Ketipu Guide (#ujunggenteng almost last day)

Waktu di #ujunggenteng, kami gunakan jasa guide nih. Keren ya. Hehe, enggak juga. Sebenarnya dia ditugaskan oleh narasumber utama kami mengantar kami kemana-mana. Dan dia selalu siap. Pokoknya siaga!

Kami panggil dia, Kang Ade. Dari awal ketemu, orangnya seriusan banget. Jadi mau dibecandain juga khawatir kesinggung. Ternyata kami yang malah ketipu. Dia itu bisa juga becanda dengan candaan yang selalu kami anggap serius. Dem, ketawanya aja kita butuh waktu lama. Takjub!

Tokek
Waktu di penginapan suara tokek emang selalu ada jelang tidur. Nah, Kang Ade cerita, dulu ada yang menawar seekor tokek sampe semiliar karena setiap bersuara, “tokek, tokek,” merduuu sekali. Si pemilik tokek pun berbahagia. Dengan uang semiliar, bisa beli rumah, sawah, dan pokoknya dia jadi kayaaaaa banggettt. Tapi ketika hari pembayaran tiba, si calon pembeli mendadak membatalkan perjanjian. Dia bilang, waktu semalam dia coba cek suara tokek, yang keluar bukan “tokek”, tapi malah, “teko”. Buyar deh mimpi kayaknya!

Ayu Azhari
Di mobil dengan jalan yang cukup menyiksa, Kang Ade kembali bercerita. Padahal ini cerita ketiga di mobil, loh. Tapi tetep kami ketipu. Kata Kang Ade, kalo Ayu Azhari jadi wakil bupati tentu Sukabumi menjadi maju. Kami pikir dia cerita soal perbaikan infrastruktur karena saat bercerita kami tengah melintasi jalan yang jelek sekali. Dugaan ini salah. Dia bilang juga wisatawan pasti tambah banyak yang datang. Wah, pasti Ayu Azhari bawa artis syuting di Sukabumi, kayak Dicky Chandra. Dugaan ini salah juga. Kang Ade bilang, penyu yang bertelur tidak akan selalu muncul malam hari, kalo Ayu Azhari menjabat. Penyu-penyu itu pasti mau datang dan bertelur di siang hari. Pastinya wisatawan semakin banyak yang datang buat nonton. Jawabannya, “Ayu Azhari juga gak malu kan bubulucunan di pantai. Masak penyu kalah”. #jleb #tertipu #lagi

Sedekah Polisi
Nah cerita ini adalah cerita pertama di mobil waktu melintasi pos retribusi. Kang Ade bilang ada pengemis yang pernah berdoa meminta pada اَللّهُ agar diberikan uang Rp 100 ribu. Siangnya ada polisi yang memberikannya uang Rp 50 ribu. Si pengemis bukannya senang, dia malah tidak lagi mau mempercayai polisi. Sorenya dia berdoa kembali. “Ya اَللّهُ, kalo memang engkau mau memberikan hamba rejeki, jangan lewat tangan seorang polisi. Lihatlah, uang yang saya minta itu Rp 100 ribu, tapi si polisi malah memberikan Rp 50 ribu. Pasti yang Rp 50 ribu sisanya dia yang simpan”. #tepokjidat #usapmeja #gigit-gigitpintu

Jangkrik Punah
Dalam perjalanan, kami melihat mobil Suzuki Katana. Gue yang emang lagi ngimpi pengen punya mobil gaya-gaya offroad, langsung deh membahasnya. Ternyata si kang Ade juga punya cerita soal si mobil. Pokoknya gue #ketipu lagi deh. Kata dia, di Cianjur mah mobil kayak gitu langka karena banyak ayam. Udah tau maksudnya? Pasti belom. Sama. Otak gue belum bisa sejenius dia yang menghubungkan mobil offroad sama ayam. Begini penjelasannya –> ayam itu senang mematuk jangkrik. Nah, mobil offroad kan sering disebut jangkrik. Jadi kalo ada jangkrik (mobil) di Cianjur, pasti abis dipatuk ayam. Untuk cerita ini, lama banget gue mencernanya alias #gagalfaham.

But eniwei buswei, kang Ade, situ emang guide yang keren deh. Kalo abis becanda dengan muka demikian, pengen banget gue suntrungin ke Karang Bolong.***

Advertisements

Masaknya 90 Rebu! (Ujung Genteng #day 3)

Kebelet seafood berlanjut. Masih tetep kepengen udang dan cumi-cumi. Guide kami yang rajin mencarikan hingga ke tempat pelelangan ikan. Dapet udang dan cumi-cuminya?

Awalnya enggak sik. Yang ada cuma ikan-ikan besar yang harganya mahal. Masak sekilonya nyampe Rp 200 rebu. Trus seekornya beratnya hampir 2,5 kg. Ujubuneng, uang dines bisa cepet ludes deh. Tapi bener sik, orang sabar tuh, disayang banget sama Tuhan. Tiba-tiba ada nelayan lewat jinjing udang ama cumi-cumi. Dia baru turun dari perahu. #Sesuatubanget nih, الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِين yaaaa..

Tu udang sama cumi, harganya Rp 60 rebu. Sebanding deh. Yang jadi masalah, siapa yang masaknya.

Akhirnya dicobalah minta tolong ke koki rumah makan untuk memasakkannya. Jauh dari perkiraan, ongkos jasa masaknya, mahal bennneeerrrr! Rp 90 rebu bo! Lebih mahal dari bahan bakunya. Karna dah nanggung dimasakkin dan takutnya kalo ga mau bayar itu cumi-cumi dan udang disandera, dibayar deh!

Rasanya sih enak. Bahkan bisa sampai dimakan pas sarapan ama makan malam esok harinya. Tapi dalam hati tetep dendam deh ama tuh koki. Untung gue gak tau koki mana yang masakkin! **

Serba Kurang Garam (Ujung Genteng #day 2)

Malem kedua ini, pengen deh nyobain hasil tangkapan laut kayak lobster atau kepiting. Tapi itu cuma ngimpi karena lobster atau kepiting tidak ada di tempat pelelangan ikan. Kedua hewan itu mesti dibudidayakan di tambak.

Karena kebelet makan ikan laut, kami pesan deh, ke rumah makan Barokah. Yang ada cuma ikan bawal dan cumi. Itu pun harganya selangit. Gue gak inget berapa harga bawal, yang pasti beratnya 8 ons. Terus, harga cumi mentahnya untuk seporsi Rp 30 ribu. Ya sudah, karena dah kepengin, dipesan saja, plus tumis kangkung.

Menunggu sekian lama sampai nafsu makan sebenarnya hampir sirna, akhirnya makanan yang dipesan datang. Eing ing eng, tampilannya kok kurang menarik lambung ya. Soal rasa, alamakkkk, kok kurang garam semua.

Ikan bawal bakar <– nih ikan kayaknya waktu digoreng cuma diolesin mentega doang, karena rasanya gak ada sarinya sedikit pun, alias dingin.

Cumi goreng tepung <– ini cumi apa kelamaan di kulkas ya. Soalnya alotnya persis sandal jepit. Asin? Gak pisan!

Tumis kangkung <– nah, udah gak ada rasa asin, terus gak dikasih potongan cengek. Padahal dalam pesanan kita sebutin itu kok!

Jujur, gue belum pernah nyobain rumah makan lain ya. Keburu ilfil. Tapi gue gak recommended beli di rumah makan itu. Mending pilih-pilih lagi dan tawar sebelum dibeli. Oh ya, di rumah makan Barokah itu juga ada pondokannya, tapi harganya selangit dan berisik! ^__^