Happy 5th Anniversary

Tanggal 23 April tahun ini, tepat di hari Sabtu. Seperti tanggal 23 April lima tahun lalu. Tidak terasa.

Sabtu lima tahun lalu, waktu saat ini, waktu Ambu dan Abah melepas lelah menjadi Raja-Ratu sehari. Memang melelahkan karena pekerjaan kami seharian hanya duduk, berdiri, bersalaman, lalu duduk, berdiri, bersalaman, hingga tamu habis. Tapi itu gerbang kami untuk hidup dengan segala kompromi.

Kami berikrar untuk saling menjaga hingga seumur hidup kami. Kami tahu tidak akan mudah menjalaninya. Sepanjang waktu perjalanan pernikahan kami, akan ada banyak batu kerikil yang mungkin berbara yang harus kami injak. Terkadang salah satu di antara kami hampir menyerah untuk melaluinya, tapi niat kami untuk terus bersama terus menguatkan kami.

Lima tahun bukan waktu yang pendek. Kami bertahan dengan dua buah hati. Kami belajar terus seumur pernikahan kami.

Kompromi. Itu yang kami masih pelajari. Sulit meredam ego masing-masing. Tidak mudah mengalah pada pasangan. Selalu ada pemikiran harus ada yang menang dan kalah.

Tapi pernikahan tidak seperti itu. Kompromi harus terus dilakukan sepanjang pernikahan kami.

Hhhm… merangkai kata untuk lima tahun pernikahan juga termasuk langkah yang sulit dilakukan. Karena, setelah lima tahun ini, kami harus lebih kuat menghadapi lima tahun berikutnya dan lima tahun berikutnya hingga malaikat maut menjemput salah satu di antara kami.

Karena sangat sulit, maka akan lebih mudah bila Ambu mengutip lagu Sheila on 7 yang menggambarkan masa depan pernikahan kami.

Saat aku lanjut usia
Saat ragaku terasa tua
Tetaplah kau selalu di sini
Menemani kami bernyanyi

Saat rambutku mulai rontok
Yakinlah ku tetap setia
Memijit pundakmu hingga kau tertidur pulas

Genggam tanganku saat tubuhmu terasa linu
Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu

Kita lawan bersama dingin dan panas dunia
Saat kaki tlah lemah kita saling menopang

Hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati, sampai jumpa di kehidupan yang lain

Saat perut kita mulai buncit
Yakinlah kita tetap yang terseksi
Tetaplah kau selalu menanti
Nyanyianku di tempat ini.

Happy 5th Anniversary, Bah! Love you always till the end!

Advertisements

Babi Ngepet

Saya bukanlah ibu yang senang merayakan ulang tahun anak secara mewah.  Apalagi di usia anak di bawah tiga tahun,  terkadang malah planga-plongo mengamati orang yang menyanyikan lagu ulang tahun.  Tapi sebagai orang tua,  sesekali merayakan tak apa meureun.  Asalkan tetap dalam konsep HEMAT.

Sekarang,  anak pertama saya hampir tiga tahun.  Enggak sering,  sih,  datang ke acara ulang tahun.  Tapi,  mungkin dari tontonan televisi dia agak mengerti apa itu ulang tahun.

“Inan,  kalau ulang tahun nanti,  umur Inan berapa?” saya membuka percakapan di sela-sela acara kongkow mini family. 
“Tiga!”
“Mau dikasih kado ulang tahun apa?”
“Kue aja.”
“Terus,  kado apa lagi?”
“Pake lilin,  ya.”

Rupanya aktifitas kami merayakan ulang tahun hanya membeli kue selalu dia ingat.  Di keluarga kecil kami,  siapa pun yang ulang tahun,  cukup dibelikan kue bolu dan dipasangi lilin sejumlah usianya.  Saya terkadang nebeng di kue bolu Inan karena tanggal ulang tahun kami hanya terpaut sehari.

Siapa pun yang ulang tahun,  Inan pasti kebagian meniup lilin tersering.  Padahal tiup lilin itu hanya ritual untuk kebutuhan foto lalu mengunggahnya ke media sosial.  Buat narsis saja!

Obrolan saya dan Inan tentang ulang tahun berlanjut.  Kali ini,  tentang ulang tahun Abah dan Ambunya.

