Kipas Angin Murah


Gambar di atas itu adalah kipas angin. Ada yang membantahnya? Pasti tidak, kan! Karena dengan jelas terpampang nyata kalau itu adalah kipas angin. 

Gambar di atas itu bukan air conditioner. Meskipun sama-sama bersumberkan tenaga listrik dan fungsinya yang sama yakni mengademkan, harganya jauh berbeda. Air conditioner harganya bisa jutaan. Tapi kipas angin ada yang di bawah Rp 100 ribu. Persis seperti di gambar yang saya unggah itu. 

Kalimat saya berikutnya tidak akan membahas perbedaan atau persamaan kipas angin dengan alat pendingin lainnya. Kipas angin ini adalah dampak pembelajaran saya dari kelahiran anak pertama. 

Begini, ya, dua kali saya melahirkan di rumah sakit Santosa, saya selalu kebagian ranjang yang berdekatan dengan pintu. Tapi sangat jauh dari air conditioner yang hanya dinyalakan pada malam hari. Sementara siang hari dimatikan. Akibatnya, saya kepanasan. 

Buat ibu-ibu yang baru melahirkan pasti tahu betapa gerahnya kondisi setelah melahirkan. Memakai baju yukensi pun tiada makna. Keringat tetap bercucuran. 

Di kelahiran pertama, tidak terpikir untuk menyiapkan kipas angin. Alasannya sederhana: belum tahu sikon pascamelahirkan. Di kelahiran kedua, lupa menyiapkan. Alasannya: tidak tahu akan kebagian posisi ranjang seperti apa. Layaknya pesawat semestinya tanya ke petugas waktu booking kamar perawatan kamar melahirkan dimana posisi ranjang kita. Berdekatan atau berjauhan dengan AC. 

Di kelahiran pertama, kebetulan rambut saya panjang. Dan lupa pula bawa ikat rambut, jadinya gerahnya maksimal. Saya lupa saat itu apa yang saya gunakan untuk mengikat rambut. Tapi yang pasti, si Abah yang super repot harus mengipas-ngipasi saya terutama ketika menyusui. 

Pada kelahiran kedua, suami saya tidak menemani di malam pertama saya menginap di rumah sakit. Dia harus menyelesaikan tugasnya mengubur ari-ari. Saya yang tidur sendirian dan tak bisa bergerak karena setelah operasi sesar dilarang bergerak selama 12 jam, pasrah dengan hawa panas. 

Baru saat Abah datang, saya menginstruksikannya untuk segera membeli kipas angin kecil. Saya ogah harus gebergeber kertas untuk mengusir panas. Segera Abah mencari informasi tetap berburu kipas angin yang murah meriah. Setelah dapat informasi, Abah bingung dengan rutenya. Beruntung berhasil ditemukan dan ia pun menenteng kipas yang harganya hanya Rp 90 ribu itu. 

Kipas angin itu saya pakai seharian. Karena pada malam hari, angin dari AC tidak sampai ke ranjang saya. Tak peduli kalau akan masuk angin. Yang penting tidak kegerahan. 

Saat pulang, kipas angin itu tidak lupa saya kemas ke dalam kardusnya. Ia difungsikan kembali untuk mengipasi daging domba akikah. Setelah selesai, kembali ke kardusnya. 

Kipas angin itu hanya bertahan 12 bulan dalam kardus. Pasalnya ketika kami hijrah ke rumah Ibu, kami tiba-tiba tidak tahan dengan udaranya. Hawa dingin Lembang yang sudah terbiasa kami rasakan. 

Kipas angin mirip kincir yang dipaku di tembok tidak bertahan lama. Jadi kami kembali pada kipas ini yang usianya sama dengan anak bungsu saya 2 tahun 5 bulan. Dengan perawatan yang rutin, saya yakin akan awet. So, buat yang akan menginap di rumah sakit, saran saya, bawalah kipas angin kecil. Siapa tahu butuh?

Tidak Nyaman? Nikmati saja!

Pernah dengar kalimat, duit mah moal ngabobodo (uang tidak akan membohongi)? Maksudnya, Anda akan mendapatkan barang dengan kualitas yang bagus bila berani membayar harga yang mahal. Kalimat itu ada benarnya. Mungkin.

Tapi bisa saja tidak sepenuhnya benar. Dua kali saya dirawat karena melahirkan mendapatkan fasilitas tidak jauh beda. Padahal kamarnya beda kelas, loh! Melahirkan yang pertama pada 2012, saya memilih kamar kelas 2. Dalam satu ruangan terdiri dari tiga kamar tidur. Ada satu kamar mandi di dalam, satu televisi, dan satu air conditioner. Sedangkan melahirkan anak kedua saya memilih kelas 3. Dengan ruangan dua kali lebih besar dari kelas 2, diisi 6 tempat tidur. Ada dua televisi, dan satu air conditioner.

