergenggaman taman. Merawat kebun kecil di depan rumah. Memasak makanan yang menyenangkan perut. Sesekali pergi menonton ke bioskop. 

Di akhir pekan, ada anak-anak dan keturunannya yang menjenguk kami. Merencanakan liburan bersama. Atau sekadar membakar singkong di halaman rumah. Mungkin berkemah bersama. 

Tidak ada yang lebih menyenangkan dari bersama dengan keluarga. Jika berkaitan dengan keluarga, tidak heran kalau saya akan sangat egois. ***

Musim Liburan

Ini musim liburan. Bandung jadi tujuan banyak orang untuk liburan. Pake angkutan umum, no problemo! Yang penting piknik. 

Tapi, untuk saya yang biasa naik angkutan umum ini, musim liburan sering kali bikin kekotoran dan kejorokan di area publik dan transportasi umum. Gak cuma saya saja yang hampir jadi korban kena cipratan muntahan.
Enggak anak-anak, orang dewasa pun banyak yang masih mabuk kendaraan. Pening pala bebie! Percaya deh, di tas mereka, biasanya ada perbekalan keresek untuk menampung muntahan. Hoeks!

Masih bagus, ya, yang bekel keresek. Nah, ada yang maen sembur sembarangan. Angkutan umum kita belum canggih. Belum diciptakan lantai kendaraan yang waterproof. Kalau sengaja berhenti untuk mengepel bekas muntahan, bisa hilang pendapatan satu rit. 

Selain kotor, baunya itu, loh, keangin-angin. Bahkan, aromanya bisa memancing penumpang lain untuk ikutan muntahan. 

Tiba-tiba, saya membayangkan, diciptakan angkutan yang menyiapkan penampung muntah di pintu masuk. Saat masuk, ada mesin yang mesti dipencet. Ketika memencet “+keresek”, maka tarif yang dikenakan akan berbeda dengan tarif normal. Atau ada khusus kursi untuk yang terbiasa muntah. Di ruangan itu, disiapkan amunisi pencegahan dan antisipasi muntah. Aroma terapi, minyak gosok, dan wastafel, ha…ha…! Angkutan umum yang kayak gitu, berapa ya, tarifnya? Gak mungkin Rp 3.000, deh!