“Inan,  kalau Abah dan Ambu ulang tahun,  Inan mau kasih kado apa?”
“Babi!”
“Oh,  babi frozen,” karena akhir-akhir ini dia suka dengan apa pun yang berbau frozen.
“Bukan forozen.  Babi ngepet!”

Beuh,  dia akan memberikan kami hadiah babi ngepet.  Anak seumur dia,  mana tahu apa itu babi ngepet.  Istilah itu saja dia tahu karena sesekali menonton sinetron “Emak Ijah Pengen Ke Mekkah” yang semakin tidak jelas juntrungan ceritanya. 

Cerita yang awalnya tentang mimpi si Emak Ijah yang ingin ke Mekkah berubah menjadi ratapan korban banjir manakala saat itu Jakarta memang dilanda banjir.  Cerita lalu berubah menjadi tentang babi ngepet setelah Zaki Demonk ingin cepat kaya.  Harusnya saat itu judul sinetron diubah menjadi “Zaki Demonk Kepengen Jadi Kaya”.

Usaha Zaki ditiru oleh Si Jabrig dan Mak Rita.  Satu per satu penghuni kampung pun meninggal dijadikan tumbal.  Termasuk Emak Ijah.  Tumbal-tumbal lainnya pun menjadi budak Bunda Ratu penguasa babi ngepet.

Tapi,  di kampung saya,  babi ngepet itu memang ada.  Ibu saya sering kehilangan uangnya meski jumlahnya tidak besar.  Dari satu gepokan uang,  selembar uang lima puluh ribuan saja yang raib.  Tapi bila dijumlah dari 10 rumah saja,  semalam beroperasi,  si babi sudah mengantongi Rp 500 ribu.

Konon,  tidak hanya seorang yang memelihara babi di kampung kami.  Rupa ngepetannya pun tidak hanya babi.  Ada pula monyet.

Satu tetangga di kampung yang diduga memelihara monyet ngepet itu memang sangat cepat kaya.  Usahanya yang memproduksi kerudung diyakini beberapa orang didukung oleh usaha ngepet.  Hanya beberapa bulan membuka usaha,  dia mampu membeli beberapa rumah dan mobil.

Ia pun rajin bersedekah.  Tapi kecurigaan tetangga-tetangga di kampung tidak berhenti karena kebaikannya pada tetangganya yang kaya mendadak itu.  Apalagi,  setelah kaya,  pasangan suami istri itu tak lagi menyantap daging hewan.  “Saat ada sukuran di rumahnya,  mereka hanya makan sayur,” omongan miring tetangga yang beredar.

Padahal,  mungkin mereka hijrah menjadi vegetarian demi hidup lebih sehat.  Soal usahanya,  mungkin sukses menerobos pasar luar negeri juga.  Atau kekayaannya berasal dari pinjaman di bank.  Siapa tahu, kan!

Lagipula,  tidak ada cerita tetangga-tetangga di kampung kami yang meninggal bergiliran dijadikan tumbal.  Meski belum terbukti secara sah,  warga di kampung kami berbagi tips menghindari copetan babi ngepet.  Katanya,  uang digulung lalu dimasukkan ke dalam plastik.  Ikat plastik hingga tidak ada udara di dalamnya.  Ampuh atau tidak,  mana saya tahu!  (*)

I’m 30 and not alone anymore

Selamat Ulang Tahun buat si gue yang ke-30. Ternyata dah nginjak kepala tiga, hi hi! Semoga di usia yang semakin berkurang ini, bisa tetap cantik dan bijaksana, he he!

Eniwei, mau cerita sedikit nih soal foto di atas. Itu tuh, ada maknanya loh, walau sebenarnya, c dd yang maksa pengen di foto di kue ulang tahun hadiah dari ibunya, Melinda Aish. Jadi setiap ditanya siapa yang ulang tahun, dia jawab, “Wa Dewi!”, tapi ketika ditanya siapa yang akan tiup lilin, “Dede,” jawabnya.

Nah, kalo soalnya maknanya sih masih tetap soal jiwa muda. Jadi meskipun usia sudah kepala tiga, tapi jiwa dan semangat belajarnya masih antusias kayak c dd yang baru berusia tiga tahun. Eh, ternyata sama-sama kepala tiga kita ini ya, dd!…

Oks deh, teman doakan si gue ya sukses dalam rumah tangga dan kerja. Bisa menjadi istri dan ibu yang baik (kelak), juga bisa terus bekerja sesuai kemampuan. Amin…