Harganya pasti berbeda. Beda kelas, kan! Tapi ada dua kesamaannya. Pertama, posisi tempat tidur saya selalu paling jauh dari air conditioner. Kedua, saya selalu sekamar dengan pasien yang berisik.

image

Saya yang terbiasa hidup di Lembang dengan udara yang dingin pasti tertekan dengan kondisi jauh dari AC. Saya yang hanya bisa telentang meminta suster mencarikan kertas agak tebal untuk saya jadikan hihid. Setiap meminta suhu AC diturunkan, suster selalu beralasan, pasien lain akan kedinginan. Ternyata AC baru dinyalakan saat menjelang tidur. Huhhh!

Akhirnya pada hari ketiga, suami saya menyerah. Ia pun mencari kipas angin. Lebih baik keluar uang untuk kipas angin dari pada harus bobolokot kesang.

Masalah kedua soal “keberisikan”. Waktu melahirkan Kinan, saya dan suami susah tidur. Kami sengaja membawa Kinan rawat gabung. Jadi, seharian kami mengurus Kinan. Belajar menjadi orang tuanya sejak awal ia datang ke dunia.

Rupanya, tetangga sebelah juga “mengangkut” bayinya seperti kami. Setiap malam, tangis keduanya bersahut-sahutan. Akibatnya, kami kurang tidur. Kami pun menyerah dan meminta jadwal kepulangan dimajukan.

Kali ini, yang jadi masalah adalah dengkuran si tetangga. Di malam pertama, saya benar-benar tidak bisa tidur. Suami istri itu ngorok bersahut-sahutan. Jangankan saya, pasien di ujung yang baru masuk pun sampai berteriak minta dengkuran dihentikan. 

Kalau orang mengobrol, bisa menghentikannya dengan cara ditegur. Tapi, yang ngorok.. jangan harap deh!

Pasien di sebrang saya, yang ribut justru penunggunya. Suaranya yang keras membuat saya menguping isi pembicaraannya. Saya sempat merasa beruntung ketika si pasien menegur mereka dan menyuruh melanjutkan obrolannya di luar. Tapi, tidak lama kemudian, gantian si pasien yang berisik dengan ngobrol via telfon genggamnya. Hadeuhhhh

Yang paling menyebalkan adalah penjenguk pasien yang mengomel soal dengkuran. Sudah penjenguknya banyak, bawa anak pula, dan berisiknya minta ampun. Belum lagi ada penjenguk yang rupanya ogah rugi bila tidak menonton Indonesian Idol. Di kamar rawat, televisi dinyalakan dengan volume cukup kencang hingga membuat si bayi menangis. Eh, dengan enteng dijawab, “Biarin nangis juga, biar paru-parunya kuat. Kan, dari tadi tidur aja.”

Duh, dia pikir itu kamar cuma milik dia sendiri. Belum lagi komentar yang berderet menanggapi penampilan para finalis spektakuler. Kasian banget si cici yang baru operasi empedu yang mesti menderita dobel nyeri. Ya di perut, ya di telinga.

Memang itu sih risiko berbagi kamar dengan pasien lain. Selain berbagi kenyamanan, kami, para pasien juga mesti berbagi kamar mandi dengan non-pasien. Padahal jelas-jelas di pintu tertempel tulisan “khusus pasien”. Saya mesti antri lama untuk ke kamar mandi karena dipakai mandi oleh para penunggu pasien.

Buat saya, jika pelayanan dokter tidak ada perbedaan antara kelas bawah, menengah, dan atas, untuk apa harus menginap di kamar yang mahal. Lagipula, saya tidak sakit. Saya hanya melahirkan. Dan saya tidak akan berada lama di rumah sakit. Jadi, sesekali merasa tidak nyaman, ya, dinikmati saja, deh! (*)

Malam Pertama yang Sempurna

Baru selesai mandi, nih! Mumpung Kian lagi tidur (kerjaan bayi usia kurang dari seminggu, kan, begitu) dan Kinan anteng main, yu, dilanjut cerita kemarin. Yah, beginilah kalau tengah cuti lama. Dari pada saat kerja nanti malah gagap, lupa cara merangkai tulisan, mending rajin nge-blog. Me time gitu lah!

Bagian 2: Pas Sectio

Meskipun ini operasi sectio saya yang kedua, tapi saya merasa seperti kali pertama melahirkan. Waktu melahirkan Kinan, awalnya memang berencana secara normal. Tapi dua hari diobservasi, rasa mulas tidak pernah nongol. Padahal, saya sudah diinduksi secara mekanik, sampai induksi kimia (yang dimasukkan via infus), mulas tak juga terasa. Saya kesal tak terkira ketika bidan bertanya apakah saya sudah mulas atau belum.

Saya tidak tahu rasa mulas melahirkan seperti apa. Yang ada hanyalah rasa panas di bagian pinggang belakang. Bahkan saya sampai menggigil karena dosis obat induksi yang terus ditambah. Sementara bukaan saya mentok di bukaan 6.
image

Nah, saat akan melahirkan Kian yang direncanakan sectio, saya malah merasakan mulas. (Duh, ngedongeng aja kepotong mulas yang tak kunjung ada hasilnya alias sembelit). Sejak mobil melaju di wilayah Punclut mulas itu saya rasakan. Memang jarak antara satu mulas dengan mulas lainnya tidak berdekatan dan durasinya cukup pendek. Tetapi sesampainya di rumah sakit, mulas itu kian sering.

“Bu, ini kan kontraksi alami. Jadi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu nikmati saja,” kata dokter bagian anastesi.
Saya memang berusaha menikmati mulas yang baru saya rasakan sekarang. Oh, ini toh mulas melahirkan itu. Memang nikmat walau sakitnya kian tak tertahan.

Saya merasakan mulas yang cukup panjang sebelum dioperasi. Rencana operasi yang semula dijadwalkan pukul 12.15 siang mundur hingga pukul 1 siang. Operasinya sendiri baru dilangsungkan pukul 2 siang. Bisa dibayangkan saya merasakan mulas sejak pukul 9 pagi.

Kemunduran jadwal operasi dari pukul 12.15 siang menjadi pukul 1 siang karena si Abah, suami saya salah mengurus administrasi. Dia salah meja saat mendaftarkan saya. Akibatnya, proses input data pun terhambat.

Saya dipindah dari ruang Kala di lantai 4 ke ruang operasi di lantai 3 sekitar pukul 1 siang. Sempat menunggu beberapa waktu di ruang persiapan. Lalu, saya dimasukkan ke ruang operasi. Hanya sekitar tiga orang yang saya lihat di ruang operasi. Dokter-dokter yang akan mendampingi saya terlambat datang. Mungkin karena jadwal operasi yang tiba-tiba dan sempat salah komunikasi tadi.
image

Padahal saya sudah bulucun. Sambil menahan dingin, saya melihat sekeliling. Satu per satu dokter datang. Sekitar setengah jam di ruang operasi, dokter anastesi lalu menyuntikkan sebuah suntikan yang cukup menggigit di bagian belakang pinggang saya. Rupanya itu biusan lokal yang membuat saya mati rasa dari pinggang ke bawah.

Operasi sendiri berjalan sejak pukul 2 siang. Saya mendengar dalam keadaan sadar sekali apa yang terjadi. Semua terasa berjalan lambat. Saat sectio pertama semua berjalan cepat. Mungkin karena saya terlalu lelah dengan proses melahirkan normal. Di operasi kedua, saya ditidurkan seperti di operasi pertama. Bedanya, di yang kedua saya terbangun masih di ruang operasi. Saya melihat di sebuah kaca buram proses penyelesaian operasi. Hmmm.. tampak perut saya yang masih berlumuran rrrr, darah!

Setelah itu, saya berharap segera dibawa ke kamar perawatan. Ternyata, harapan saya cuman harapan. Saya terjebak hingga 1,5 jam di ruang pemulihan. Sambil dihangatkan, saya sempat tertidur dua kali. Hampir magrib, baru saya dijemput oleh suster dari kamar perawatan.

Di kamar perawatan, saya menjadi patung hidup. Hanya bisa berbicara dan bernapas. Saya harus telentang hingga 24 jam. Dan semalaman saya ditinggal suami yang harus pulang untuk mengubur ari-ari si bayi. Semalaman pula saya terjaga karena tetangga di kasur sebelah tidur dengan jawab-jawaban dengkuran. Malam pertama yang sempurna di kamar yang bertarif Rp 185.000 per malam. (*)

Sedikit Takut, Banyak Senangnya

“Teh, takut engga ngadepin melahirkan?”…Agak takut sih, tapi lebih banyak senangnya, jawab saya beberapa minggu lalu. Ternyata pertanyaan itu muncul karena adik saya sempat melihat betapa beratnya perempuan hamil menggembol perutnya kemana-mana. Dia membayangkan betapa sakit dan menakutkannya mengeluarkan gembolan itu.
Memang berat ko, membawa-bawa gembolan ini. Ha ha, meskipun lebih berat menggendong tas yang isinya kamera SLR dan laptop, tapi kan kalau berat bisa diturunkan. Nah, kalau bayi dalam perut, mana bisa! Wajar kalau keluhan semacam pegal pinggang jadi langganan. Saya pun sejak kandungan berumur tujuh bulan dipijat rutin seminggu sekali. Rasanya maknyoossss!
Nah, balik lagi soal melahirkan, saya belum bisa membayangkan. Gejalanya saja enggak saya kenali, walau rajin membaca. Saya masih bingung  membedakan mules melahirkan atau sekadar hasrat buang air besar, walaupun usia kandungan mulai memasuki 38 minggu. Yang pasti, saya terus rajin mengajak #cikal berkomunikasi agar bisa bekerja sama saat melahirkan nanti. Semoga semuanya berjalan lancar!